Trik Jeda 10 Detik agar Tak Mudah Terpancing Emosi Saat Hadapi Hoaks di Dunia Maya
Ilustrasi main HP. Studi terbaru menunjukkan, aktivitas pasif seperti menonton tanpa interaksi dapat meningkatkan risiko demensia, sementara aktivitas yang melibatkan otak justru memberi perlindungan.(Pexels/Miriam Alonso)
17:20
30 April 2026

Trik Jeda 10 Detik agar Tak Mudah Terpancing Emosi Saat Hadapi Hoaks di Dunia Maya

- Kecepatan perputaran informasi di duina maya kerap memancing warganet untuk memberikan respons impulsif tanpa berpikir panjang.

Guna meredam kebiasaan reaktif yang sering berujung pada maraknya penyebaran hoaks dan perundungan siber, inisiatif menahan diri bernama "Jeda 10 Detik" kini didorong secara luas ke masyarakat.

"Ini menjadi sebuah norma dan standar baru kita di dalam kehidupan digital kita ini," kata Bonifasius Wahyu Pudjianto dalam konferensi pers Blibli di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Baca juga: Jangan Terburu-buru, Ambil Jeda 10 Detik agar Tak Kena Tipu Saat Belanja Online

Kepala Badan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tersebut melihat kampanye ini sebagai solusi untuk memperbaiki iklim komunikasi virtual.

Ia berharap kebiasaan mengambil waktu rehat sejenak sebelum merespons sesuatu tidak hanya berhenti sebagai tren musiman, tetapi benar-benar menyatu dalam rutinitas keseharian setiap warga.

Jangan mudah terpancing di dunia maya

Boni, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini sangat menyadari bahwa tingkat pemahaman teknologi di tengah masyarakat Indonesia belum sepenuhnya merata.

"Kami sangat aware bahwa masyarakat Indonesia itu digital literacy-nya, gap-nya sangat luas," ujar dia.

Edukasi mengenai literasi digital terus digencarkan secara masif untuk menumbuhkan daya kritis warganet dalam menyaring berbagai bentuk arus informasi yang mereka terima setiap hari.

Upaya pemerataan literasi ini menjadi penting karena masih banyak celah penyebaran misinformasi yang kerap diremehkan.

Salah satu contoh nyata yang paling dekat adalah interaksi lewat grup percakapan keluarga, di mana banyak pengguna terbiasa langsung membagikan sebuah tautan provokatif tanpa crosscheck kebenaran isinya terlebih dahulu.

"Biasanya paling sering share ke grup keluarga. Lupa kalau di grup keluarga ada orangtua, ada saudara, ada adik, ada keponakan (yang rentan terpapar konten clickbait)," kata Head of PR Blibli, Nazrya Octora.

Baca juga: Lomba Melamun di Kotagede, Ruang Jeda di Tengah Hidup Serba Cepat

Ia menyoroti betapa mudahnya sebuah berita bohong menyebar luas hanya karena dorongan rasa penasaran sesaat.

Sebagai panduan perlindungan berlapis di ruang maya, pemerintah telah merumuskan pilar edukasi khusus bernama CABE yang mencakup unsur Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital.

Pentingnya orangtua dampingi anak di dunia maya

Selain memperkuat ketahanan pikiran kelompok orang dewasa, fokus pengawasan juga wajib diarahkan secara khusus pada pengguna usia anak-anak.

Mereka merupakan pihak yang paling rentan menelan mentah-mentah dampak negatif dunia maya, jika dibiarkan bebas berselancar tanpa adanya pendampingan ketat dari keluarga.

"Nah, saat ini kita ada peraturan pemerintah terkait dengan anak-anak di ruang digital, jadi kita jaga anak-anak di bawah 16 tahun untuk kita dampingi," tutur Boni.

Ilustrasi kebiasaan bermain hp setelah bangun tidur. Studi terbaru menunjukkan, aktivitas pasif seperti menonton tanpa interaksi dapat meningkatkan risiko demensia, sementara aktivitas yang melibatkan otak justru memberi perlindungan.Freepik/tirachardz Ilustrasi kebiasaan bermain hp setelah bangun tidur. Studi terbaru menunjukkan, aktivitas pasif seperti menonton tanpa interaksi dapat meningkatkan risiko demensia, sementara aktivitas yang melibatkan otak justru memberi perlindungan.

Adapun, ia merujuk pada peberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas), yang resmi diterapkan pada 28 Maret 2026.

Baca juga: Lelah Ikuti Standar Kecantikan, Cobalah Jeda dari Media Sosial

Aturan ini menjadi langkah tegas pemerintah dalam memperkuat perlindungan anak berusia di bawah 16 tahun di ruang digital, sekaligus mewajibkan seluruh platform digital yang beroperasi di Indonesia untuk mematuhi ketentuan yang berlaku.

Boni melanjutkan, para orangtua dituntut untuk selalu bersikap proaktif dalam memantau rutinitas daring anak-anak mereka di rumah.

Pemahaman dasar tentang budaya menahan diri dan kebiasaan mengevaluasi konten harus diajarkan sedari dini, mengingat banyak sekali aplikasi hiburan yang ternyata menyimpan potensi bahaya tersembunyi bagi pola pikir anak.

Langkah pencegahan tersebut tentunya harus diawali dari teladan orangtua dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dengan membiasakan diri untuk selalu memeriksa tautan sebelum diakses oleh anak.

"Saring sebelum sharing ya. Tapi saring sebelum sharing, tadi kuncinya jeda 10 detik," ujar Boni.

Jaga jejak digital dengan menahan emosi 10 detik

Dampak paling nyata dari absennya budaya menahan diri di dunia maya adalah tumbuh suburnya komentar bernada kebencian.

Sangat banyak warganet yang refleks meluapkan amarah karena terpicu sebuah judul sensasional belaka, tanpa mau meluangkan waktu ekstra untuk membaca keseluruhan konteks beritanya sampai tuntas.

"Terus terang, di dalam kehidupan kita saat ini, daya kritis kita untuk memverifikasi informasi sering kali terbawa atau tergerus oleh emosi," ungkap Boni.

Padahal, kebiasaan buruk memaki di kolom komentar secara perlahan akan merusak jejak digital seseorang secara permanen.

Oleh karena itu, anjuran meluangkan waktu sepuluh detik sebelum mengetik cacian menurut dia adalah penawar paling ampuh untuk mencegah rasa malu atau penyesalan mendalam di kemudian hari.

"Kita tidak responsif, tapi kita bisa memberikan respons yang positif," sambung Boni.

Lewat kebiasaan kecil, tetapi berdampak sangat besar ini, ruang digital Indonesia di masa depan diharapkan bisa dipenuhi oleh interaksi yang jauh lebih aman, santun, dan saling menghargai antarpengguna.

Baca juga: 8 Tanda Tubuh Kita Butuh Jeda Media Sosial

Tag:  #trik #jeda #detik #agar #mudah #terpancing #emosi #saat #hadapi #hoaks #dunia #maya

KOMENTAR