Dadan Hindayana dari Partai Apa? Eks Kepala BGN yang Dijemput Kejagung
Dadan Hindayana (Instagram.com/ittama.bgn)
18:35
3 Juni 2026

Dadan Hindayana dari Partai Apa? Eks Kepala BGN yang Dijemput Kejagung

Dadan Hindayana menjadi sorotan usai dicopot dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada 2 Juni 2026. Sebagai gantinya, Presiden Prabowo Subianto melantik Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN yang baru.

Nasib Dadan Hindayana tidak hanya dicopot, tetapi juga dijemput oleh Kejaksaan Agung (Kejagung). Situasi ini membuat publik banyak yang bertanya-tanya, Dadan Hindayana dari partai apa?

Jawabannya sederhana, Dadan Hindayana bukan kader partai politik mana pun. Dadan adalah akademisi dan pakar entomologi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang masuk pemerintahan melalui jalur profesional dan kedekatan personal dengan Presiden Prabowo Subianto.

Latar Belakang Akademik dan Karier Dadan Hidayana

Kepala BGN Dadan Hindayana. [Antara]Kepala BGN Dadan Hindayana. [Antara]

Dadan Hindayana lahir di Garut, Jawa Barat, pada 10 Juli 1967. Ia lulus sarjana Pertanian IPB tahun 1990 sebagai lulusan terbaik Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan.

Dadan kemudian melanjutkan magister di University of Bonn dan doktor di Leibniz Universität Hannover, Jerman, dengan fokus entomologi terapan atau ilmu serangga.

Sebelum menjadi Kepala BGN, Dadan dikenal sebagai dosen di Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB dan memiliki publikasi di jurnal internasional bereputasi.

Karier birokratinya dimulai saat ia dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional yang baru dibentuk. Pada 19 Agustus 2024, Presiden Joko Widodo melantiknya sebagai Kepala BGN pertama.

Jabatan ini ia pegang hingga era Presiden Prabowo Subianto. BGN bertugas mengkoordinasikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), program unggulan Prabowo untuk mengatasi stunting dan gizi buruk.

Hubungan Dadan Hindayana dengan Prabowo

Dadan Hindayana (Instagram)Dadan Hindayana (Instagram)

Dadan Hindayana bukan berasal dari lingkaran politik Gerindra atau partai koalisi. Kedekatannya dengan Prabowo bermula dari urusan "pohon cemara udang" di rumah Prabowo yang terserang penyakit.

Sebagai ahli hama dan penyakit tanaman, Dadan diminta membantu mengobati pohon tersebut hingga sembuh. Hubungan ini kemudian berkembang menjadi diskusi kebijakan, terutama bidang pertanian dan gizi.

Melalui Menteri PPN Rachmat Pambudy yang merupakan rekan sesama akademisi IPB, nama Dadan masuk dalam pertimbangan Prabowo.

Ia termasuk salah satu dari sedikit pimpinan tinggi BGN yang bukan berlatar belakang militer atau kepolisian. Penunjukannya dianggap sebagai upaya membawa pendekatan ilmiah ke program MBG yang ambisius.

Selama memimpin BGN, program MBG menuai banyak kritik. Kasus keracunan massal berulang terjadi di berbagai daerah, memakan korban ratusan siswa.

Selain itu, ada isu tata kelola, kedisiplinan, dan dugaan pemborosan anggaran, termasuk belanja ratusan miliar untuk kegiatan dan kendaraan.

Dadan Hindayana Dicopot Presiden Prabowo

Kepala BGN Dadan Hindayana (bgn.go.id)Kepala BGN Dadan Hindayana (bgn.go.id)

Pada 2 Juni 2026, Presiden Prabowo melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan pencopotan Dadan Hindayana beserta dua wakil kepala, Lodewijk Freidrich Paulus dan Sony Sanjaya.

Pencopotan ini dilakukan setelah monitoring selama 1,5 tahun. Presiden menunjuk pengganti baru untuk memperbaiki tata kelola program MBG yang sedang diperluas secara nasional.

Keesokan harinya, 3 Juni 2026 pagi, Dadan Hindayana bersama dua mantan wakil kepala dijemput tim Kejagung.

Kantor BGN di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, juga digeledah penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus).

Meski belum ada rincian resmi dakwaan, spekulasi publik mengarah pada dugaan korupsi pengadaan, jual beli jabatan, atau penyimpangan anggaran program MBG.

Kejagung menyiapkan tim dokter untuk memeriksa kondisi kesehatan ketiganya sebelum pemeriksaan intensif.

Dadan sempat membuka suara pasca-pencopotan, menyatakan bahwa pergantian jabatan adalah hak prerogatif Presiden. Ia menerima keputusan tersebut dengan lapang dada.

Kasus Dadan Hindayana menunjukkan tantangan besar dalam menjalankan program strategis nasional seperti MBG. Sebagai lembaga baru, BGN diharapkan bisa menghadirkan solusi berbasis sains, tetapi ternyata dihadapkan pada masalah operasional, pengawasan, dan akuntabilitas yang berat.

Editor: Ruth Meliana

Tag:  #dadan #hindayana #dari #partai #kepala #yang #dijemput #kejagung

KOMENTAR