Melestarikan Tenun dengan Memakainya dalam Berbagai Gaya
– Tenun sering kali dipandang sebagai busana yang identik dengan acara formal atau bernuansa tradisional. Tidak sedikit yang menganggap penggunaannya terbatas dan kurang fleksibel untuk dikenakan dalam gaya sehari-hari.
Padahal, wastra Nusantara memiliki potensi besar untuk terus berkembang mengikuti perubahan tren fashion. Dengan pendekatan yang lebih modern, tenun kini mulai hadir dalam berbagai bentuk yang lebih kasual dan mudah dipadukan, terutama di kalangan generasi muda.
“Tenun itu sebenarnya fleksibel. Zaman sekarang sudah ada normalisasi, sudah ada trennya,” ujar desainer Wilsen Willim saat ditemui dalam acara Weaving The Sky di Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026).
Menurut Wilsen, tenun merupakan material yang dapat dipadukan dengan berbagai gaya tanpa harus terpaku pada aturan tertentu.
Baca juga: Begini Cara Wilsen Willim Olah Sisa Tenun Jadi Produk Bernilai
Mulai Diterima Generasi Muda
Penggunaan tenun saat ini mulai mengalami perubahan yang cukup signifikan, khususnya di kalangan anak muda.
Jika sebelumnya tenun identik dengan busana yang berat, formal, atau hanya digunakan dalam acara tertentu, kini persepsi tersebut perlahan mulai bergeser. Banyak anak muda yang mulai mengeksplorasi tenun sebagai bagian dari gaya sehari-hari.
“Banyak Generasi Z yang eksplor dan dipakai jadi outer atau dipadukan dengan gaya lain,” katanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tenun tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang eksklusif atau terbatas, tetapi mulai diterima sebagai bagian dari tren fashion yang lebih luas.
Di sisi lain, meningkatnya eksposur melalui media sosial dan kolaborasi dengan desainer juga turut mendorong perubahan persepsi tersebut.
Baca juga: Kain Tenun Garut Mempercantik Erin Lim di Grammy Awards 2026
Bisa Dipadukan Lintas Gaya
Salah satu pengunjung di acara Weaving The Sky yang mengenakan outer dengan sentuhan tenun Jepara.
Pengurus Cita Tenun Indonesia, Dewi Ivo Rajasa mengatakan salah satu keunggulan tenun terletak pada kemampuannya untuk dipadukan dengan berbagai gaya.
“Tenun itu bisa dibikin apa saja. Tidak ada aturan harus warna tertentu. Justru di situ indahnya tenun kita karena berwarna,” katanya.
Menurutnya, tidak ada aturan baku dalam memadukan tenun dengan outfit lain sehingga pengguna memiliki kebebasan untuk bereksperimen.
Ia mencontohkan, tenun dapat digunakan secara lebih fleksibel, salah satunya dengan dipadukan sebagai outer berbahan tenun Jepara dengan busana kasual. Menurutnya, gaya seperti ini tetap terlihat modern tanpa meninggalkan unsur tradisional.
Baca juga: Tenun, Suara Perempuan yang Jadi Wajah Perlawanan Kebudayaan di NTT
Penggunaan tenun sebagai outer menunjukkan bahwa wastra tidak harus selalu digunakan dalam bentuk pakaian formal. Sebaliknya, tenun dapat diolah menjadi berbagai model yang lebih ringan dan mudah dipadukan dalam keseharian.
Pendekatan ini membuat tenun makin relevan dan mampu menjangkau berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga pecinta fashion yang lebih luas.
Selain itu, keberagaman motif dan warna pada tenun juga menjadi nilai tambah yang memungkinkan pengguna untuk lebih bebas dalam bereksplorasi.
Baca juga: Lebih dari Sekadar Kain, Makna dan Warisan Tenun Biboki dari NTT
Dorong Ekspresi dan Kepercayaan Diri
Weaving The Sky
Selain fleksibel, penggunaan tenun juga menjadi sarana untuk mengekspresikan identitas dan gaya personal.
Menurut Wilsen, kunci utama dalam menggunakan tenun bukan terletak pada aturan berpakaian, melainkan pada keberanian untuk mencoba dan percaya diri dalam memadukannya.
“Yang penting percaya diri karena tenun bisa dipakai dengan berbagai cara,” ujarnya.
Baca juga: Gaya JFK Jr dan Carolyn Bessette Kembali Jadi Tren, Simpel tapi Ikonik
Dengan makin terbukanya ruang eksplorasi, tenun kini tidak lagi dipandang sebagai busana yang kaku atau terbatas. Sebaliknya, tenun mulai menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Di sisi lain, meningkatnya penggunaan tenun dalam keseharian juga menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan wastra Nusantara karena makin banyak masyarakat yang mengenal dan menggunakannya.
Dengan demikian, tenun tidak hanya hadir sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi bagian dari ekspresi fashion yang terus berkembang.
Baca juga: Kurangi Limbah Kain, Deden Siswanto Ubah Scarf Jadi Busana Tanpa Digunting
Tag: #melestarikan #tenun #dengan #memakainya #dalam #berbagai #gaya