Scroll Medsos Berlebihan Berpotensi Merusak Kebahagiaan, Ini Kata Psikiater
Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang menggunakannya untuk mencari hiburan, mengikuti informasi terbaru, hingga menjaga hubungan dengan teman dan keluarga.
Namun di balik manfaat tersebut, penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat memengaruhi kesehatan mental, terutama ketika seseorang mulai terlalu sering membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Psikiater Lahargo Kembaren mengingatkan bahwa derasnya arus informasi di media sosial dapat memicu stres, kecemasan, hingga rasa tidak puas terhadap diri sendiri.
Menurut dia, perempuan, khususnya ibu, termasuk kelompok yang rentan mengalami tekanan mental akibat paparan media sosial.
“Comparison culture atau membanding-bandingkan itu pencuri utama kebahagiaan,” kata Lahargo dikutip dari ANTARA, Kamis (14/5/2026).
Budaya Membandingkan Diri di Media Sosial
Tanpa disadari, media sosial sering membuat seseorang melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna.
Mulai dari pencapaian karier, hubungan, gaya hidup, hingga pola pengasuhan anak, semuanya terlihat ideal di layar ponsel.
Kondisi ini dapat memicu comparison culture atau kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain secara terus-menerus.
Ketika terlalu sering membandingkan diri, seseorang bisa merasa hidupnya kurang berhasil, kurang bahagia, atau tertinggal dari orang lain.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menurunkan rasa percaya diri dan memicu stres emosional.
Selain itu, media sosial juga membuat banyak orang mengalami Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal tren, informasi, atau pengalaman tertentu.
Akibatnya, seseorang merasa harus terus membuka media sosial agar tidak dianggap ketinggalan.
Baca juga: Liburan Akhir Tahun Tanpa FOMO, Begini Cara Menyiasatinya Menurut Pakar
Terlalu Banyak Informasi Bisa Membuat Mental Lelah
Lahargo menjelaskan bahwa era digital membuat masyarakat menerima stimulasi informasi dalam jumlah besar setiap hari.
Otak terus bekerja menyerap berbagai konten, mulai dari berita, video pendek, komentar, hingga notifikasi yang datang tanpa henti.
Kondisi ini dapat memicu overstimulasi atau kelelahan mental karena otak tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat.
Tak sedikit orang yang akhirnya merasa mudah cemas, sulit fokus, cepat lelah secara emosional, hingga mengalami gangguan tidur akibat terlalu lama menatap layar gawai.
Pada sebagian orang, kebiasaan scrolling media sosial bahkan menjadi pelarian saat stres.
Padahal, semakin lama menghabiskan waktu di media sosial, semakin besar pula kemungkinan seseorang terpapar konten yang memicu tekanan psikologis.
Hubungan Keluarga Bisa Ikut Terdampak
Tak hanya berdampak pada diri sendiri, penggunaan gadget secara berlebihan juga dapat memengaruhi hubungan dalam keluarga.
Lahargo mengatakan komunikasi antaranggota keluarga kini semakin berkurang karena masing-masing sibuk dengan gawainya sendiri.
Situasi tersebut membuat kedekatan emosional di rumah perlahan menurun.
“Keluarga yang harusnya menjadi tempat nyaman dan aman, di masa sekarang justru berbalik menjadi sumber masalah,” ujarnya.
Kurangnya interaksi hangat dalam keluarga juga dinilai dapat berdampak pada kesehatan mental anak dan remaja.
Anak bisa merasa kurang diperhatikan, lebih mudah mengalami kesepian, atau mencari pelarian ke dunia digital.
Karena itu, kesehatan mental perempuan, khususnya ibu, menjadi hal penting untuk dijaga. Kondisi emosional ibu berpengaruh besar terhadap pola asuh dan perkembangan psikologis anak di rumah.
Baca juga: 5 Cara Mengatasi Anak FOMO agar Tak Takut Ketinggalan Tren Menurut Para Ahli
Cara Mengurangi Dampak Negatif Media Sosial
Agar media sosial tidak mengganggu kesehatan mental, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan, seperti membatasi waktu penggunaan gawai, mengurangi konsumsi konten yang memicu stres, serta memberi waktu tubuh dan pikiran untuk beristirahat dari layar.
Membangun komunikasi yang hangat di rumah juga penting dilakukan, misalnya dengan menyediakan waktu tanpa gadget saat makan bersama atau berbincang dengan keluarga.
Media sosial pada dasarnya dapat menjadi ruang yang bermanfaat jika digunakan secara bijak.
Namun ketika penggunaannya sudah membuat seseorang mudah cemas, lelah emosional, dan kehilangan rasa puas terhadap hidupnya sendiri, mungkin itu menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan jeda.
Tag: #scroll #medsos #berlebihan #berpotensi #merusak #kebahagiaan #kata #psikiater