Kekayaan Prabowo yang Beli 1.098 Sapi Kurban Pakai APBN Rp100 Miliar
Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik setelah pemerintah mengumumkan pembelian 1.098 ekor sapi kurban untuk Idul Adha 2026. Sapi-sapi kurban tersebut dibeli dengan anggaran negara sekitar Rp100 miliar.
Di tengah program tersebut, Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) terbaru Presiden yang dirilis KPK menunjukkan total kekayaan mencapai Rp2,06 triliun. Angka ini memicu diskusi mendalam tentang perbedaan antara kekayaan pribadi dan penggunaan dana publik.
Menurut LHKPN periodik 2025 yang dilaporkan pada 31 Maret 2026, harta kekayaan Prabowo Subianto tercatat Rp2.066.764.868.191 atau sekitar Rp2,06 triliun. Ini naik Rp4,5 miliar dari laporan sebelumnya (Rp2.062 triliun). Tidak ada utang yang tercatat, menandakan posisi keuangan yang sangat solid.
Kekayaan Prabowo Subianto menurut Aset LHKPN
Komposisi harta Prabowo didominasi oleh surat berharga senilai Rp1,677 triliun (sekitar Rp1,6-1,7 triliun). Ini menjadi porsi terbesar, mencerminkan investasi di instrumen keuangan yang kemungkinan berasal dari bisnis sebelum terjun ke politik.
Aset properti berupa tanah dan bangunan bernilai Rp323,7 miliar hingga Rp294,5 miliar, tersebar di Jakarta Selatan dan Kabupaten Bogor. Properti termahal berada di Jakarta Selatan dengan luas tanah 8.365 m² dan bangunan 2.175 m² senilai Rp168,27 miliar.
Selain itu, Prabowo memiliki alat transportasi dan mesin senilai Rp1,25 miliar. Ini termasuk tujuh mobil dan satu motor.
Lalu harta bergerak lain Rp16,46 miliar, serta kas dan setara kas Rp48 miliar. Total aset ini menempatkan Prabowo sebagai salah satu pejabat negara terkaya berdasarkan LHKPN.
Kekayaan ini berakar dari latar belakang Prabowo sebagai pengusaha sukses sebelum menjadi Menteri Pertahanan dan kemudian Presiden. Bisnis di bidang pertanian, peternakan, dan investasi lainnya telah membangun fondasi kekayaannya selama puluhan tahun.
Program Kurban Rp100 Miliar dari APBN
Pada sisi lain, program kurban Presiden dengan 1.098 ekor sapi premium (Simental, Limousin, Brahman, Angus, Belgian Blue, dan sapi Bali) menggunakan dana APBN melalui pos Bantuan Presiden dan Bantuan Kemasyarakatan Presiden.
Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro menjelaskan anggaran sekitar Rp100 miliar berasal dari negara, bukan kantong pribadi Prabowo.
Sapi-sapi ini dibeli dari peternak lokal dengan bobot rata-rata di atas 800 kg, dan akan dibagikan ke 552 wilayah di 38 provinsi, lembaga sosial, pondok pesantren, serta tokoh masyarakat.
Program ini bertujuan mendukung peternak lokal, meningkatkan ekonomi pedesaan, dan memenuhi syariat Islam dalam berkurban. Pemerintah menekankan manfaatnya bagi rakyat banyak, terutama di daerah.
Namun, penamaan "sapi kurban Prabowo" meski dananya dari APBN memicu kritik. Sebagian masyarakat mempertanyakan mengapa program publik disandingkan dengan figur pribadi presiden, sementara nilai Rp100 miliar untuk satu program kurban dianggap signifikan di tengah berbagai kebutuhan negara lainnya.
Kekayaan pribadi Rp2,06 triliun Prabowo jauh melebihi anggaran kurban Rp100 miliar. Ini menggambarkan kapasitas finansial pribadi yang kuat, tapi juga menyoroti mekanisme penggunaan APBN untuk program sosial presiden. Tradisi bantuan presiden memang ada sejak lama, namun skala dan visibilitas program ini lebih tinggi.
Program 1.098 sapi kurban, meski kontroversial dalam penamaannya, menjadi bagian dari narasi kepemimpinan Prabowo yang ingin dekat dengan tradisi dan masyarakat.
Tag: #kekayaan #prabowo #yang #beli #1098 #sapi #kurban #pakai #apbn #rp100 #miliar