Jangan Anggap Sepele Catatan Tumbuh Kembang Anak, Bisa Jadi Kunci Deteksi Dini Autisme
– Kesadaran orangtua dalam mencatat tumbuh kembang anak sejak dini dinilai menjadi kunci penting dalam mendeteksi gangguan perkembangan, termasuk autisme.
Langkah sederhana seperti mengisi catatan perkembangan secara rutin dapat membantu mengenali tanda-tanda awal yang kerap terlewatkan.
Ketua IDAI Jakarta Timur, dr. Arifianto, Sp.A(K) menekankan, orangtua merupakan pihak pertama yang memiliki peran besar dalam menentukan apakah anak memerlukan pemeriksaan lebih lanjut ke tenaga medis.
Baca juga: Bukan Hanya Berat dan Tinggi Badan, Perhatikan Indikator Lain dalam Tumbuh Kembang Anak
“Orangtua itu punya peran penting untuk menentukan anaknya perlu dibawa ke dokter atau tidak. Itu sudah sangat terbantu dengan adanya buku Kesehatan Ibu dan Anak,” ujarnya dalam acara Festival Peduli Autisme 2026, di Depok, Jawa Barat, Sabtu (4/4/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa deteksi dini tidak hanya bergantung pada tenaga medis, tetapi juga pada kepekaan orangtua dalam mengamati perkembangan anak sehari-hari.
Pentingnya mencatat tumbuh kembang anak untuk deteksi autisme
Buku KIA bukan sekadar catatan tapi panduan
(Kiri ke kanan) Founder Peduli ASD, Dr. Isti Anindya, S.Si., M.Sc, Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) RI Dr. Dante Rigmalia, M.Pd, dan Ketua IDAI Jakarta Timur, dr. Arifianto, Sp.A(K) dalam acara Festival Peduli Autisme 2026, di Depok, Jawa Barat, Sabtu (4/4/2026).
Dalam praktiknya, buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sering kali hanya dianggap sebagai dokumen pelengkap.
Padahal, buku ini menyimpan berbagai indikator penting yang dapat membantu orangtua memahami tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
“Buku itu bisa didapatkan dan diisi sejak hamil dan seharusnya dipelajari,” kata Arifianto.
Proses pemantauan sudah dimulai bahkan sebelum anak lahir. Informasi dalam buku tersebut mencakup berbagai tahap perkembangan, mulai dari kondisi kehamilan hingga kemampuan motorik, bahasa, dan sosial anak setelah lahir.
“Buku KIA tidak cuma sekedar parameter menilai pertumbuhan anak saja, tapi juga parameter mendeteksi sedini mungkin adanya gangguan atau penyimpangan atau keterlambatan perkembangan pada anak,” lanjutnya.
Dengan memahami setiap indikator yang tercantum, orangtua dapat membandingkan perkembangan anak dengan tahapan yang seharusnya, sehingga lebih mudah mengenali adanya keterlambatan atau penyimpangan.
Baca juga: Tak Cukup Sekedar Mengasuh, Tumbuh Kembang Anak Butuh Asih dan Asah
Orangtua jadi garda terdepan deteksi dini
(Kiri ke kanan) Founder Peduli ASD, Dr. Isti Anindya, S.Si., M.Sc, Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) RI Dr. Dante Rigmalia, M.Pd, dan Ketua IDAI Jakarta Timur, dr. Arifianto, Sp.A(K) dalam acara Festival Peduli Autisme 2026, di Depok, Jawa Barat, Sabtu (4/4/2026).
Arifianto menyoroti, keterlambatan diagnosis masih sering terjadi di masyarakat.
Hal ini tidak jarang disebabkan oleh kurangnya kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal gangguan perkembangan.
“Banyak orangtua yang datangnya terlambat, karena bisa jadi keterlambatan diagnosis oleh dokter atau dokternya juga tidak mampu mencurigai sejak awal,” ujarnya.
Ia menekankan, proses deteksi seharusnya dimulai dari rumah. Orangtua yang setiap hari berinteraksi dengan anak memiliki peluang paling besar untuk menyadari perubahan sekecil apa pun.
“Tapi yang paling pertama itu orangtua harus mampu mencurigai dan itu sudah bisa dilihat sejak lahir, karena parameter perkembangan itu dibuatnya sangat terpisah-pisah,” tambahnya.
Dengan kata lain, setiap aspek perkembangan anak, baik motorik, komunikasi, maupun interaksi sosial, perlu diamati secara detail dan berkelanjutan.
Deteksi dini mempermudah intervensi
Pencatatan tumbuh kembang yang konsisten akan membantu mempercepat proses diagnosis apabila ditemukan indikasi gangguan perkembangan, termasuk autisme.
Hal ini menjadi penting karena penanganan yang lebih cepat akan memberikan hasil yang lebih optimal.
“Itu menjadi salah satu alat bantu paling utama dan pertama untuk mendiagnosis autisme,” jelas Arifianto.
Ia juga menegaskan, diagnosis yang dilakukan lebih awal akan memberikan rasa kepastian bagi orangtua sekaligus membuka peluang intervensi lebih cepat.
“Kalau itu terjadi, maka tidak usah khawatir lagi, diagnosisnya akan lebih dini,” ujarnya.
Sebaliknya, jika diagnosis terlambat dilakukan, maka proses penanganan pun ikut tertunda dan berpotensi menyulitkan terapi yang dibutuhkan anak.
Baca juga: Psikolog Sebut Waktu Liburan Bermanfaat untuk Tumbuh Kembang Anak
“Keterlambatan diagnosis berpengaruh pada keterlambatan intervensi. Terlambat intervensi membuat anak akan lebih sulit untuk diterapi,” katanya.
Golden period jadi waktu penentu
Lebih jauh, Arifianto mengingatkan, ada periode emas dalam tumbuh kembang anak yang tidak boleh diabaikan, yaitu 1.000 hari pertama kehidupan.
Pada masa ini, perkembangan otak berlangsung sangat pesat dan menjadi fondasi bagi kemampuan anak di masa depan.
“Sampai umur 2 tahun itu otak harus benar-benar dioptimalkan. Terlambat diagnosis, bukan berarti tidak bisa diterapi, tapi akan makin menyulitkan,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia mengimbau agar orangtua tidak hanya memiliki buku KIA, tetapi juga aktif membaca, mengisi, dan memahami setiap informasi yang tercantum di dalamnya.
Tindak lanjut dari catatan tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan anak mendapatkan penanganan yang tepat.
“Jadi mudah-mudahan ajakan ini bisa disebarluaskan dan buku KIA itu bisa dibaca, dan diisi, dan ditindaklanjuti,” tutupnya.
Baca juga: 7,5 Persen Anak Indonesia Alergi Susu Sapi, Berisiko Mengganggu Tumbuh Kembang
Tag: #jangan #anggap #sepele #catatan #tumbuh #kembang #anak #bisa #jadi #kunci #deteksi #dini #autisme