5 Keterampilan Penting untuk Anak Usia 5 Tahun
- Memasuki usia lima tahun, anak-anak mengalami masa transisi yang menakjubkan dari fase balita menuju usia sekolah.
Si kecil mulai menunjukkan perkembangan signifikan dalam berbagai aspek, mulai dari cara mereka berkomunikasi, bermain dengan teman sebaya, hingga bagaimana tubuh mereka bergerak secara fisik.
Meskipun tampak semakin mandiri dan cerdas, memahami tahapan ini sangatlah penting agar kamu dapat memberikan dukungan emosional maupun fisik yang tepat, tanpa membebani mereka dengan ekspektasi yang berlebihan layaknya orang dewasa.
"Anak usia lima tahunmu sedang mengembangkan keterampilan baru yang luar biasa setiap hari," ungkap pikolog pengasuhan, Heather Wittenberg, mengutip Good Housekeeping, Minggu (19/4/2026).
Baca juga: Kenali Gejala Hipotermia pada Balita Saat di Gunung
Ia melanjutkan, ada lima kemampuan utama yang perlu dilatih ketika anak berusia lima tahun, yang bermanfaat bagi mereka kelak. Apa saja?
Kemampuan yang perlu dilatih pada anak usia lima tahun
1. Membedakan benar dan salah
Pada fase pertumbuhan ini, anak mulai mengerti perbedaan yang mendasar antara ide yang dianggap baik dan buruk.
Ilustrasi anak kecil menggaruk kepala
Psikolog Eileen Kennedy-Moore, Ph.D. meunturkan, moralitas anak pada usia tersebut masih seputar apakah mereka melakukan kesalahan, atau apakah melanggar aturan.
Namun, perlu dipahami bahwa mengetahui sebuah aturan belum tentu sejalan dengan tindakan mereka sehari-hari. Orangtua bisa membantu anak dengan menjelaskan alasan rasional di balik setiap aturan di rumah.
"Coba bertanya, 'Mengapa penting bergantian main ayunan?" guna melatih empati. Atau, deskripsikan situasi seperti, 'Anak itu merasa dikucilkan karena kalian punya dinosaurus sedangkan dia tidak'," tutur Kennedy-Moore.
Jangan biarkan anak merasa menjadi anak nakal. Saat mereka berbuat salah, coba tanyakan apa yang bisa mereka lakukan untuk memperbaikinya, atau sekadar menyuruh anak untuk mencobanya kembali agar benar.
Baca juga: Anak Tantrum saat Dilarang Main Gadget, Begini Cara Menyikapinya
2. Memahami perasaan orang lain
Bagi anak-anak, menyadari bahwa setiap individu bisa memiliki perspektif, perasaan, dan keinginan yang jauh berbeda dari diri mereka, merupakan sebuah pencapaian kognitif.
"Mampu membayangkan perspektif orang lain adalah keterampilan dasar untuk semua hubungan. Ini membantu anak bersedia berbagi atau bergantian. Ini juga memungkinkan mereka menghibur teman yang sedih," jelas Kennedy-Moore.
Untuk melatih kepekaan ini, utarakan secara verbal apa yang sedang mereka rasakan sebagai bentuk validasi emosi. Misalnya, "Kamu merasa frustasi karena ingin ke taman, tapi kita harus berbelanja?," atau "Kamu bersemangat bertemu Nenek!"
Baca juga: Alasan Gen Z dan Gen Alpha Punya Kesadaran Emosi yang Tinggi
Ilustrasi anak kecil bahagia
Ia juga menyarankan untuk membicarakan pikiran dan perasaan orang lain, entah di keseharian, buku, atau film. Lalu, berikan komentar pada apa yang anak amati.
Pancing juga nalar mereka dengan bertanya, "Menurutmu bagaimana perasaannya ketika itu terjadi?" atau "Mengapa dia marah?".
"Nilai tambah jika kamu mengomentari perubahan perasaan atau fakta bahwa kita bisa merasakan lebih dari satu hal bersamaan. Misalnya, 'Minggu lalu saat les renang, kamu sangat takut. Minggu ini, kamu masih sedikit takut namun juga bersemangat,'" tambah Kennedy-Moore.
Baca juga: Dampak Oversharing di Media Sosial, Bisa Ganggu Emosi hingga Relasi
3. Mengatur suasana hati
Manajemen emosi adalah tugas berat yang kerap menyulitkan orang dewasa, apalagi bagi anak-anak yang masih terus mempelajarinya.
"Anak usia lima tahun ada di tengah perkembangan otak yang liar dan luar biasa, yang perlahan membuat mereka lebih peka dan mampu mengekspresikan interaksi sosial yang kompleks. Sebelum proses itu stabil, jangan kaget jika mereka lebih murung atau sering tantrum," ungkap Wittenberg.
Pastikan jadwal istirahat siang yang cukup dan asupan makanan sehat terpenuhi setiap harinya, agar suasana hati mereka jauh lebih stabil dan mudah dikendalikan.
Baca juga: Sering Dianggap Sopan, Ternyata Anak Tak Boleh Dipaksa Salim atau Peluk
4. Menjadi anggota keluarga yang membantu
Ilustrasi anak membantu ibu di rumah
Anak di usia ini sebenarnya sudah sangat mampu, dan bersedia diberi tanggung jawab harian, asalkan kamu memberikan contoh dan arahan yang jelas sebelumnya.
"Mereka bisa, dan harus, membantu lebih dari yang kita kira," kata Wittenberg.
"Bertanggung jawab atas tugas seperti membawa piring ke tempat cuci, merapikan piring bersih, dan menyapu dengan sapu kecil mereka sendiri, akan membantu anak mengembangkan rasa dasar sebagai kontributor penting keluarga," lanjut dia.
Baca juga: Di Usia Berapa Orangtua Perlu Waspada Anak Terlambat Bicara
5. Menguji keterampilan motorik baru
Memasuki usia lima tahun, kemampuan fisik anak yang lebih kompleks, seperti melompat dengan lincah, gerakan senam dasar, atau berenang dengan gaya tertentu, akan mengalami peningkatan yang sangat drastis.
"Dorong perkembangan mereka dan beri pujian besar saat kamu melihat kemampuan baru mereka yang keren," tutur Wittenberg.
Sediakan ruang gerak yang aman dan kesempatan berlatih agar kepercayaan diri mereka terus bertumbuh.
Walaupun banyak kemajuan pesat yang dicapai, penting untuk diingat bahwa mereka pada dasarnya masihlah anak kecil. Wittenberg mengingatkan bahwa mereka masih butuh banyak pelukan, dongeng, dan perhatian penuh dari orangtuanya.
Baca juga: Bukan Cuma Pintar, Ini 5 Ciri Anak Tangguh yang Bisa Diajarkan Orangtua