Konsumen Gen Z Kritis Soal Isu Sosial, Brand Fesyen Wajib Punya Value
Ilustrasi style Y2K. Tren fashion 2026 meninggalkan gaya seragam dan mulai menonjolkan ekspresi diri lewat nostalgia, gaya intelektual, dan pengaruh budaya digital.(FREEPIK/KROSHKA__NATSYA)
09:05
20 Mei 2026

Konsumen Gen Z Kritis Soal Isu Sosial, Brand Fesyen Wajib Punya Value

- Perkembangan industri fesyen lokal terus memperlihatkan pertumbuhan yang menjanjikan. Namun, tantangan yang dihadapi para pelaku kreatif kini telah bergeser secara signifikan.

Menghasilkan produk dengan material superior serta desain visual yang memanjakan mata tidak lagi menjamin sebuah merek akan mendulang kesuksesan di pasaran yang kian padat.

Dalam diskusi JF3 bertajuk "Recrafted: Shaping the Future", para praktisi industri menyepakati bahwa kualitas produk kini hanyalah prasyarat sebelum sebuah koleksi dilempar ke publik.

Untuk bisa memenangkan hati dan loyalitas publik, jenama fesyen diwajibkan memiliki nilai tambah yang, kemudian dikomunikasikan secara selaras.

Baca juga: Indonesia Jadi Peringkat 1 Modest Fashion Dunia, Mendag Budi Santoso Sebut UMKM Fesyen Jadi Andalan

Antara kualitas produk dan kekuatan narasi

Konsumen mencari "cerita" yang relevan

Pergeseran minat pembeli saat ini sangat dipengaruhi oleh kesadaran kolektif terhadap berbagai isu global.

Konsumen modern, terutama gen Z, ternyata lebih kritis dan selektif sebelum memutuskan untuk membelanjakan uang mereka pada produk gaya hidup.

Kepala Desk Budaya Harian Kompas, Hilmy Faiq, menjelaskan bahwa pakaian tidak dapat lagi berdiri sendiri sebagai sekadar penutup tubuh atau bagian dari estetika.

Ada tuntutan mendesak bagi jenama untuk merepresentasikan nilai-nilai tertentu yang sejalan dengan prinsip pelanggannya.

Baca juga: Brand Lokal Ini Tanam Sendiri Bahan dan Pewarna Pakaian, Terapkan Fashion Berkelanjutan

"Sekarang ini misalnya isu yang ramai dibicarakan kan soal planet, soal bumi, lalu soal kemanusiaan, soal kesetaraan. Nah, produk-produk yang erat kaitannya dengan isu-isu besar itu paling banyak dicari," ungkap wartawan senior yang juga merupakan pengamat fesyen ini di Summarecon Discovery, Jakarta Utara, Selasa (19/5/2026).

Narasi mengenai proses produksi hingga dampak sosial yang dihasilkan, menjadi daya tarik utama yang mengalahkan aspek visual.

Publik ingin merasa menjadi bagian dari suatu ekosistem kebaikan saat mereka mengenakan sebuah pakaian, seperti mendukung pelestarian alam atau memberdayakan kelompok rentan.

"Jadi produk tidak bisa dilihat hanya ia nyaman enggak dipakai. Harganya terjangkau tidak. Tapi di balik itu ada pesan apa? Apakah misalnya produknya itu memberdayakan masyarakat sekitar? Apakah produknya itu kemudian memanusiakan pekerja?" sambung dia.

Kenyamanan di hati konsumen, menurut Hilmy, perlahan mulai menggeser dominasi kenyamanan di tubuh, maupun kerumitan sebuah desain fesyen.

Baca juga: 5 Rekomendasi Brand Fashion Lokal Ramah Lingkungan, Saatnya Ubah Pilihan Outfit di Hari Bumi

Bahaya "kampanye kosong"

Menyusun narasi yang lekat dengan isu sosial tentu tidak bisa dilakukan setengah hati. Klaim yang dipaksakan hanya demi mendongkrak penjualan justru berisiko menjadi bumerang bagi reputasi desainer maupun perusahaannya.

Editor gaya hidup Daniel Ngantung, mengingatkan para pelaku bisnis fesyen mengenai pentingnya konsistensi dalam setiap rilis koleksi.

"Jangan sampai cuma pada saat awal doang ngomong, untuk koleksi berikutnya dia enggak. Jadi malah bisa dibilang kayak greenwashing. Cuma sekedar jualan aja gitu," terang dia.

Pewarta yang telah lama menyelami dunia fesyen ini menuturkan, praktik yang tidak selaras antara kampanye pemasaran dan proses produksi sesungguhnya, akan langsung dinilai buruk oleh masyarakat luas.

Baca juga: Indonesia Pride World Tour 2026 Usung Fashion Lokal ke Pasar Internasional

Oleh karena itu, pesan yang dikomunikasikan harus lahir dari blueprint jenama tersebut secara organik.

Advisor JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia, Thresia Mareta, menekankan bahwa cerita tidak bisa sekadar tempelan. Nilai tambah tersebut harus melebur menjadi identitas dasar merek sejak awal berdiri.

"Kalau itu menjadi bagian dari identitas, misalnya saya sangat memperhatikan faktor lingkungan. Itu akan tercermin dari setiap titik eksekusi dia (tercermin dalam desain), karena setiap kali dia mengeksekusi sesuatu, itu pasti jadi salah satu pertimbangan," ungkap Thresia.

Ketika DNA tersebut sudah "mendarah daging", produk dengan sendirinya akan bercerita kepada konsumen tanpa perlu didorong oleh materi promosi yang berlebihan.

Baca juga: 9 Item Fashion Anak Punk yang Ikonik, dari Patch hingga Mohawk

Tag:  #konsumen #kritis #soal #sosial #brand #fesyen #wajib #punya #value

KOMENTAR