Jangan Remehkan Pengeluaran Receh, Gaji Bisa Habis Tengah Bulan
Ilustrasi pekerja kantoran jajan.(Google Gemini AI)
11:05
1 Mei 2026

Jangan Remehkan Pengeluaran Receh, Gaji Bisa Habis Tengah Bulan

- Banyak orang hanya memusatkan perhatian pada perencanaan keuangan berskala besar, seperti membeli kendaraan impian atau mengumpulkan dana pendidikan.

Padahal, terlalu fokus pada hal besar bisa membuat seseorang luput memerhatikan celah kebocoran dana dari kebiasaan jajan harian.

"Kita terbiasa meremehkan yang kecil-kecil, maka kita tidak akan siap menghadapi yang besar-besar," kata perencana keuangan bersertifikat, Mike Rini, dalam acara halal bihalal bersama PT Kino Indonesia bertajuk "Reconnect: Building Meaning in Every Family Choice" di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Menurut dia, pengeluaran kecil yang dilakukan tanpa sadar sehari-hari rupanya menjadi penyumbang terbesar dalam mengacaukan anggaran rumah tangga pada setiap akhir bulan.

Oleh karena itu, menerapkan praktik konsumsi berkesadaran (mindful consumption) dapat membantumu untuk selalu jeli mengamati setiap rupiah yang keluar dari dompet.

Baca juga: Saat Semua Serba Mahal, Pengeluaran Mana yang Harus Dipangkas?

Dampak tersembunyi jajan harian yang tidak teratur

Mengeluarkan uang untuk jajan dalam nominal Rp 10.000 mungkin terasa ringan. Namun, jika kebiasaan jajan ini diakumulasikan setiap hari hingga waktu gajian berikutnya tiba, jumlahnya bisa membengkak dan menguras porsi tabungan secara masif.

Menurut Mike, setiap rupiah yang dikeluarkan membawa efek domino pada kondisi psikologis dan keuangan seseorang.

Menganggap remeh pengeluaran kecil akan membentuk mentalitas yang selalu menggampangkan uang. Sikap abai inil pada akhirnya membuat seseorang gagal menganalisis permasalahan ekonomi secara jernih.

Baca juga: Anak Muda Tolak Pembatasan Thrifting, Sebut Jadi Cara Hemat di Ekonomi Sulit

Suka menumpuk barang cermin keuangan yang amburadul?

Menerapkan kebiasaan finansial yang sehat mengharuskan seseorang untuk memiliki arah dan tujuan yang jelas sebelum melakukan transaksi apa pun.

Kondisi keuangan yang berantakan biasanya tercermin dari tumpukan barang yang tidak terpakai di dalam rumah, seperti baju yang belum pernah disentuh atau makanan sisa di dalam lemari pendingin yang akhirnya membusuk.

"Mindful living, mindful spending, itu sebenarnya mengenai terarah, terencana, terkendali," ujar Mike.

Perencana keuangan bersertifkat, Mike Rini, dalam acara halal bihalal bersama PT Kino Indonesia bertajuk Reconnect: Building Meaning in Every Family Choice di Jakarta, Rabu (29/4/2026).Kompas.com / Nabilla Ramadhian Perencana keuangan bersertifkat, Mike Rini, dalam acara halal bihalal bersama PT Kino Indonesia bertajuk Reconnect: Building Meaning in Every Family Choice di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Segala bentuk pemborosan material pada akhirnya akan selalu berujung pada kerugian finansial yang sia-sia bagi pemiliknya.

Oleh karena itu, memastikan bahwa setiap barang atau jasa yang dibeli memiliki fungsi esensial adalah langkah yang tidak kalah penting untuk menyelamatkan kondisi finansial keluarga dari perilaku konsumtif yang tidak beraturan.

Baca juga: Suami Hemat atau Pelit? Psikolog Jelaskan Bedanya

Jujur pada diri sendiri, kebutuhan atau sekadar gengsi?

Tantangan terbesar dalam mengelola keuangan harian adalah kemampuan untuk mengidentifikasi batas tipis antara kebutuhan dan keinginan.

Seseorang mungkin sangat membutuhkan pakaian yang layak untuk bekerja mencari nafkah setiap hari, tetapi keputusan untuk membeli merek mewah demi mendapatkan pengakuan sosial adalah bentuk penyimpangan dari fungsi utama sandang itu sendiri.

Sama halnya dengan membeli makan siang tetapi memutuskan untuk membeli makan di tempat mahal agar terlihat seperti "orang kantoran di perkotaan".

"Kalau kita sebenarnya cukup dengan yang A, sesuai dengan kemampuan kita, tetapi karena ikut-ikutan kita jadi memilih yang B karena membutuhkan validasi," kata Mike.

Baca juga: Seperti Film Materialists, Salahkah jika Perempuan Ingin Memilih Pasangan Kaya?

Memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan sering kali dilakukan tanpa adanya batasan bujet yang disusun dengan tegas sejak awal.

Padahal, konsumen yang cerdas harus selalu melibatkan perhitungan kemampuan rasional dan menekan gengsi sebelum melangkah maju ke kasir pembayaran.

Jika sebuah produk memberikan fungsi yang benar-benar setara, menekan ego untuk menyesuaikan dengan kondisi dompet adalah pilihan yang paling bijaksana.

"Kita masukkan variabel kemampuan kita, budget kita berapa, dengan syarat bahwa semua fungsinya dan manfaatnya sama," pungkas dia.

Baca juga: Awas Keuangan Bocor Halus Gara-gara Belanja Barang Grosir

Tag:  #jangan #remehkan #pengeluaran #receh #gaji #bisa #habis #tengah #bulan

KOMENTAR