Tips Pengasuhan Anak agar Resilien Hadapi Masalah
Ilustrasi ayah dan anak.(Google Gemini AI)
20:20
21 April 2026

Tips Pengasuhan Anak agar Resilien Hadapi Masalah

-  Masa remaja adalah fase yang penuh gejolak bagi seorang perempuan. Di tengah proses mencari jati diri dan menghadapi dinamika pergaulan, kekecewaan kerap datang tanpa terduga, membuat emosi terasa lebih rapuh dari biasanya.

Dalam situasi seperti ini, banyak ayah secara refleks mengambil peran sebagai “pelindung utama”. Mereka ingin segera turun tangan, mencarikan solusi, bahkan menghilangkan sumber masalah secepat mungkin.

Namun, dorongan untuk terlalu melindungi inilah yang sering kali justru menjadi kurang bijak.

Psikolog klinis di RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, menyoroti bahwa banyak ayah tanpa sadar terjebak dalam pola ini.

“Banyak ayah itu niatnya menguatkan, tapi justru mematikan emosi anak,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).

Baca juga: Ayah jadi Fondasi Utama Mental Anak untuk Cetak Kartini Modern

Niat baik untuk menguatkan anak justru sering kali menjadi bumerang karena pendekatan komunikasi yang mengesampingkan kepekaan emosional.

Validasi perasaan, bukan solusi instan

Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi Surakarta ini menjelaskan pentingnya ayah menahan diri untuk tidak langsung menasihati saat anak melakukan kesalahan.

Sering kali, ayah menyamakan cara komunikasi anak perempuan dengan penyelesaian masalah berbasis logika, padahal anak hanya sedang mencari tempat bersandar.

"Jangan buru-buru memperbaiki, kadang anak itu cuma butuh didengar bukan solusi cepat," terang Joko.

Baca juga: Penelitian Ungkap Pentingnya Waktu Bermain Ayah dan Anak

Dibandingkan melontarkan kalimat tuntutan seperti melarang anak untuk menangis, ayah sebaiknya mengakui dan memvalidasi perasaan kecewa tersebut terlebih dahulu.

Kalimat empati akan membuat anak merasa jauh lebih dimengerti. Selanjutnya, ayah harus mampu menormalisasi kegagalan sebagai bagian esensial dari sebuah proses pendewasaan.

"Anak belajar bahwa dirinya berkembang bukan statis, karena manusia itu dinamis," sambung dia.

Baca juga: Kata-Kata untuk Ayah yang Penuh Rasa Terima Kasih

Mengenali waktu yang tepat untuk berdiskusi

Setelah perasaan anak divalidasi dan perasaannnya mulai stabil, ajak anak untuk mengevaluasi masalah tersebut.  Gunakan kalimat netral yang tidak menyudutkan namun sangat suportif untuk mengetahui pola pikir anak.

"Msalnya ,'Kita lihat bareng-bareng ya apa yang bisa kita pelajari dari kejadian ini ya, setelah kamu merasa tenang'," ucap dia.

Proses mendampingi anak bangkit dari kegagalan ini bisa berantakan jika ayah tanpa sadar melakukan kesalahan fatal secara berulang.

Baca juga: 90 Kata-kata Hari Kartini yang Relatable untuk Perempuan Masa Kini

Perhatikan candaan

Joko juga memperingatkan para ayah agar lebih berhati-hati dan memiliki empati meski sedang bercanda, terutama yang berkaitan dengan fisik atau body shaming.

"Bercanda tapi merendahkan misalnya, 'Ndut, ndut' gitu ya, kayaknya lucu tapi itu bagi beberapa wanita itu memang sangat menyakitkan," jelas Joko.

Selain itu, kebiasaan membanding-bandingkan anak dengan memori masa lalu, serta sikap kaku ayah yang minim kehangatan, akan membuat anak merasa bahwa emosinya tidak valid.

Pada akhirnya, mendidik dan membangun kedekatan ini bukan soal menjadi figur orangtua yang tanpa celah.

Bekal resiliensi yang paling berharga bagi seorang perempuan justru datang dari kesediaan ayahnya untuk hadir.

"Kalau kita sebagai ayah bisa menjadi 'tempat', maka anak ini merasa didengar, dihargai, dan aman jadi dirinya sendiri," pungkas dia.

Baca juga: Tekanan Media Sosial pada Anak Perempuan, Psikolog Ungkap Penyebab dan Dampaknya

Tag:  #tips #pengasuhan #anak #agar #resilien #hadapi #masalah

KOMENTAR