Beda Pandang Lansia dan Orang Muda Soal Penyesalan Hidup
Ilustrasi lansia.(Dok. Freepik/Freepik)
08:15
18 Mei 2026

Beda Pandang Lansia dan Orang Muda Soal Penyesalan Hidup

- Manusia kerap dihantui oleh penyesalan, entah karena salah memilih pasangan hidup, keliru meniti karier, atau bertengkar dengan orangtua hingga hubungan menjadi renggang dan dingin.

Sepanjang hidup, ada banyak momen yang memicu perasaan tersebut. Secara logika, semakin lama kamu hidup, semakin banyak pula tumpukan penyesalan yang kamu bawa hingga hari tua.

Namun, tiap generasi ternyata punya bentuk penyesalan yang berbeda. Menurut studi bertajuk "Adult Age Differences in the Response to and Regulation of Recent Versus Long-Term Regrets" yang diterbitkan di jurnal Emotion (2026), kelompok usia lanjut terbukti memiliki lebih sedikit penyesalan dibanding kalangan muda.

Bukan cuma itu, mereka jauh lebih mahir dalam mengelola emosi tersebut.

"Secara umum, kalangan lansia tampaknya lebih banyak menarik diri dan tidak terlalu memikirkan penyesalan atau apa yang harus mereka lakukan untuk mengatasinya," ungkap penulis utama penelitian, Julia Nolte.

Baca juga: Ibu yang Tega Menyakiti Anak, Apakah Ada Perasaan Menyesal?

Beda cara pandang lansia dan kaum muda terhadap penyesalan

Kesimpulan penelitian soal penyesalan ini dibuat dalam studi yang melibatkan 90 partisipan dengan rentang usia 21 hingga 89 tahun.

Mereka diminta mencatat lima penyesalan baru-baru ini dan lima penyesalan masa lalu. Selanjutnya, setiap partisipan harus mengelompokkan rasa sesal itu ke dalam kategori "hot", "wistful", atau "despairing".

Kategori "hot" mewakili luapan emosi seperti kemarahan, rasa malu, dan kejengkelan. Perasaan "wistful" bernuansa lebih nostalgia, sentimental, dan kontemplatif. Kategori "despairing" mencakup duka mendalam.

Baca juga: 4 Cara Mengatasi Rasa Penyesalan dalam Hidup

Ilustrasi lansia makan. Studi menunjukkan bahwa orang optimistis memiliki peluang hidup lebih panjang dibandingkan pesimistis.Freepik/jcomp Ilustrasi lansia makan. Studi menunjukkan bahwa orang optimistis memiliki peluang hidup lebih panjang dibandingkan pesimistis.

Setelah mengelompokkannya, peserta diminta menilai seberapa kuat emosi-emosi tersebut dirasakan. Pada tahap akhir, para peneliti menanyakan strategi yang mungkin dipakai untuk memperbaiki tindakan yang disesali, atau cara mereka menerima kenyataan tersebut.

"Kami mengamati bagaimana orang-orang menghadapi rasa sesal, bagaimana mereka saat ini berupaya menyelesaikan perasaan itu, dan apa yang mereka rencanakan ke depannya," kata Nolte.

Baca juga: 3 Zodiak yang Tak Takut Berubah, Selalu Menemukan Versi Baru dari Dirinya

Lansia memiliki lebih sedikit emosi "panas" terkait penyesalan

Secara keseluruhan, kelompok lansia nyaris tidak terpengaruh oleh penyesalan baru jika disandingkan dengan orang muda.

Kendati generasi tua dan muda sama-sama melaporkan tingkat penyesalan jangka panjang pada level serupa, para lansia memendam jauh lebih sedikit amarah, kejengkelan, maupun rasa malu atas pilihan yang salah.

"Orang dewasa yang lebih tua memiliki lebih sedikit emosi 'panas'. Hal ini berlaku untuk penyesalan yang baru-baru ini terjadi maupun penyesalan jangka panjang," ungkap Nolte.

Beda kecenderungan pemicu penyesalan dan cara mengatasinya

Tim peneliti juga mengamati apakah orang lebih sering menyesali keputusan yang sudah mereka buat, atau justru menyesali kesempatan yang tidak mereka ambil.

Penyesalan jenis pertama muncul dari tindakan atau pilihan sadar, seperti memutuskan pindah kota atau memilih pasangan hidup.

Baca juga: Memahami Limerence, Saat Rasa Suka Berubah Jadi Obsesi

Ilustrasi anak muda dengan penyakit Alzheimer. Pria berusia 41 tahun didiagnosis mengalami penyakit Alzheimer. Ia mengalami gejala yang mudah diabaikan, seperti lupa dan kualitas tidur memburuk.freepik.com Ilustrasi anak muda dengan penyakit Alzheimer. Pria berusia 41 tahun didiagnosis mengalami penyakit Alzheimer. Ia mengalami gejala yang mudah diabaikan, seperti lupa dan kualitas tidur memburuk.

Sebaliknya, penyesalan jenis kedua muncul karena mereka diam saja saat ada peluang, misalnya melewatkan tawaran investasi yang menguntungkan atau mengurungkan niat untuk kuliah

Faktanya, generasi muda lebih banyak menyesali perbuatannya, sedangkan lansia lebih sering meratapi hal-hal yang tidak mereka lakukan.

Terkait penyelesaian masalah, gen Z jauh lebih termotivasi menyusun rencana guna memperbaiki penyesalan mereka ketimbang generasi tua. Kelompok lansia meyakini bahwa penyesalan hanyalah bagian kenyataan hidup yang mesti diterima.

Baca juga: Jangan Abaikan, Memendam Emosi Bisa Berdampak Fatal bagi Perempuan Menurut Psikolog

Para peneliti mengatakan akar kesenjangan cara pandang tersebut mungkin karena semakin dewasa usia seseorang, makin berani mereka merangkul realita kehidupannya alih-alih terus mengejar versi ideal.

Generasi baby boomers mungkin telah melewati pengalaman budaya yang membentuk sikap lebih pasrah dan menerima, dibanding generasi milenial atau gen Z.

Tag:  #beda #pandang #lansia #orang #muda #soal #penyesalan #hidup

KOMENTAR