Kartini Modern Bukan Sekadar Kuat, Ini Cara Mendidik Anak Perempuan Tangguh
Ilustrasi orangtua berbicara dengan anak. Psikolog menjelaskan bahwa membentuk Kartini modern membutuhkan pendekatan yang menekankan kemandirian, pengelolaan emosi, dan kepercayaan diri sejak dini.(PEXELS/KETUT SUBIYANTO)
17:35
21 April 2026

Kartini Modern Bukan Sekadar Kuat, Ini Cara Mendidik Anak Perempuan Tangguh

Makna Kartini modern tidak lagi sekadar soal pendidikan dasar, tetapi bergeser ke kemampuan memahami diri dan mengelola emosi.

Perempuan masa kini dihadapkan pada tekanan baru, mulai dari standar sosial hingga pengaruh media sosial yang semakin kuat.

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., menjelaskan bahwa membentuk perempuan tangguh membutuhkan pendekatan yang lebih dalam secara psikologis.

Hal itu disampaikan Danti saat diwawancarai Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).

Baca juga: 50 Ucapan Hari Kartini 2026 yang Inspiratif, Cocok Dibagikan di Medsos70

Kartini modern adalah perempuan yang punya resiliensi

Danti menjelaskan bahwa dalam psikologi, ketangguhan dikenal sebagai resiliensi. Resiliensi tidak berarti anak perempuan harus selalu kuat atau tidak boleh menangis.

“Seorang anak perempuan yang tangguh memiliki tiga pilar utama, yaitu efikasi diri, regulasi emosi, dan otonomi,” ujar Danti.

Efikasi diri berarti anak memiliki keyakinan bahwa ia mampu menghadapi masalah dan menyelesaikannya.

Regulasi emosi membuat anak mampu memahami dan mengelola perasaan negatif tanpa terpuruk terlalu lama.

Sementara itu, otonomi membantu anak memiliki pemikiran mandiri dan tidak mudah terpengaruh tekanan lingkungan.

Baca juga: 50 Ucapan Hari Kartini 2026 Bahasa Indonesia dan Inggris, Inspiratif untuk Caption Medsos

Bahaya jika anak perempuan hanya diajarkan patuh

Ilustrasi ibu dan anak. Psikolog menjelaskan bahwa membentuk Kartini modern membutuhkan pendekatan yang menekankan kemandirian, pengelolaan emosi, dan kepercayaan diri sejak dini.freepik.com Ilustrasi ibu dan anak. Psikolog menjelaskan bahwa membentuk Kartini modern membutuhkan pendekatan yang menekankan kemandirian, pengelolaan emosi, dan kepercayaan diri sejak dini.

Danti mengingatkan bahwa pola asuh yang menuntut kepatuhan mutlak bisa berdampak jangka panjang.

Anak perempuan yang terbiasa “patuh tanpa bertanya” berisiko memiliki pola pikir kaku.

Mereka cenderung menganggap otoritas sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Kondisi ini juga dapat memicu kesulitan dalam mengambil keputusan saat dewasa.

“Mereka bisa takut mengambil risiko dan sulit berkata tidak, bahkan berisiko terjebak dalam hubungan yang tidak sehat,” jelas Danti.

Harga diri anak juga bisa menjadi bergantung pada penilaian orang lain.

Baca juga: Takut Gagal Jadi Orangtua, Psikolog Sebut Standar Parenting Kini Terlalu Tinggi

Membangun percaya diri tanpa validasi orang lain

Menurut Danti, kunci membentuk Kartini modern adalah mengalihkan fokus dari hasil ke proses. Orangtua disarankan untuk memuji usaha, bukan hanya hasil akhir.

“Alih-alih mengatakan ‘kamu pintar’, lebih baik mengatakan bahwa kita bangga pada usaha yang dia lakukan,” ujarnya.

Pendekatan ini membantu anak mengembangkan pola pikir berkembang atau growth mindset. Kegagalan juga perlu dinormalisasi sebagai bagian dari proses belajar.

Anak perlu diajak melihat kesalahan sebagai peluang untuk belajar, bukan sebagai kegagalan total.

Baca juga: Sering Dianggap Sopan, Ternyata Anak Tak Boleh Dipaksa Salim atau Peluk

Tanda anak mulai kehilangan kepercayaan diri

Orangtua perlu peka terhadap perubahan perilaku yang sering kali terlihat halus.

Salah satu tanda yang muncul adalah kecenderungan menyenangkan orang lain secara berlebihan. Anak juga bisa menunjukkan perfeksionisme ekstrem dan takut mencoba hal baru.

Bahasa tubuh yang mengecil, seperti menghindari kontak mata atau suara yang pelan, juga menjadi sinyal penting.

Selain itu, anak bisa terus memikirkan kesalahan kecil yang terjadi di masa lalu.

Menurut Danti, tanda-tanda ini tidak boleh diabaikan karena bisa berdampak pada perkembangan psikologis jangka panjang.

Baca juga: Tanpa Disadari, Kebiasaan Orangtua Ini Bisa Melanggar Batasan Anak

Cara sederhana melatih keberanian sejak di rumah

Danti menekankan bahwa keberanian bukan sifat bawaan, tetapi kemampuan yang bisa dilatih.

Orangtua dapat mulai dari hal sederhana, seperti memberi anak pilihan dalam keputusan sehari-hari.

Anak juga perlu dilibatkan dalam diskusi agar terbiasa menyampaikan pendapat.

Memberikan tanggung jawab kecil dapat membantu anak belajar mandiri.

“Ketika anak berani berkata tidak pada hal personal, penting bagi orangtua untuk menghargai batasan tersebut,” kata Danti.

Langkah ini menjadi dasar penting agar anak mampu menetapkan batasan di masa depan.

Baca juga: Peran Orangtua Vs Peran Kakek Nenek dalam Pengasuhan Anak, Komunikasi Jadi Kunci

Kartini modern butuh kompas, bukan hanya sayap

Danti menegaskan bahwa mendidik anak perempuan di era modern bukan hanya soal memberi kebebasan.

Anak juga perlu dibekali nilai dan arah agar mampu mengambil keputusan dengan tepat.

Mendidik Kartini modern berarti memberi mereka sayap untuk terbang, tetapi juga kompas agar tahu ke mana harus melangkah,” ujarnya.

Pendekatan ini dinilai penting agar perempuan masa kini tidak hanya kuat, tetapi juga sadar akan dirinya sendiri.

Konsep Kartini modern menekankan pentingnya keseimbangan antara keberanian, kemandirian, dan kesadaran diri.

Peran orangtua menjadi kunci dalam membentuk anak perempuan yang tidak hanya tangguh, tetapi juga percaya diri.

Dengan pendekatan yang tepat, semangat Kartini dapat terus hidup dalam bentuk yang relevan dengan tantangan zaman sekarang.

Baca juga: Mengapa Orangtua yang Dulu Keras pada Anak Kini Lembut pada Cucu?

Tag:  #kartini #modern #bukan #sekadar #kuat #cara #mendidik #anak #perempuan #tangguh

KOMENTAR