Pulihkan Sungai, River Ranger Jakarta Ajak Warga Mulai dari Diri Sendiri
Kondisi sungai di Jakarta kerap memunculkan pertanyaan yang sama: masihkah aliran air ini bisa dipulihkan? Bagi banyak pihak, jawabannya tidak sederhana.
Sebagai wilayah hilir, Jakarta menanggung beban aliran air dari kawasan hulu seperti Bogor dan Depok. Posisi geografis ini membuat sungai-sungai di ibu kota tidak hanya bergantung pada kondisi lokal, tetapi juga pada wilayah di atasnya.
Bagi River Ranger Jakarta, kondisi Sungai Ciliwung yang kini keruh tak lagi semata soal sampah. Mereka menilai persoalan utamanya terletak pada tata kelola yang belum terintegrasi.
“Kita tinggal di Jakarta yang merupakan hilir Sungai Ciliwung, dan tersambung dengan sungai-sungai kecil dari hulu di Bogor. Sulit menjaga kualitas Ciliwung,” ujar Koordinator Kurikulum River Ranger Jakarta, Andriana.
Menurutnya, Jakarta secara alami merupakan kawasan resapan dan aliran air. Namun, banyak kanal dan jalur air kini tertutup pembangunan permukiman. Dampaknya, aliran air terganggu dan memperparah kondisi sungai.
Di sisi lain, persoalan sanitasi masih menjadi tantangan serius. Di Kelurahan Duren Tiga, misalnya, ratusan kepala keluarga masih membuang limbah domestik langsung ke sungai. Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah modernitas kota, akses sanitasi layak belum sepenuhnya merata.
Bukan Sistem, tapi Aksi dari Dalam Diri
Melihat kerusakan yang masif, apakah sungai Jakarta masih bisa dipulihkan?
Jika hanya mengandalkan kebijakan atau aksi bersih-bersih besar, jawabannya kerap terasa jauh. Sampah akan terus kembali selama perilaku masyarakat tak berubah.
Namun, River Ranger Jakarta menawarkan sudut pandang lain: perubahan harus dimulai dari diri sendiri.
Nana menegaskan, perubahan sistemik berawal dari gaya hidup. Hal sederhana, seperti memilah sampah organik di rumah agar tidak menumpuk di TPST Bantar Gebang—bisa jadi langkah awal yang berdampak besar.
"Kalau sistemnya belum ada nggak apa-apa. Kita push pemerintah untuk ubah sistemnya. Kita nggak mau lagi buang sampah dicampur semuanya. Habis itu, you'll never know... Sekarang Pasar Minggu aja, tumpukan sampahnya udah banyak. Pasar Induk yang deket rumah kita sekarang, tumpukannya udah sampai 3 meter," tutur Nana.
Kesadaran ini bukan tanpa alasan. River Ranger ingin menyadarkan warga Jakarta bahwa bom waktu lingkungan ada di depan mata. Jika tumpukan sampah di Bekasi sudah penuh, bukan tidak mungkin tempat pembuangan sampah akan berdiri tepat di sebelah rumah kita.
Harapannya terletak pada kekuatan permintaan (demand) dari masyarakat. Ketika ratusan juta orang mulai mengubah kebiasaan, seperti membawa tumbler sendiri atau menolak plastik sekali pakai, produsen dan pemerintah pada akhirnya juga akan dipaksa untuk berubah.
“Bahkan sekarang, Pepsodent itu mengeluarkan sikat gigi dari bambu. Why? Karena demand-nya ada. Karena lifestyle orang udah mulai berubah. Di situlah produsen juga berubah,” ungkap Nana.
Tanamkan Kembali Empati pada Bumi
Perubahan tersebut memang tidak akan serta-merta menjernihkan Sungai Ciliwung dalam waktu singkat. Namun, River Ranger Jakarta berupaya mendorong kesadaran publik untuk membangun kembali nilai yang dinilai mulai hilang: empati terhadap lingkungan.
Menurut mereka, tanpa empati, berbagai solusi teknologi tidak akan cukup untuk mengatasi krisis lingkungan yang ada.
Founder dan Ketua River Ranger Jakarta, Syahiq Harpi, menegaskan bahwa akar persoalan lingkungan tidak semata terletak pada sampah, melainkan pada sikap manusia itu sendiri.
“Kerusakan lingkungan itu bukan dari sampahnya, tapi dari rasa empati yang hilang dari manusia,” ujarnya.
Pada akhirnya, upaya memulihkan sungai di Jakarta tidak hanya bergantung pada intervensi besar seperti pengerukan atau pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada perubahan perilaku sehari-hari masyarakat, mulai dari rumah, tentang bagaimana mereka memperlakukan dan mengelola limbah yang dihasilkan.
Penulis: Vicka Rumanti
Tag: #pulihkan #sungai #river #ranger #jakarta #ajak #warga #mulai #dari #diri #sendiri