Gegara Drone, Banyak Sniper Ukraina Jadi ''Menganggur''
- Vyacheslav Kovalskiy pernah menjadi sosok yang paling disegani di medan perang. Pada akhir 2023, penembak jitu alias sniper dari pasukan khusus Ukraina ini mencatatkan rekor dunia setelah berhasil menembak seorang perwira Rusia dari jarak hampir 4 kilometer.
Namun saat ini, senapan laras panjangnya lebih banyak tersimpan di gudang.
Selama lebih dari satu setengah tahun terakhir, Kovalskiy belum pernah lagi melepaskan tembakan di medan tempur. Tugas barunya kini adalah menjadi asisten bagi para pilot drone.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran besar dalam taktik perang di Ukraina, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Rabu (13/5/2026).
Kehadiran pesawat nirawak atau drone yang murah dan efektif mulai menggeser peran-peran tradisional militer, termasuk posisi elit penembak jitu.
Baca juga: Rusia Perbesar Pabrik Drone Bergaya Shahed, Pasok Senjata ke Iran
Efisiensi drone menggeser dominasi sniper
Bagi Kovalskiy, realitas di palagan perang telah berubah total. Jika dulu dia adalah pusat perhatian dalam setiap operasi, kini peran tersebut telah berpindah tangan.
"Dulu saya adalah sniper dan semua orang 'menari' di sekitar saya. Sekarang, pilot drone-lah yang menjadi pusatnya, dan semua orang, termasuk saya, 'menari' di sekelilingnya," ujar Kovalskiy.
Menurut personel divisi kontra-intelijen militer dari Dinas Keamanan Ukraina (SBU) ini, alasan peralihan tersebut sangat sederhana: drone jauh lebih efektif dan murah.
Senjata nirawak memiliki keunggulan yang tidak dimiliki manusia, seperti jangkauan visual yang lebih luas, kemampuan manuver yang lincah, serta sifatnya yang bisa dikorbankan.
Baca juga: Jerman Kembangkan Sistem Prisai Anti-Drone untuk Antisipasi Sabotase
Jika misi gagal, kerugian yang ditanggung hanyalah sebuah alat seharga ribuan dollar, bukan nyawa prajurit yang tak ternilai.
Perubahan ini juga dirasakan oleh seorang sniper militer Ukraina dengan nama panggilan "Ivanhoe".
Pada 2022, dia bertugas memantau pergerakan musuh dan mengarahkan serangan artileri, sebuah proses yang memakan waktu tiga hingga lima menit.
Kini, tugas itu diambil alih sepenuhnya oleh drone.
"Operator drone melihatnya, dan serangan terjadi hampir secara langsung," kata Ivanhoe, yang kini juga telah beralih profesi menjadi operator drone.
Baca juga: Peluang Damai AS-Iran Menyempit akibat Perang Drone di Lebanon
Tantangan berat di medan perang modern
Kehadiran drone tidak hanya mengambil alih peran sniper, tetapi juga membuat tugas penembak jitu yang tersisa menjadi jauh lebih berbahaya.
Di medan perang saat ini, hampir tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Teknologi pencitraan termal pada drone mampu mendeteksi panas tubuh manusia, bahkan jika seorang sniper telah menemukan tempat persembunyian yang paling tertutup sekalipun.
Selain itu, mobilitas sniper sangat terbatas karena mereka harus membawa peralatan berat dan berjalan kaki hingga berkilo-kilometer untuk menghindari deteksi.
Kovalskiy menceritakan pengalamannya pada musim gugur lalu. Timnya sempat memantau tentara Rusia di sebuah bunker, namun dia tidak bisa menembak karena tidak memiliki bidikan optik untuk kondisi gelap.
Akhirnya, drone-lah yang menyelesaikan tugas tersebut dengan mengebom bunker tersebut.
Baca juga: Sniper Hantu Ukraina Klaim Rekor Dunia, Bunuh Tentara Rusia dari Jarak 4 Km
Sniper tidak sepenuhnya hilang
Meski perannya berkurang, beberapa pihak menilai sniper tetap memiliki posisi krusial dalam situasi tertentu.
Komandan unit sniper Ukraina, Coyote, menegaskan bahwa penembak jitu tetap dibutuhkan untuk mempertahankan posisi dan menghadapi infiltrasi musuh.
Sebagai contoh, pada musim panas 2024 di kota Toretsk, unitnya berhasil menewaskan 16 tentara Rusia dalam sebuah penyergapan yang luput dari pantauan drone.
Selain itu, sniper memiliki keunggulan karena dapat beroperasi di segala cuaca, sementara drone sering kali kesulitan saat kondisi berawan atau berkabut.
Baca juga: Sniper Hantu Ukraina, Diklaim Tembak Tentara Rusia Sejauh 4 Km
Ilustrasi prajurit Ukraina meluncurkan drone dalam perang dengan Rusia.
Pihak Barat, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris, juga menyatakan belum akan meninggalkan pelatihan sniper.
Juru bicara Kementerian Pertahanan AS Letkol Vonnie L Wright, menyebutkan bahwa militer AS terus memperbarui kurikulum mereka untuk menghadapi era drone.
"Sniper manusia adalah aset yang krusial, tidak dapat diganggu sinyalnya (unjammable), dan memiliki jejak nol di medan perang modern," tegas Wright.
Bagi Kovalskiy, meski perannya kini lebih banyak membantu navigasi dan merakit bahan peledak untuk drone, ada satu hal yang tidak dia rindukan dari pekerjaan lamanya sebagai penembak jitu, yaitu membunuh.
Baca juga: Lewat “Moon Sniper”, Jepang Berhasil Jadi Negara Kelima yang Mendarat di Bulan
Tag: #gegara #drone #banyak #sniper #ukraina #jadi #menganggur