Trump Desak Iran Akur dengan Israel, Mojtaba Khamenei Balas Ancaman Keras
- Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei mengatakan, keberadaan Israel tak akan lama lagi.
Hal ini diungkapkannya dalam sebuah pernyataan tertulis yang disiarkan oleh televisi pemerintah pada Selasa (26/5/2026).
"Israel juga mendekati tahap akhir keberadaan mereka yang menyedihkan," ujarnya, dikutip dari Tasnim, Selasa.
"Sesuai dengan kata-kata tegas dari pemimpin kita yang telah menjadi martir (Ali Khamenei) sepuluh tahun lalu, mereka tidak akan bertahan hingga 25 tahun setelah tanggal itu," sambungnya.
Baca juga: Qatar Bantah Tawar Iran Rp 200 T untuk Damai dengan AS, Sebut Ada Upaya Sabotase
Tak hanya itu, ia menegaskan bahwa negara-negara di Timur Tengah tak akan lagi menjadi tameng bagi pangkalan Amerika Serikat.
"Yang pasti dalam hal ini adalah bahwa waktu tidak akan berputar mundur dan bangsa-bangsa serta wilayah-wilayah di kawasan ini tidak akan lagi berfungsi sebagai tameng bagi pangkalan-pangkalan AS," jelas dia.
Menurutnya, AS kehilangan pengaruh di kawasan itu dan semakin menjauh dari statusnya yang dulu.
Baca juga: AS-Iran di Ambang Damai, Israel Justru Ketakutan
Trump ajak Iran gabung Abraham Accords
Pesan-pesan Mojtaba Khamenei muncul beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump ingin menjadikan kesepakatan damai untuk mempeluas normalisasi hubungan negara-negara Muslim dengan Israel melalui Abraham Accords, termasuk Iran.
Abraham Accords merupakan rangkaian perjanjian yang dimediasi pemerintahan Trump pada 2020 untuk menormalisasi hubungan diplomatik Israel dengan sejumlah negara yang sebelumnya bermusuhan dengan Tel Aviv.
Ia mendesak sejumlah negara Muslim di Timur Tengah dan kawasan lain untuk menyelesaikan perselisihan mereka dengan Israel sebagai bagian dari kesepakatan besar pascaperang Iran.
Baca juga: Dari Vietnam hingga Iran, Kenapa Strategi Perang AS Dinilai Kerap Gagal?
Menurutnya, negara-negara yang ikut dibahas dalam pembicaraan tersebut antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turkiye, Mesir, Yordania, dan Bahrain.
“Setelah semua kerja yang dilakukan Amerika Serikat untuk menyatukan teka-teki yang sangat rumit ini, seharusnya wajib bagi semua negara ini, setidaknya secara bersamaan, menandatangani Abraham Accords,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Sosical, Senin (25/5/2026).
“Itu harus dimulai dengan penandatanganan segera oleh Arab Saudi dan Qatar, dan semua negara lain harus mengikuti. Jika tidak, mereka seharusnya tidak menjadi bagian dari kesepakatan ini karena itu menunjukkan niat yang buruk,” sambungnya.
Baca juga: Selat Hormuz Mau Dibuka Setelah AS-Iran Damai, Bebas Biaya Transit
AS serang Iran
Ilustrasi perang AS vs Iran
Sebelumnya, AS juga telah melancarkan serangan militer ke lokasi peluncuran roket dan kapal Iran yang disebut sedang mencoba untuk menebar ranjau di Selat Hormuz.
Washington menyatakan, serangan itu merupakan tindakan defensif di tengah berlangsungnya gencatan senjata dan pembicaraan damai antara kedua negara.
Komando Pusat Militer AS (Centcom) menuturkan, operasi tersebut dilakukan untuk melindungi pasukan Amerika dari ancaman militer Iran.
Baca juga: Meski Jet Tempur AS Hancurkan Kapal Iran, Menlu AS Optimistis Damai
“Komando Pusat AS terus membela pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung,” kata Juru Bicara Centcom, Kapten Tim Hawkins, dikutip dari The Wall Street Journal, Selasa.
Meski demikian, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menuturkan, kesepakatan potensial untuk mengakhiri perang kemungkinan akan berlangsung dalam beberapa hari.
“Ada beberapa pembicaraan yang berlangsung di Qatar hari ini, jadi kita akan lihat apakah kita bisa membuat kemajuan," ujarnya.
"Saya pikir ada banyak pembicaraan bolak-balik tentang bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi akan memakan waktu beberapa hari,” tambahnya.
Tag: #trump #desak #iran #akur #dengan #israel #mojtaba #khamenei #balas #ancaman #keras