Gegara Tomahawk AS Batal Ditempatkan di Jerman, Berlin Gandeng Ukraina
Penulis: Nina Werkshauser/DW Indonesia
Semula, masalah ketiadaan rudal jarak menengah di militer Jerman dianggap sudah beres.
Sampai Jerman mengembangkan sistemnya sendiri, Amerika Serikat berkomitmen menutup kekosongan itu.
Washington berencana menempatkan rudal jelajah Tomahawk di wilayah Jerman.
Baca juga: Ketar-ketir Diancam Trump, Kanselir Jerman Bantah Penarikan Pasukan AS Terkait Iran
Dengan jangkauan hingga 2.500 kilometer, rudal ini—dalam skenario konflik—mampu menjangkau wilayah Rusia. Tujuannya jelas: memberi efek gentar agar Moskwa berpikir dua kali sebelum menyerang Jerman.
Sebagai perbandingan, rudal Taurus milik Bundeswehr hanya memiliki jangkauan maksimum sekitar 500 kilometer.
Kesepakatan penempatan senjata AS dibuat pada 2024 oleh Kanselir Jerman saat itu, Olaf Scholz, dan Presiden AS Joe Biden.
Penempatannya direncanakan dimulai tahun ini. Ia dianggap sebagai solusi sementara, hingga Eropa berhasil mengembangkan sistem senjata sejenis.
Namun rencana itu kini kandas. Presiden AS Donald Trump —yang berseteru dengan Kanselir Friedrich Merz usai dikritik soal perang Iran—membatalkan kebijakan pendahulunya.
Keputusannya itu datang bersamaan dengan rencana penarikan sedikitnya 5.000 tentara AS dari pangkalan militer di Jerman.
Celah pertahanan
Bagi Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius, pembatalan dari Gedung Putih itu menciptakan celah dalam pertahanan nasional.
Amerika sebelumnya tidak hanya berencana menempatkan rudal Tomahawk, tetapi juga sistem pertahanan udara SM-6 serta senjata hipersonik yang mampu melaju berkali-kali lipat dari kecepatan suara dan menjangkau jarak sangat jauh.
Kombinasi persenjataan itu akan memberi militer AS kemampuan melancarkan serangan presisi jarak jauh—kapabilitas yang hingga kini belum dimiliki Jerman.
Penempatan sistem tersebut dimaksudkan sebagai penyeimbang terhadap persenjataan Rusia.
Moskwa sejauh ini telah menempatkan rudal Iskander, yang dapat dipersenjatai nuklir, di Kaliningrad di tepi Laut Baltik—wilayah yang terjepit antara Polandia dan Lituania.
Dari sana, rudal-rudal itu mampu menjangkau Berlin dan sejumlah wilayah Eropa. Rusia juga menempatkan rudal jarak menengah Oreschnik di Belarus, yang juga bisa membawa hulu ledak nuklir.
Kini Pistorius berupaya mencari cara untuk menutup celah itu secepat mungkin. Dalam strategi militer terbaru, Bundeswehr ditargetkan segera memiliki kemampuan melancarkan "deep precision strikes”—serangan presisi ke sasaran jauh di wilayah belakang lawan.
Targetnya bisa berupa pusat komando, pangkalan udara, simpul logistik, hingga pabrik senjata.
Langkanya senjata jarak menengah di Eropa
Pembatalan dari Washington kembali menegaskan betapa pertahanan Eropa masih sangat bergantung pada Amerika Serikat.
Jerman bersama mitra Eropa sedang mengembangkan senjata jarak menengah sendiri melalui inisiatif European Long-Range Strike Approach (ELSA). Namun sistem itu diperkirakan baru siap pada pertengahan 2030-an.
Bagi kalangan militer, waktu itu terlalu lama. Pakar militer dan penasihat kebijakan Nico Lange menulis di platform X bahwa satu-satunya cara menutup celah penangkalan saat ini adalah mempercepat pengembangan rudal jelajah berbasis darat yang diproduksi di Jerman dan tidak bergantung pada Amerika Serikat.
Perang Iran menguras stok AS
Kehancuran di Kota Arad, lokasi serangan rudal Iran yang menghantam dua kota di Israel pada Minggu (22/3/2026) dini hari, dan melukai lebih dari 100 orang.
Sejauh ini belum ada keputusan apakah senjata tersebut akan diproduksi di Jerman. Namun perusahaan pertahanan Rheinmetall diperkirakan bisa memainkan peran penting.
Opsi lain yang dipertimbangkan Kementerian Pertahanan adalah membeli rudal Tomahawk langsung dari Amerika Serikat.
Baca juga: Siap Bersih-bersih Selat Hormuz, Jerman Kirim Kapal Penyapu Ranjau Ke Mediterania
Masalahnya, militer AS sendiri tengah mengalami lonjakan kebutuhan. Dalam perang Iran, Washington menembakkan ribuan rudal—termasuk Tomahawk—sehingga kapasitas untuk ekspor diperkirakan terbatas.
Meski demikian, Pistorius belum menyerah. Dalam kunjungannya ke Washington pada akhir Mei, ia berencana kembali menyampaikan minat Jerman membeli sistem tersebut.
"Kami sudah mengajukan permintaan resmi sekitar satu setengah tahun lalu untuk dapat mengimpor Tomahawk dari Amerika. Jawabannya masih kami tunggu,” kata politikus SPD itu kepada televisi ZDF.
"Namun terus terang, melihat situasi global saat ini, saya tidak terlalu optimistis.”
Jerman juga menyatakan minat membeli peluncur rudal Typhon buatan raksasa pertahanan Amerika Lockheed Martin. Namun hingga kini Pentagon belum memberikan tanggapan.
Alternatif: Drone jarak jauh
Ada pula opsi lain untuk menutup sebagian celah kemampuan itu: drone jarak jauh.
Meski daya hancurnya tidak sebesar rudal jelajah seperti Tomahawk, tapi biaya produksinya jauh lebih murah. Jerman berencana mengembangkan sistem teknologi drone bersama Ukraina.
Kerja sama antara kedua negara difokuskan pada pengembangan sistem nirawak modern untuk berbagai jarak operasi, termasuk kemampuan deep strike.
Pistorius menyebut drone yang dikembangkan bisa memiliki jangkauan hingga 1.500 kilometer.
Ukraina—yang sejak Februari 2022 bertahan dari invasi Rusia—kini dianggap sebagai salah satu negara paling maju dalam penggunaan drone tempur.
Kolaborasi dalam pengembangan senjata jarak jauh ini menjadi ironi tersendiri. Setelah sebelumnya menolak mengirimkan rudal Taurus ke Ukraina sebagai bantuan militer, kini Jerman justru bekerja sama dengan Kyiv untuk memproduksi senjata yang mampu menjangkau target yang bahkan lebih jauh.
Baca juga: Tak Cuma Tarik Pasukan, AS Batal Tempatkan Tomahawk di Jerman, Imbas Ketegangan Kanselir Merz-Trump?
Artikel ini telah dimuat di DW Indonesia dengan judul Tanpa Tomahawk AS, Jerman Gandeng Ukraina Perkuat Pertahanan.
Tag: #gegara #tomahawk #batal #ditempatkan #jerman #berlin #gandeng #ukraina