Perbedaan Emosi dan Stres Menurut Psikolog, Jangan Sampai Keliru
Emosi dan stres kerap dianggap sebagai hal yang sama dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang merasa sedih, marah, atau kecewa, tidak jarang kondisi tersebut langsung disebut sebagai stres.
Padahal, menurut psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, M.Psi., Psikolog, emosi dan stres merupakan dua hal yang berbeda, meski saling berkaitan.
Apa Itu Stres?
Teresa menjelaskan bahwa stres adalah kondisi ketika seseorang merasa terbebani dan kewalahan dalam menghadapi situasi yang ada di hadapannya.
Dalam kondisi ini, individu merasa tekanan atau tuntutan yang dihadapi lebih besar dibandingkan kemampuan yang dimiliki untuk mengatasinya.
Stres juga cenderung menetap dan tidak selalu hilang hanya dengan distraksi.
Artinya, berbeda dengan rasa bosan atau suntuk yang bisa mereda setelah beristirahat atau melakukan aktivitas menyenangkan, stres biasanya membutuhkan penanganan yang lebih dalam.
Selain itu, stres juga bersifat subjektif. Situasi yang sama bisa dirasakan berbeda oleh setiap orang.
Apa yang terasa biasa saja bagi satu orang, bisa menjadi tekanan besar bagi orang lain, tergantung pada kondisi mental, pengalaman, dan dukungan yang dimiliki.
Baca juga: 5 Tanda Stres yang Kerap Tersembunyi Menurut Psikolog, Ada Mudah Tersinggung
Ilustrasi emosi mudah meledak. Psikiater menyarankan anak muda menunda mengirim pesan saat marah selama 30 menit agar konflik dalam hubungan tidak semakin membesar.
Apa Itu Emosi?
Di sisi lain, emosi merupakan perasaan yang lebih spesifik dan alami, seperti sedih, marah, senang, atau takut.
Emosi biasanya muncul sebagai respons terhadap suatu peristiwa tertentu.
Misalnya, seseorang yang mengalami putus cinta wajar merasakan kesedihan sebagai bentuk respons atas kehilangan.
Namun, kondisi tersebut bisa berkembang menjadi stres jika perasaan yang muncul membuat seseorang merasa kewalahan.
Ketika kesedihan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, memicu kekhawatiran berlebihan tentang masa depan, atau membuat seseorang merasa tidak memiliki dukungan, maka yang terjadi bukan lagi sekadar emosi, melainkan stres.
Baca juga: Studi Ungkap Minum Kopi 2–3 Cangkir Sehari Bisa Bantu Kurangi Stres
Perbedaan Emosi dan Stres
“Sedih adalah perasaannya, sedangkan stres adalah kondisi ketika seseorang merasa terbebani dan kewalahan menghadapi situasi tersebut,” ujar Teresa, dikutip dari ANTARA, Kamis (16/4/2026).
Memahami perbedaan ini penting agar seseorang dapat mengenali apa yang sedang dialaminya, sekaligus menentukan langkah yang tepat untuk mengatasinya.
Emosi yang sehat perlu diakui dan dirasakan, sementara stres perlu dikelola agar tidak berdampak lebih jauh pada kesehatan mental.
Cara Mendampingi Orang yang Sedang Stres
Dalam kehidupan sosial, pemahaman ini juga membantu kita bersikap lebih bijak terhadap orang lain.
Teresa menekankan bahwa saat mendampingi seseorang yang sedang stres, hal terpenting adalah menghadirkan rasa aman dan dipahami, bukan langsung memberikan solusi.
Mengucapkan kalimat seperti “jangan dipikirkan” atau “santai saja” justru bisa membuat orang yang sedang stres merasa tidak dimengerti.
Sebaliknya, pendekatan yang lebih empatik seperti mendengarkan tanpa menghakimi dan memberikan ruang untuk bercerita dinilai lebih membantu.
Kalimat sederhana seperti “kelihatannya lagi banyak yang dipikirkan” atau “aku di sini kalau kamu mau cerita” bisa menjadi bentuk dukungan yang berarti.
Kehadiran dan empati sering kali lebih dibutuhkan daripada nasihat yang terburu-buru.
Baca juga: Masalah Pencernaan Anak Bisa Picu Stres Orangtua, Ini Kata Ahli
Pentingnya Memahami Keduanya
Pada akhirnya, mengenali perbedaan antara emosi dan stres bukan hanya membantu kita memahami diri sendiri, tetapi juga memperkuat hubungan dengan orang lain.
Dengan pemahaman yang tepat, kita bisa lebih peka, tidak mudah menghakimi, dan mampu memberikan dukungan yang benar-benar dibutuhkan.
Tag: #perbedaan #emosi #stres #menurut #psikolog #jangan #sampai #keliru