Puasa Dzulhijjah Apakah Harus 9 Hari Berurutan? Begini Hukumnya dalam Islam
Ilustrasu puasa dzulhijjah (pixabay)
07:08
19 Mei 2026

Puasa Dzulhijjah Apakah Harus 9 Hari Berurutan? Begini Hukumnya dalam Islam

Hasil sidang Isbat Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah jatuh pada 18 Mei 2026.

Dengan begitu, Hari Raya Iduladha dipastikan akan berlangsung pada 27 Mei 2026 atau bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah.

Menjelang momen tersebut, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, salah satunya dengan menjalankan puasa Dzulhijjah.

Amalan sunah ini dikenal memiliki keutamaan besar, terutama jika dilaksanakan pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah.

Namun, di tengah pelaksanaannya, muncul pertanyaan apakah puasa Dzulhijjah harus dilakukan selama 9 hari secara berurutan.

Sebagian orang khawatir jika tidak berpuasa selama 9 hari berturut-turut maka ibadahnya menjadi tidak sah atau kurang sempurna.

Oleh karena itu, penting untuk memahami ketentuan puasa ini berdasarkan ajaran Islam agar tidak keliru.

Lalu, apakah puasa Dzulhijjah harus dilakukan selama 9 hari berurutan atau boleh tidak penuh?

Apakah Puasa Dzulhijjah Harus 9 Hari Berurutan?

doa buka puasa Dzulhijjah (freepik)Ilustrasi puasa Dzulhijjah (freepik)

Puasa Dzulhijjah menjadi salah satu amalan sunah yang banyak dikerjakan umat Islam menjelang Hari Raya Iduladha.

Ibadah ini biasanya dilakukan pada awal bulan Dzulhijjah, terutama pada sembilan hari pertama sebelum Iduladha.

Dalam Islam, puasa Dzulhijjah tidak diwajibkan dilakukan selama sembilan hari penuh secara berurutan.

Umat Islam tetap diperbolehkan menjalankan puasa hanya pada hari-hari tertentu sesuai kemampuan masing-masing.

Melansir NU Online, anjuran memperbanyak amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW riwayat Sahih Bukhari.

Nabi SAW bersabda bahwa tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah dibanding sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

"Rasulullah SAW berkata, 'Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini'." (HR At-Tirmidzi).

Sementara itu, khusus mengenai puasa Dzulhijjah, terdapat hadis riwayat Sunan Abu Dawud yang menyebut Rasulullah SAW biasa berpuasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah.

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari 'Asyura (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …" (HR. Abu Daud no. 2437)

Hadis tersebut menjadi dasar bahwa puasa di awal Dzulhijjah merupakan amalan sunah yang dianjurkan.

Meski begitu, para ulama menjelaskan tidak ada ketentuan yang mewajibkan puasa itu dilakukan tanpa jeda selama sembilan hari berturut-turut.

Jika seseorang hanya mampu berpuasa beberapa hari saja, maka ia tetap mendapatkan pahala sunah sesuai niat dan amal yang dikerjakannya.

Di antara puasa yang paling dianjurkan pada bulan Dzulhijjah adalah puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah SAW menyebut puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Selain itu, umat Islam juga dilarang berpuasa pada 10 Dzulhijjah karena bertepatan dengan Hari Raya Iduladha.

Larangan tersebut berdasarkan hadis Nabi SAW yang menjelaskan bahwa Idulfitri dan Iduladha merupakan hari makan, minum, dan bergembira bagi umat Islam.

Karena itu, puasa Dzulhijjah sebaiknya dipahami sebagai ibadah sunah yang fleksibel dan tidak memberatkan.

Selama dilakukan dengan ikhlas dan sesuai kemampuan, puasa di bulan Dzulhijjah tetap menjadi amalan yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah SWT.

Editor: Nur Khotimah

Tag:  #puasa #dzulhijjah #apakah #harus #hari #berurutan #begini #hukumnya #dalam #islam

KOMENTAR