Keren! Remaja Ini Teliti Teh Kombucha Jadi Inovasi Medis Perban Ramah Lingkungan
ilustrasi kain perban. (Pexels/Cottonbro)
08:10
31 Mei 2026

Keren! Remaja Ini Teliti Teh Kombucha Jadi Inovasi Medis Perban Ramah Lingkungan

Bagi sebagian besar orang, kombucha mungkin hanya dikenal sebagai tren minuman teh fermentasi yang menyegarkan dan kaya manfaat bagi kesehatan pencernakan. Namun, di tangan seorang remaja bernama Kayla, lapisan selulosa yang dihasilkan dari proses fermentasi teh tersebut—atau yang biasa disebut SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast)—bisa disulap menjadi sesuatu yang jauh lebih berdampak bagi dunia medis dan lingkungan.

Berawal dari rasa ingin tahu yang besar, Kayla berhasil mengembangkan SCOBY menjadi sebuah perban alternatif ramah lingkungan untuk pembalut luka. Inovasi luar biasa ini ia tuangkan dalam sebuah makalah ilmiah berjudul “Chitosan-Guar Gum Coated SCOBY Bacterial Cellulose As A Potential Material For Sustainable Wound Dressing”.

Menembus Panggung Akademis Internasional

Riset yang dikembangkan Kayla ini bukan sekadar tugas sekolah pengisi waktu luang. Melalui dedikasinya yang mendalam, ia berhasil berdiri di depan para akademisi dunia untuk mempresentasikan hasil temuan tersebut dalam sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan oleh The NorthCap University, India.

Kayla membuat inovasi perban ramah lingkungan dari kombucha. (Dok. Binus School Simprug)Kayla membuat inovasi perban ramah lingkungan dari kombucha. (Dok. Binus School Simprug)

Tak berhenti di sana, jurnal ilmiah hasil penelitiannya pun sukses menembus publikasi di International Journal of Environmental Sciences. Berkat gagasan ramah lingkungan yang dinilai sangat layak untuk diwujudkan ini, Kayla juga berhasil membawa pulang Global Youth Action Fund Grant senilai USD 2.500.

Menariknya, Kayla tidak tumbuh menjadi remaja yang hanya menghabiskan waktu di dalam laboratorium saja. Di sekolahnya, BINUS SCHOOL Simprug, tempat ia menimba ilmu selama 15 tahun sejak TK, ia dikenal sebagai sosok all-rounder yang aktif. Kayla pernah mengemban tanggung jawab sebagai Presiden OSIS, Deputy Secretary-General Model United Nations, hingga aktif di klub menyanyi dan tarian tradisional.

"Saya lebih banyak fokus pada kompetisi akademis, tetapi di sini saya juga dapat mengeksplor lebih banyak bidang disiplin lain di luar akademis... Saya didorong untuk berkembang secara holistik," ungkap Kayla.

Pentingnya Ruang untuk Mengeksplorasi Passion

Tumbuhnya peneliti muda seperti Kayla tentu tidak lepas dari peran ekosistem di sekitarnya. Kemandirian berpikir dan kemampuan menulis riset independen yang dimiliki Kayla rupanya dipupuk sejak dini melalui penerapan kurikulum International Baccalaureate (IB) secara penuh di sekolahnya.

Melalui program yang konsisten, para siswa diberi ruang personal untuk membangun identitas akademis dan mendalami apa yang benar-benar mereka minati. Pendekatan holistik inilah yang pada akhirnya membuat lulusan seperti Kayla memiliki modal serta kesiapan mental yang berbeda saat melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.

Isaac Koh, Kepala Sekolah BINUS SCHOOL Simprug, turut menyampaikan bahwa lingkungan belajar yang tepat menjadi kunci utama dalam memupuk potensi luar biasa setiap anak. "Kami tidak hanya mempersiapkan mereka untuk diterima di universitas terbaik, kami mempersiapkan mereka untuk berkembang di sana," jelasnya.

Kisah Kayla memberikan kita sudut pandang baru tentang generasi muda hari ini di tahun 2026: bahwa dengan ruang eksplorasi yang tepat, sebuah tren gaya hidup sehat yang sederhana di rumah pun bisa diubah menjadi inovasi sains yang diakui oleh dunia global.

Editor: M. Reza Sulaiman

Tag:  #keren #remaja #teliti #kombucha #jadi #inovasi #medis #perban #ramah #lingkungan

KOMENTAR