Suka Sembunyi di Toilet Saat Stres? Ini Penjelasan Psikologisnya
- Kamar mandi sering kali hanya dianggap sebagai ruang fungsional untuk membersihkan diri dengan cepat. Banyak orang bahkan cenderung ingin segera keluar dari ruangan tersebut karena khawatir akan paparan kuman.
Namun, bagi sebagian orang toilet dianggap sebagai tempat perlindungan yang menenangkan. Ketika sedang stres, mereka akan mengunci diri sejenak di kamar mandi sampai emosi stabil kembali. Kebiasaan itu disebut bathroom camping.
Psikoterapis Jessica Hunt mengatakan bahwa ini adalah momen untuk sekadar duduk tanpa gangguan pekerjaan yang bertubi-tubi, atau sekadar menghindari pertanyaan berulang dari anggota keluarga di rumah.
"Kamar mandi memiliki batasan yang melekat. Kamu bisa menutup pintu, menguncinya, dan tidak ada yang mempertanyakan kebutuhan kamu akan privasi. Rasa perpisahan itu, baik secara fisik maupun simbolis, menciptakan 'ruang' untuk berhenti sejenak," jelas dia, melansir PopSugar, Minggu (26/4/2026).
Baca juga: Studi Ungkap Minum Kopi 2–3 Cangkir Sehari Bisa Bantu Kurangi Stres
Memahami fenomena bathroom camping
Sesuai dengan istilahnya, kebiasaan ini menggambarkan momen ketika seseorang memilih untuk berdiam diri di dalam toilet, murni di luar kebutuhan buang air.
Ruangan tertutup ini secara perlahan beralih fungsi menjadi semacam tempat peristirahatan mental sementara bagi mereka yang kelelahan.
"Ini adalah cara yang dapat diterima secara sosial untuk keluar dari kebisingan sejenak, menggulir layar, bernapas, atau sekadar ada tanpa tuntutan," ucap Hunt.
Ketika seseorang merasa tenang di dalam kamar mandi
Terdapat alasan ilmiah dan psikologis mengapa duduk merenung di kamar mandi bisa terasa sangat terapeutik.
Baca juga: Panduan Mengajarkan Anak Laki-laki Mandiri di Toilet Umum sejak Usia Dini
Saat stres tubuh masuk ke dalam mode tegang. Ruang yang kedap dan terisolasi ini terbukti ampuh meredam stimulasi sensorik yang berlebihan.
"Ini memberi sistem saraf istirahat, beberapa menit ketenangan dan kesendirian untuk membantu 'menggeser' seseorang keluar dari respons stres," terang Hunt.
"Ada sesuatu yang unik tentang ruang di mana kamu rentan dan terekspos secara fisik, tetapi ruang itu sepenuhnya milikmu," lanjut dia.
Kebebasan absolut dari penilaian orang lain saat berada di balik pintu yang terkunci memberikan rasa aman secara emosional.
Baca juga: 6 Cara Menghindari Toxic Positivity agar Emosi Tetap Sehat dan Tidak Tertekan
Sinyal kebutuhan istirahat yang lebih besar
Mengambil napas dalam-dalam dan melakukan rehat sejenak untuk mengatasi kecemasan adalah mekanisme pertahanan diri yang wajar.
Kendati demikian, kamu tetap harus mewaspadai dampak buruknya bagi kesehatan fisik, seperti risiko ambeien jika kamu duduk terlalu lama di atas kloset secara terus-menerus.
Lebih dari itu, fenomena pelarian ini sebenarnya menyiratkan sebuah pesan penting tentang kondisi keseimbangan hidup secara keseluruhan.
Jika kamu merasa kedamaian hanya bisa diraih dengan cara mengunci diri di kamar mandi, ini adalah saat yang paling tepat untuk melakukan evaluasi.
"Jika kamar mandi adalah satu-satunya tempat kamu merasa bisa bernapas, mungkin sudah waktunya untuk menciptakan rasa tenang dan kesendirian yang sama di tempat lain," imbau Hunt.
Pada akhirnya, mencari kedamaian di kamar mandi adalah hal yang sah-sah saja dilakukan. Namun, kualitas ketenangan mental yang sesungguhnya, idealnya tidak boleh hanya bergantung pada sebuah ruangan tertutup dan kloset sebagai tempat duduk semata.
Kamu harus mulai memprioritaskan ruang personal dan waktu istirahat yang lebih memadai dalam menjalani aktivitas harian di luar batas-batas kamar mandi.
Baca juga: 5 Tanda Stres yang Kerap Tersembunyi Menurut Psikolog, Ada Mudah Tersinggung
Tag: #suka #sembunyi #toilet #saat #stres #penjelasan #psikologisnya