Bahaya Force Feeding, Bisa Sebabkan Anak Trauma Makan
- Menghadapi anak yang mengunci rapat mulutnya saat waktu makan, juga disebut gerakan tutup mulut (GTM) sehari-hari, tentu sangat menguras pikiran orangtua.
Rasa cemas akan kurva pertumbuhan fisik yang terhambat kerap memancing ayah maupun ibu mengambil jalan pintas yang terkesan praktis, tetapi ternyata berisiko, yakni menyuapkan makanan secara paksa (force feeding).
Tak jarang, anak sampai berteriak, menangis, dan meraung, saat makanan dipaksa masuk ke dalam mulutnya.
Baca juga: Nikita Willy Beberkan Trik Atasi Trauma Makan pada Anak
Menurut dokter spesialis anak Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, MKes, praktik pemaksaan atau intimidasi fisik yang berkelanjutan sama sekali tidak akan menyelesaikan akar permasalahan GTM.
Pasalnya, tindakan ini merusak respons alami tubuh balita terhadap sinyal rasa lapar, serta mengacaukan sistem metabolisme mereka dari dalam.
"Akhirnya, begitu pas dia lihat makanan, yang naik bukan si hormon ghrelin dan juga leptin sebagai hormon yang dia bertanggung jawab sama rasa lapar, tapi yang naik adalah hormon kortisol (hormon stres)."
Kata dr. Miza dalam acara LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
Bahaya force feeding pada anak
Makanan dipandang sebagai sumber ancaman
Kehadiran sepiring makanan di hadapan balita seharusnya menjadi stimulus visual yang mengundang selera.
Namun, ketika pengalaman menyantap hidangan dibalut dengan teriakan, tangisan, omelan, dan tekanan, otak anak akan merekam piring dan sendok sebagai sumber ancaman yang sangat menakutkan.
Hormon stres menurunkan sistem kekebalan tubuh
Dalam kondisi penuh kecemasan, kelenjar endokrin merespons dengan memproduksi hormon kortisol dalam jumlah sangat besar.
Baca juga: Cara Nana Mirdad dan Andrew White Biasakan Anak Makan Sayur
Adanya hormon stres yang melimpah ruah ini tidak hanya mematikan selera, tetapi juga menyerang langsung pertahanan biologis di tubuh si kecil.
Dokter spesialis anak Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, MKes dalam acara LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
"Hormon kortisol tersebut dia pasti akan berlawanan dengan hormon-hormon lain. Bahkan menurut penelitiannya, hormon kortisol berlawanan dengan sistem imun tubuh manusia," ungkap dr. Miza.
Penurunan daya tahan secara mendadak ini menjadikan balita sangat rentan terhadap serangan patogen berbahaya dari udara.
"Jadi kalau misalnya kortisol kita naik, imun kita tuh drop," ujar dr. Miza.
Memengaruhi kinerja saluran cerna
Efek dari lonjakan kortisol tidak hanya berakhir pada melemahnya sistem kekebalan tubuh.
Organ usus dan lambung merupakan dua yang paling sensitif menanggapi segala gejolak emosi maupun kecemasan ekstrem.
Baca juga: Cegah Anak GTM, Jessica Iskandar Perkenalkan Makanan Keluarga Sejak MPASI
Ketika anak diselimuti tekanan saat di meja makan, otot di area perut mengalami kontraksi penolakan yang sangat masif. Ini membuat sistem pencernaan tidak bisa menyerap nutrisi dengan optimal.
Selain itu, kadar stres yang tidak tertangani akan menghabisi koloni mikrobiota sehat yang bermukim di dasar lambung.
"Karena hormon kortisolnya ini dia cukup cukup dominan lah, kalau misalnya dia naik, memang yang lain-lain sama dia bakalan kena," sebut dr. Miza.
Mencegah trauma makan di rumah
Menghentikan segala bentuk tekanan saat mendampingi anak makan adalah hal wajib. Orangtua perlu memikirkan penderitaan emosional anak, dengan memposisikan diri mereka di kondisi serupa.
Dokter Miza menganalogikannya seperti seseorang yang korban perundungan di lingkungan profesional. Fenomena tersebut juga bisa membuat seseorang mengalami tekanan mental, seperti seorang balita yang terus dipaksa untuk makan.
"Misalnya setiap kali masuk kantor, pas begitu di kantor di-bully di kantor. Pasti akan ada di titik di mana, pada saat mau berangkat dari rumah, kan udah kayak ngerasa, 'Aduh, gua kayaknya enggak mau berangkat aja deh hari ini'," tutur dr. Miza.
Menyikapi GTM membutuhkan kesabaran yang luar biasa, serta intervensi tenaga profesional yang tepat.
Ini tidak hanya membantu orangtua mengetahui cara yang tepat memberi anak makan saat GTM, tetapi juga mengetahui penyebab utama si kecil mengalaminya.
"Makanya force feeding enggak, dan jangan pernah, menjadi jawaban. Kalau emang bingung banget, datang ke dokter, diobrolin sama dokter," pungkas dr. Miza.
Baca juga: Anak Susah Makan? Dokter Ingatkan Evaluasi Feeding Rules Sebelum Curiga Penyakit
Tag: #bahaya #force #feeding #bisa #sebabkan #anak #trauma #makan