Sering Dianggap Sopan, Ternyata Anak Tak Boleh Dipaksa Salim atau Peluk
Ilustrasi anak dan orangtua. Psikolog menjelaskan bahwa memaksa anak untuk salim atau peluk bisa membuat mereka kehilangan pemahaman tentang batasan diri dan kenyamanan pribadi.(freepik.com)
12:05
15 April 2026

Sering Dianggap Sopan, Ternyata Anak Tak Boleh Dipaksa Salim atau Peluk

Banyak orangtua masih menganggap salim atau peluk sebagai bentuk sopan santun yang harus diajarkan sejak kecil. Namun, kebiasaan ini bisa menjadi masalah ketika dilakukan dengan paksaan.

Anak yang dipaksa menunjukkan kasih sayang berisiko kehilangan pemahaman tentang batasan dirinya sendiri.

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., menekankan bahwa kebiasaan sederhana ini berkaitan langsung dengan konsep consent yang penting diajarkan sejak dini.

Baca juga: Psikolog Jelaskan Akar Kekerasan Seksual, dari Pola Asuh hingga Lingkungan

Anak berhak menentukan siapa yang boleh menyentuhnya

Setiap anak memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Ketika anak dipaksa salim atau memeluk orang lain, ia belajar bahwa tubuhnya bukan sepenuhnya miliknya.

Situasi ini bisa membuat anak merasa tidak nyaman, tetapi tidak berani menolak.

Dalam jangka panjang, anak bisa kesulitan memahami bahwa ia berhak mengatakan “tidak”.

Baca juga: Psikolog Ungkap Kebiasaan di Rumah yang Bisa Membentuk Sikap Seksis pada Anak

Paksaan bisa membuat anak mengabaikan perasaan sendiri

Ilustrasi anak tantrum. Psikolog menjelaskan bahwa memaksa anak untuk salim atau peluk bisa membuat mereka kehilangan pemahaman tentang batasan diri dan kenyamanan pribadi.Shutterstock/Ground Picture Ilustrasi anak tantrum. Psikolog menjelaskan bahwa memaksa anak untuk salim atau peluk bisa membuat mereka kehilangan pemahaman tentang batasan diri dan kenyamanan pribadi.

Banyak orangtua menganggap penolakan anak sebagai sikap tidak sopan. Padahal, penolakan tersebut bisa menjadi bentuk ekspresi ketidaknyamanan.

Ketika perasaan ini diabaikan, anak belajar untuk menekan emosinya sendiri.

Kondisi ini berisiko membuat anak tidak peka terhadap batasan dirinya maupun orang lain.

Anak bisa salah memahami arti kasih sayang

Kasih sayang seharusnya muncul secara alami, bukan karena paksaan.

Ketika anak dipaksa menunjukkan afeksi, ia bisa memahami bahwa kasih sayang adalah kewajiban, bukan pilihan.

Hal ini dapat memengaruhi cara anak menjalin hubungan di kemudian hari.

Anak mungkin kesulitan membedakan antara hubungan yang sehat dan yang tidak.

Baca juga: Berkaca dari Kasus FH UI, Psikolog Ungkap Cara Mendidik Anak Laki-laki Sejak Dini

Kebiasaan ini bisa berdampak pada pemahaman consent

Konsep consent tidak hanya berlaku pada orang dewasa. Anak perlu belajar bahwa setiap interaksi harus didasarkan pada persetujuan.

Ketika anak terbiasa dipaksa, ia tidak belajar pentingnya meminta izin atau menghargai penolakan.

Danti menekankan bahwa kebiasaan kecil seperti ini dapat membentuk cara pandang anak dalam jangka panjang.

Cara yang lebih tepat mengajarkan sopan santun

Sopan santun tetap penting diajarkan kepada anak. Namun, orangtua bisa memberikan pilihan yang membuat anak tetap nyaman.

Misalnya, anak bisa menyapa dengan melambaikan tangan atau mengucapkan salam tanpa harus bersentuhan fisik.

Pendekatan ini membantu anak tetap menghargai orang lain tanpa mengorbankan batasan dirinya.

Baca juga: Psikolog Ungkap 8 Ciri Orang Dewasa Secara Emosional, Bukan Sekadar Menahan Emosi

Orangtua perlu memahami perubahan cara mendidik

Cara mendidik anak terus berkembang seiring meningkatnya pemahaman tentang kesehatan mental.

Kebiasaan yang dulu dianggap wajar tidak selalu sesuai dengan kebutuhan anak saat ini.

Orangtua perlu menyesuaikan cara mendidik agar anak tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri.

Lingkungan yang menghargai batasan akan membantu anak menjadi pribadi yang menghormati orang lain.

Menghargai anak dimulai dari hal sederhana

Menghormati pilihan anak dalam hal kecil bisa memberikan dampak besar. Anak yang merasa dihargai akan lebih mudah menghargai orang lain.

Kebiasaan ini menjadi dasar penting dalam membangun hubungan yang sehat di masa depan.

Perubahan bisa dimulai dari hal sederhana, seperti tidak memaksa anak untuk salim atau peluk jika ia tidak nyaman.

Baca juga: Sulit Mengendalikan Diri? Ini Cara Membangun Self-control Menurut Psikolog

Tag:  #sering #dianggap #sopan #ternyata #anak #boleh #dipaksa #salim #atau #peluk

KOMENTAR