Lebanon Jadi ''Ground Zero'' Krusial bagi Pertahanan Iran
– Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan, masa depan negaranya berada di tangan rakyatnya sendiri, bukan di bawah kendali Iran maupun Israel.
Sikap tegas ini muncul di tengah ketegangan diplomatik akibat upaya Iran mempertahankan pengaruh di Lebanon sebagai posisi tawar dengan Amerika Serikat (AS).
Upaya Teheran tersebut kini berbenturan dengan jalur negosiasi bersejarah antara Lebanon dan Israel yang dimediasi AS untuk mengakhiri konflik perbatasan.
Baca juga: Iran dan Lebanon: Dua Front yang Tak Bisa Dipisahkan
"Kerja sama dengan Iran adalah satu hal, tetapi kami tidak menerima jika pihak Iran mendikte kami," ujar Aoun.
"Kami adalah negara yang berdaulat. Iran tidak bisa berbicara atas nama kami. Kami tidak menerima Lebanon menjadi medan perang bagi perang orang lain," lanjutnya.
Diplomasi alot di Washington
Perundingan yang berlangsung di Washington dilaporkan berjalan sangat sulit, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (11/6/2026).
Dua pejabat Lebanon mengungkapkan bahwa dalam sebuah pertemuan, ketua negosiator Lebanon, Simon Karam, sempat melakukan aksi walkout karena menilai Israel enggan memberikan konsesi.
Dialog baru dilanjutkan setelah intervensi langsung dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Wapres AS JD Vance, yang menghasilkan proposal menit-menit terakhir berkondisi terima atau tinggalkan.
Baca juga: Hukum Humaniter yang Tumbang di Lebanon Selatan
Proposal tersebut meminta Hizbullah menghentikan permusuhan dan mundur dari Lebanon selatan sebagai syarat gencatan senjata, tanpa menyebutkan penarikan pasukan Israel secara eksplisit.
Sebagai langkah tandingan, Beirut menawarkan rencana dua jalur yang berjalan simultan.
Pertama, penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah pendudukan.
Kedua, perluasan otoritas tentara Lebanon secara bertahap, dimulai dengan pembentukan "zona uji coba" di sekitar Kastil Beaufort.
Namun, rencana ini ditolak mentah-mentah oleh Hizbullah yang menyebutnya sebagai bentuk penyerahan diri.
Aoun menyayangkan sikap tersebut dan memperingatkan bahwa posisi siap perang Hizbullah justru merugikan komunitas yang mereka bela serta memperpanjang konflik yang telah meletus sejak 2 Maret lalu.
Baca juga: Presiden Lebanon Murka Iran Terlalu Ikut Campur: Ini Bukan Negara Kalian
Strategi ground zero Iran
Bagi Teheran, menjaga eksistensi Hizbullah di Lebanon menjadi kian krusial, terutama setelah tumbangnya Presiden Suriah Bashar al-Assad pada akhir tahun 2024 yang melemahkan aliansi "Poros Perlawanan".
"Lebanon adalah ground zero (titik mulai) dari narasi perlawanan Iran," kata Andreas Krieg dari King's College London.
Dia menilai, serangan langsung Iran ke Israel baru-baru ini bertujuan menegaskan "garis merah" mereka untuk melindungi Hizbullah.
Sumber internal menyebut Iran marah karena Beirut memilih bernegosiasi secara mandiri, tindakan yang dinilai melenyapkan kartu as Teheran dalam konfrontasinya dengan Washington.
Rubio bahkan menuduh Iran sengaja mencoba menghambat jalannya negosiasi tersebut.
Baca juga: Lebanon Sebut Kesempatan Terakhir Damai, Hizbullah Beri Syarat ke Israel
Sebuah sumber yang memahami posisi Hizbullah menilai negosiasi sesungguhnya baru akan dimulai jika ada kesepakatan langsung antara AS dan Iran.
Di sisi lain, posisi pemerintah Lebanon saat ini diperkuat oleh dukungan negara Barat dan Arab.
Selain itu, ada konsensus domestik di luar komunitas Syiah yang menginginkan jalur nasional independen bebas dari pengaruh Iran.
Kini, pemerintah Lebanon harus menavigasi jalan sempit di antara desakan Israel untuk melucuti Hezbollah dan ambisi Iran untuk mempertahankannya.
Jika kebuntuan diplomasi ini terus berlanjut, realitas konflik di Lebanon selatan terancam menjadi permanen, yang berpotensi menghalangi kembalinya ratusan ribu warga sipil yang mengungsi ke tanah kelahiran mereka.
Baca juga: Lagi, Prajurit Penjaga Perdamaian PBB di Lebanon Tewas
Tag: #lebanon #jadi #ground #zero #krusial #bagi #pertahanan #iran