Candaan soal Anak Na Daehoon Disorot, Psikolog: Anak Bisa Merasa Ditertawakan
Kasus Na Daehoon yang membatasi akses Jule ke anaknya setelah candaan Safrie Ramadhan memunculkan sorotan baru soal batasan orang dewasa terhadap anak.
Psikolog menilai anak tidak boleh dijadikan bahan candaan, terutama ketika mereka berada dalam dinamika hubungan orang dewasa yang belum stabil.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., mengatakan candaan yang menjadikan anak sebagai objek dapat mengikis rasa aman dan kepercayaan diri anak.
Menurut Danti, anak-anak, terutama usia balita, belum memiliki kemampuan kognitif yang cukup untuk membedakan candaan sehat dan ejekan.
“Menjadikan anak sebagai bahan candaan atau objek dalam konten demi reaksi orang dewasa adalah bentuk pelanggaran batasan emosional,” kata Danti saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Baca juga: Na Daehoon Batasi Akses Jule ke Anak, Psikolog Ingatkan Bahaya Anak Jadi Bahan Candaan
Anak bisa merasa ditertawakan
Danti menjelaskan, candaan yang bagi orang dewasa terasa ringan belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh anak.
Anak bisa menangkap candaan tersebut sebagai pengalaman yang memalukan, terlebih jika dirinya menjadi pusat perhatian dalam situasi yang tidak ia pahami.
Mereka dapat merasa bukan sedang diajak tertawa bersama, melainkan dijadikan objek yang ditertawakan oleh orang dewasa di sekitarnya.
“Mereka bisa merasa bahwa diri mereka adalah objek yang ditertawakan, bukan diajak tertawa bersama,” ujar Danti.
Situasi ini menjadi lebih sensitif ketika candaan muncul dalam konteks relasi keluarga, orangtua, atau figur dewasa baru dalam kehidupan anak.
Pada kondisi seperti itu, anak bisa merasa bingung, tidak aman, atau tidak memahami mengapa dirinya dilibatkan dalam interaksi orang dewasa.
Baca juga: Jangan Hanya Ajarkan Patuh, Ini Cara Mendidik Anak Perempuan agar Tangguh
Rasa malu bisa tertanam dalam diri anak
Ilustrasi anak sedih. Psikolog menilai anak bisa merasa ditertawakan, malu, dan kehilangan rasa aman ketika dijadikan bahan candaan orang dewasa.
Danti mengatakan, dampak anak dijadikan bahan candaan tidak selalu berhenti pada momen ketika candaan itu terjadi.
Jika terjadi berulang, anak dapat menginternalisasi rasa malu atau shame.
Rasa malu tersebut dapat menghambat perkembangan identitas diri yang positif.
Anak bisa tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya layak ditertawakan atau dijadikan bahan pembicaraan orang lain.
Kondisi ini berisiko memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri dan relasinya dengan orang dewasa.
Menurut Danti, anak membutuhkan pengalaman yang membuatnya merasa diterima, dihargai, dan dilindungi.
Sebaliknya, pengalaman dijadikan objek candaan dapat mengikis rasa percaya diri anak, terutama jika datang dari orang dewasa yang berada dekat dengan lingkungan keluarganya.
Baca juga: Kartini Modern Bukan Sekadar Kuat, Ini Cara Mendidik Anak Perempuan Tangguh
Orang dewasa perlu menjaga batasan emosional
Danti menilai, orang dewasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga batasan emosional anak.
Anak tidak seharusnya dilibatkan dalam candaan yang dibuat demi reaksi, hiburan, atau perhatian orang dewasa.
Hal ini juga berlaku ketika anak muncul dalam konten atau interaksi publik yang melibatkan dinamika hubungan orangtuanya.
Menurut Danti, anak dapat belajar bahwa orang dewasa yang seharusnya melindungi justru menjadikannya alat untuk mendapat atensi atau tawa dari orang lain.
“Anak belajar bahwa orang yang seharusnya melindunginya justru menjadikannya alat untuk mendapatkan atensi atau tawa orang lain,” kata Danti.
Situasi seperti ini dapat merusak rasa aman yang seharusnya menjadi hak dasar anak.
Rasa aman tersebut penting karena menjadi fondasi bagi anak untuk membangun kepercayaan kepada orangtua, keluarga, dan figur dewasa lain.
Baca juga: Psikolog Ungkap Kebiasaan di Rumah yang Bisa Membentuk Sikap Seksis pada Anak
Anak perlu dilindungi dari dinamika orang dewasa
Selain soal candaan, Danti juga menyoroti pentingnya melindungi anak dari dinamika romantis orang dewasa yang belum stabil.
Anak, terutama balita, masih berada pada fase pembentukan rasa aman atau basic trust.
Pada fase tersebut, setiap interaksi dengan figur dewasa baru dapat memengaruhi fondasi emosional anak.
Pertemuan anak dengan figur baru sebaiknya dilakukan secara hati-hati, bertahap, dan hanya ketika hubungan orang dewasa sudah berada dalam tahap komitmen yang serius.
Danti mengatakan, orangtua perlu memastikan anak tidak merasa kehilangan perhatian atau rasa aman saat berhadapan dengan sosok baru.
Dalam situasi perkenalan dengan pasangan baru, kebutuhan emosional anak tetap perlu menjadi prioritas utama.
“Menjaga privasi anak dan memastikan mereka tidak terpapar pada dinamika romantis orang dewasa yang belum stabil adalah langkah protektif yang esensial bagi kesehatan mental mereka dalam jangka panjang,” ujar Danti.
Kasus Na Daehoon dan Jule menjadi pengingat bahwa anak bukan bagian dari candaan orang dewasa.
Anak perlu diperlakukan sebagai individu yang memiliki perasaan, batasan, dan hak untuk merasa aman dalam setiap relasi di sekitarnya.
Baca juga: Sering Dianggap Sopan, Ternyata Anak Tak Boleh Dipaksa Salim atau Peluk
Tag: #candaan #soal #anak #daehoon #disorot #psikolog #anak #bisa #merasa #ditertawakan