Sumpah Serapah Terucap, Hubungan Trump-Netanyahu di Ujung Tanduk
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kanan) saat bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) dalam jamuan makan malam di Ruang Biru, Gedung Putih, Washington DC 7 Juli 2025.(GETTY IMAGES NORTH AMERICA/ANDREW HARNIK via AFP)
08:12
3 Juni 2026

Sumpah Serapah Terucap, Hubungan Trump-Netanyahu di Ujung Tanduk

– Hubungan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan retak parah. 

Trump disebut-sebut melontarkan kata-kata kasar kepada Netanyahu dalam sebuah panggilan telepon, bahkan menyebutnya "gila".

Mengutip laporan outlet berita Axios dan ABC News, Trump meluapkan kemarahannya kepada Netanyahu terkait ancaman Israel untuk mengebom ibu kota Lebanon, Beirut. 

Baca juga: Trump Minta Netanyahu Tahan Diri, tapi Bom Israel Tetap Hujani Lebanon Selatan

Trump khawatir tindakan tersebut akan merusak jalannya negosiasi damai dengan Iran, sebagaimana dilansir AFP, Rabu (3/6/2026).

Kejadian ini semakin menegaskan rapuhnya hubungan antara dua tokoh sayap kanan yang sama-sama menanggung beban politik besar akibat perang di Timur Tengah.

Makian di balik telepon

Dalam percakapan pada Senin (1/6/2026), Trump disebut Axios berteriak kepada Netanyahu dengan kalimat yang sangat keras.

"Kamu gila. Kamu sudah masuk penjara kalau bukan karena aku. Aku yang menyelamatkanmu. Semua orang benci kamu sekarang. Semua orang benci Israel karena ini," demikian kutipan yang dilaporkan Axios.

Pihak media Israel membantah laporan mengenai isi percakapan itu. 

Baca juga: AS Berupaya Damai dengan Iran, Netanyahu Masih Ingin Lenyapkan Rezim Teheran

Sementara seorang pejabat Gedung Putih memilih merujuk AFP ke unggahan Trump di Truth Social sebagai tanggapan resmi. 

Dalam unggahan tersebut, Trump justru berterima kasih kepada Netanyahu atas apa yang disebutnya sebagai kesepakatan penarikan pasukan dari Beirut dan penghentian tembakan dengan Hizbullah.

Bukan kali pertama

Meski mengejutkan, para analis menilai ketegangan semacam ini bukan hal baru.

"Ketegangan pribadi antara Netanyahu dan para presiden AS bukanlah sesuatu yang baru," kata mantan Duta Besar AS untuk Israel, Dan Shapiro, yang kini menjabat sebagai Distinguished Fellow di Atlantic Council.

"Bahkan, dia punya rekam jejak yang sempurna dalam mencapai titik frustrasi dengan setiap presiden AS yang pernah bekerja sama dengannya," imbuh Shapiro.

Baca juga: Trump: Semua Orang Membencimu Netanyahu, Kamu Benar-benar Gila

Netanyahu memang sudah tiga dekade berupaya meyakinkan para pemimpin AS untuk menyerang program nuklir Iran. 

Namun baru pada masa Trump, dia menemukan sekutu ideologis yang sejalan. 

Netanyahu disebut berperan besar dalam mendorong Trump mengambil keputusan untuk berperang pada 28 Februari, sebagaimana dilaporkan The New York Times.

Biaya politik yang kian mahal

Bagi Trump, perang yang berlarut-larut ini mulai menggerus dukungan politiknya. 

Sejumlah tokoh yang dulu berada di kubu MAGA, seperti penyiar Tucker Carlson dan mantan anggota Kongres Marjorie Taylor Greene, menuduh Trump membiarkan Israel menyeret AS ke dalam perang Timur Tengah berikutnya.

Baca juga: Netanyahu Terus Cari Cara Gagalkan Perdamaian AS-Iran, Diduga Tak Mau Perang Berakhir

"Mendukung Israel tampaknya berarti orang-orang kita akan mati," kata mantan pembawa acara Fox News, Megyn Kelly, dalam program siarnya belum lama ini.

Jajak pendapat Pew Research pada April lalu pun mencatat pergeseran signifikan.

Sebanyak 57 persen pemilih Partai Republik berusia 18 hingga 49 tahun kini memiliki pandangan yang tidak menguntungkan terhadap Israel, naik dari 50 persen tahun sebelumnya.

Dampak perang terhadap harga-harga di AS juga mengancam peluang Partai Republik dalam pemilu paruh waktu November mendatang. 

Apabila Demokrat berhasil merebut kendali Kongres, Trump berpotensi menghadapi pemakzulan untuk ketiga kalinya.

Baca juga: Trump Caci Maki Netanyahu soal Serangan ke Beirut, Hubungan AS-Israel Retak?

Netanyahu mati-matian pertahankan kekuasaan

Di sisi lain, tekanan yang dihadapi Netanyahu tak kalah berat. 

Dengan medan perang yang masih terbuka di Lebanon, Iran, dan Gaza, ditambah serangkaian dakwaan korupsi di dalam negeri, posisi Netanyahu disebut jauh lebih rentan.

"Netanyahu mati-matian mempertahankan kekuasaannya," kata Mairav Zonszein dari International Crisis Group kepada AFP.

"Trump sedang mencari jalan keluar dari situasi ini, dan ia jelas punya banyak daya tekan atas Netanyahu. Netanyahu tidak bisa begitu saja bersikap melawan Trump," sambung Zonszein.

Dia menambahkan bahwa Trump berusaha melangkah maju, sementara Netanyahu masih ingin kembali ke jalur perang.

"Di situlah letak perbedaan utama keduanya," papar Zonszein.

Baca juga: Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran

Tag:  #sumpah #serapah #terucap #hubungan #trump #netanyahu #ujung #tanduk

KOMENTAR