Kontestasi Kekuasaan Kian Liar di Luar Medan Perang
Ilustrasi(KOMPAS)
05:50
22 Maret 2026

Kontestasi Kekuasaan Kian Liar di Luar Medan Perang

PENGUSIRAN seorang narasumber dari program televisi nasional beberapa waktu lalu, memperlihatkan dinamika dialog yang melampaui batas tata cara perdebatan biasa.

Perdebatan yang dipicu oleh isu konflik global—terutama terkait peran dan posisi negara-negara yang terlibat dalam perang—dengan cepat berkembang menjadi pertukaran pandangan yang intens, hingga akhirnya dihentikan oleh moderator.

Situasi tersebut bahkan mendorong Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memanggil pihak televisi yang menayangkan acara tersebut dan memberikan teguran tertulis.

Hal ini menandakan bahwa peristiwa tersebut telah masuk ke dalam perhatian yang lebih luas terkait praktik penyiaran di ruang publik.

Dalam konteks ini, apa yang tampak sebagai debat sesaat dapat dibaca sebagai bagian dari dinamika pertarungan yang berlangsung di luar medan perang.

Gema dari peristiwa itu tidak berhenti di studio. Ia segera bergulir ke ruang media sosial, di mana potongan-potongan perdebatan dipertukarkan dan dipertajam dengan nada yang tidak kalah kuat.

Baca juga: Menjaga Persatuan, Merawat Kritik

Dalam banyak percakapan, perbedaan pendapat dengan mudah berubah menjadi pernyataan yang saling menegaskan posisi masing-masing, sementara bahasa kerap kehilangan kepekaan.

Pada titik ini, ruang digital kita seolah memantulkan situasi yang serupa, yakni arena pertukaran gagasan yang intens, meskipun tanpa senjata.

Gejala serupa juga tampak dalam berbagai perdebatan publik lainnya belakangan ini, meskipun dengan konteks berbeda.

Jika dicermati lebih jauh, peristiwa semacam ini tidak pernah berdiri sendiri. Ia bukan semata soal siapa yang benar atau salah dalam sperdebatan, juga bukan hanya persoalan etika komunikasi yang muncul di hadapan publik.

Ada sesuatu lebih dalam yang sedang bekerja di ruang publik: relasi kekuasaan yang terus bergerak, dinegosiasikan, dan dipertontonkan dalam ruang sosial yang semakin terbuka.

Dalam situasi seperti ini, perdebatan publik tidak lagi hanya menjadi ruang pertukaran gagasan. Ia juga dapat menjadi arena di mana berbagai posisi, kepentingan, dan cara pandang saling berhadapan.

Kata-kata tidak hanya berfungsi untuk menjelaskan atau memahami, tetapi juga untuk menegaskan posisi.

Dalam proses ini, tujuan perdebatan kerap bergeser—tidak selalu untuk mencari pemahaman bersama, tetapi juga untuk mempertahankan sudut pandang masing-masing.

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa “perang” tidak selalu hadir dalam bentuk benturan fisik. Dalam kehidupan sehari-hari, ia dapat berlangsung melalui bahasa, simbol, dan cara-cara halus yang membentuk persepsi serta memengaruhi posisi seseorang dalam relasi sosial.

Apa yang tampak sebagai percakapan biasa dapat berkembang menjadi ruang kontestasi yang sarat makna.

Baca juga: Menolak Dunia Pasca-Norma

Sebagai seorang pembelajar antropologi yang pernah bersentuhan dengan pemikiran Michel Foucault, saya melihat bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui institusi formal atau struktur negara, tetapi juga melalui praktik keseharian seperti cara kita berbicara, berdebat, dan merespons satu sama lain di ruang publik.

Ia tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang menekan dari atas, tetapi sering kali bekerja secara tersebar, melalui norma, bahasa, dan kebiasaan yang kita anggap wajar.

Dalam pengertian ini, dinamika yang muncul di layar televisi maupun yang bergulir di media sosial dapat dibaca sebagai bagian dari proses yang lebih luas.

Ia memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja secara halus sekaligus nyata, membentuk cara kita melihat perbedaan, menyusun argumen, dan menempatkan diri di hadapan orang lain.

Di tengah situasi seperti ini, tantangan kita bukan hanya menjaga agar perdebatan tetap berlangsung, tetapi juga memastikan bahwa ruang publik tetap menjadi tempat bertukar gagasan secara bermartabat.

Kritik tetap penting dalam kehidupan demokrasi, tapi cara menyampaikannya menjadi bagian yang tidak kalah menentukan.

Baca juga: Pulang ke Desa: Menenangkan Diri atau Sekadar Sembunyi?

Pada akhirnya, kita perlu kembali mengingat bahwa tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan kemenangan satu pihak. Dalam banyak situasi, yang lebih penting adalah menjaga agar ruang bersama tetap terpelihara.

Sebab ketika setiap percakapan berubah menjadi ajang saling menegaskan posisi masing-masing secara berlebihan, kita bukan hanya kehilangan kualitas dialog, tetapi juga perlahan kehilangan kemampuan untuk hidup bersama dalam perbedaan.

Tag:  #kontestasi #kekuasaan #kian #liar #luar #medan #perang

KOMENTAR