Soal Titip Anak di Daycare: Dilema Keluarga Urban dan Mahalnya Rasa Aman
Ilustrasi balita, siswa PAUD. (SHUTTERSTOCK/Rawpixel.com)
12:54
27 April 2026

Soal Titip Anak di Daycare: Dilema Keluarga Urban dan Mahalnya Rasa Aman

- Jalanan padat, orang-orang tergesa-gesa, dan berpacu dengan waktu menjadi suasana pagi yang jamak dialami warga kota besar, termasuk keluarga muda yang menyimpan pertanyaan di kepala: Kepada siapa anak dititipkan hari ini?

Pola pengasuhan anak terus bergeser seiring meluasnya fenomena kedua orangtua bekerja seiring evolusi peran gender dan terbukanya kesempatan kerja bagi perempuan.

Namun, di balik perubahan itu, muncul dilema baru yang diam-diam menguras emosi banyak orangtua, yakni mencari pengasuhan yang aman, tepercaya, dan menenangkan hati.

Balai penitipan anak atau daycare kemudian hadir sebagai salah satu solusi bagi masyarakat urban.

Bagi keluarga yang tinggal jauh dari orangtua atau kerabat, daycare sering kali menjadi pilihan paling realistis.

Baca juga: Soal Kasus Daycare di Yogyakarta, Menko PMK: Itu Memprihatinkan, Jadi Concern Kami

Meski begitu, keputusan menitipkan anak bukan perkara sederhana. Keputusan ini kerap dibarengi rasa cemas, khawatir, bahkan rasa bersalah. Mencari daycare yang transparan dan dapat dipercaya pun bukan hal mudah.

Terlebih, berbagai kasus menyayat hati justru datang dari tempat yang seharusnya menghadirkan rasa aman. Salah satu yang ramai belakangan ialah kasus daycare Little Aresha di Yogyakarta, yang mengikat dan menyumpal mulut balita sepanjang hari.

Bayang-bayang kekhawatiran akan kondisi semacam itu tidak mudah hilang dari benak para orangtua.

Baca juga: Kronologi Kekerasan Daycare Jogja Terbongkar: Eks Karyawan Lapor, Polisi Lihat Kondisi Tak Manusiawi

Titip anak ke daycare

Seorang pekerja di Jakarta, Singgih, merasakan langsung sulitnya menemukan tempat penitipan anak yang tepat.

Ia pernah berpindah dari satu daycare ke daycare lain sebelum akhirnya merasa cocok dengan tempat yang sekarang.

Bagi keluarganya, daycare bahkan menjadi opsi kedua setelah kelelahan menghadapi persoalan Asisten Rumah Tangga (ART).

Ia dan keluarga kecilnya tercatat sudah tiga kali mengganti ART karena berbagai sebab, mulai dari kemalingan hingga minimnya etos kerja. Situasi itu, kata dia, cukup mengganggu ritme kerja dirinya dan sang istri.

“Jadi mendapatkan daycare yang sekarang bukan berarti tanpa ada perbandingan dengan daycare yang lain,” kata Singgih kepada Kompas.com, Minggu (26/4/2026).

Baca juga: Warga Ungkap Kondisi Daycare Little Aresha Yogyakarta Sebelum Digerebek Polisi, Pengasuh Dinilai Tertutup

Dia tak menampik, berbagai pemberitaan buruk tentang daycare sempat menambah kecemasan.

Kekhawatiran itu bahkan sudah menghantuinya sejak beberapa tahun lalu, ketika muncul berita negatif tentang kelakuan biadab pengelola daycare di Depok terhadap balita yang diasuhnya.

Namun, kecemasan itu tak dibiarkan tumbuh sendirian. Singgih memilih mencari cara untuk tetap hadir dalam keseharian anaknya, meski fisiknya tidak selalu bersama sang buah hati.

Baginya, rasa aman bisa dibaca dari tanda-tanda sederhana. Salah satunya, ketika anak tampak nyaman dan ingin kembali ke daycare keesokan hari.

Tanda lain terlihat saat waktu penjemputan tiba, ketika teman-teman kecil sang anak memberi salam perpisahan hangat.

“Mereka seperti menantikan hari esok untuk bertemu lagi,” tutur Singgih.

Ia juga menaruh nilai lebih pada pengelola daycare yang terbuka terhadap masukan orang tua. Singgih memahami, tempat pengasuhan tidak selalu sempurna, tetapi harus mau mendengar dan memperbaiki diri.

“Kita tak menuntut banyak hal pada daycare. karena pada dasarnya anak-anak akan menemukan cara mereka bermain sendiri. Jadi sebenarnya mereka cukup menjaga dunia anak ini tetap aman dan nyaman, selebihnya, biarkan saja mereka bermain sesama mereka,” jelas Singgih.

Baca juga: Kasus Kekerasan Daycare Little Aresha, KPAI: Perlu Penelusuran ke Pemilik Yayasan

Titip anak ke keluarga sendiri

Di sisi lain, tidak semua keluarga mengambil jalan serupa. Pekerja Jakarta lainnya, Dwi (30), justru memilih membesarkan anak pertamanya bersama keluarga besar.

Ada orangtua kandung dan keluarga mertua yang siap bergantian mengasuh cucu mereka. Di tengah banyaknya kabar negatif tentang daycare, pilihan itu terasa semakin mantap baginya.

Meski memahami tidak semua pengelola memiliki rekam jejak buruk, ia merasa pengasuhan keluarga memberi ketenangan yang lebih besar.

“Aku mendingan dia (anakku) langsung sekolah saja nanti, sudah langsung institusi resmi terdaftar. Dan kepantau sama guru lain atau ortu lain yang kadang suka mantengin di sekolah,” beber Dwi.

Apa pun pilihannya, kegelisahan yang mereka rasakan sama: memastikan anak tumbuh di tangan yang tepat, ketika orang tua harus berada di tempat lain.

Lokasi Daycare di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta jadi perhatian publik pasca digaris polisi, Sabtu (25/4/2026)Kompas.com/Wisang Seto Pangaribowo Lokasi Daycare di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta jadi perhatian publik pasca digaris polisi, Sabtu (25/4/2026)

Mahalnya rasa aman

Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai, maraknya kebutuhan terhadap daycare menunjukkan adanya perubahan besar dalam struktur pengasuhan keluarga di Indonesia, dari pola extended family (keluarga besar) menjadi nuclear family (keluarga inti) yang hidup lebih mandiri di perkotaan.

Dalam kondisi ketika orang tua dan kerabat tidak lagi tinggal berdekatan, banyak pasangan bekerja harus mencari pengasuhan dari pihak lain.

Situasi ini, menurut dia, pada akhirnya menandakan bahwa rasa aman dalam pengasuhan anak kini memiliki harga yang tidak murah.

"Jadi keputusan orang tua bukan semata-mata soal pilihan bebas ya, tetapi seringkali merupakan hasil dari keterbatasan struktural," kata Rakhmat kepada Kompas.com, Senin (27/4/2026).

Dosen di UNJ, Rakhmat HidayatKOMPAS.com/DEVINA HALIM Dosen di UNJ, Rakhmat Hidayat

Selain pola pengasuhan, keterbatasan struktural ini dipengaruhi oleh tekanan ekonomi yang membuat pasangan suami istri harus mencari nafkah (dual income household).

Ia tidak memungkiri, biaya hidup yang tinggi di perkotaan membuat satu pencari nafkah semakin sulit dipertahankan. Pada akhirnya, daycare menjadi pilihan ketika alternatif pengasuhan makin minim.

"Selama ini saya melihat tidak semua keluarga memiliki akses ke pengasuh pribadi atau babysitter yang tepercaya atau terjangkau. Nah, daycare itu menjadi opsi institusional yang dianggap lebih stabil, meskipun tidak selalu aman," papar Rakhmat.

Faktor lainnya, penitipan anak dalam masyarakat perkotaan sudah dinormalisasi. Membawa anak ke daycare ketika orang tua harus memenuhi jam kerja yang rigid mulai dianggap sebagai hal wajar atau institutionalized.

Dalam beberapa kasus, penitipan anak pun bukan lagi pilihan terakhir.

"Ada yang disebut sebagai konsekuensi profesionalisasi versus komodifikasi. Bahwa saya melihatnya pengasuhan menjadi jasa yang diperjualbelikan. Hal ini bisa meningkatkan standar jika diawasi, tetapi juga membuka risiko eksploitasi atau kekerasan jika regulasi lemah," ungkap Rakhmat.

Cuti belum cukup mendukung

Sementara itu, Pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tadjuddin Noer Effendi beranggapan, kebijakan cuti melahirkan maupun cuti ayah saat ini sejatinya belum cukup untuk menopang kebutuhan pengasuhan pada fase awal kehidupan anak, terutama pada masa-masa emas tumbuh kembang.

Menurut dia, persoalan justru muncul ketika masa cuti berakhir, sementara orang tua harus kembali bekerja.

"Sesudah tiga bulan itu anak mau ke mana? Terpaksa ke daycare, kan," ujarnya, menggambarkan dilema yang dihadapi banyak keluarga pekerja.

Baca juga: Pemerintah Bakal Buat Cuti Ayah Tak Hanya 3 Hari di Aturan Turunan UU KIA

Ia sendiri mengaku pernah mengalami langsung dilema serupa di lingkungan keluarganya.

Saat anak dan menantunya sama-sama bekerja, semula muncul rencana menitipkan cucu mereka ke daycare.

Namun, rencana itu memicu perdebatan di dalam keluarga. Anak sulungnya menolak karena khawatir setelah mendengar sejumlah kasus kekerasan dan pengasuhan buruk di tempat penitipan anak.

Pada akhirnya, Tadjuddin bersama istrinya memilih turun tangan mengasuh cucu mereka sejak usia tiga bulan. Pengasuhan itu berlangsung hingga sang cucu beranjak lebih besar.

"Jadi kita masukkan di daycare (saat usianya sudah lebih besar). Tapi kami tetap mengawasi dengan baik. Juga rumah saya hanya kira-kira seratus meter (jarak daycare) dari rumah saya," beber dia.

Jadi isu kesejahteraan

Tadjuddin berpandangan, layanan daycare sudah saatnya ditempatkan sebagai bagian dari isu kesejahteraan nasional, bukan semata urusan privat masing-masing keluarga.

Terlebih, pemerintah tengah mendorong berbagai program percepatan penurunan stunting yang menuntut perhatian serius pada kualitas pengasuhan anak usia dini.

Menurut dia, ketika anak berusia tiga bulan hingga empat tahun berada di daycare selama orang tua bekerja, maka tumbuh kembang mereka harus dipastikan tetap terpantau. Asupan gizi, pola tidur, kebersihan, hingga stimulasi perkembangan tidak bisa diserahkan begitu saja tanpa standar yang jelas.

Karena itu, ia menilai daycare idealnya didukung sistem pengawasan yang memadai, termasuk keberadaan tenaga pendamping profesional seperti ahli gizi, dokter, perawat, maupun pengasuh terlatih.

"Setiap minggu kita minta laporan apa yang terjadi dengan anak itu. Berat badannya perlu ditimbang sebulan sekali supaya kita tahu anak ini stunting apa tidak," ucapnya.

Perbanyak daycare di lingkungan kantor

Lebih lanjut, Tadjuddin berpendapat, kantor-kantor besar sudah seharusnya mulai menyediakan fasilitas daycare bagi para pekerja.

Pasalnya, perubahan pola pengasuhan di era modern membuat kebutuhan tempat penitipan anak yang aman dan terjangkau semakin mendesak, terutama bagi keluarga dengan kedua orang tua yang bekerja.

Baca juga: Pemerintah Didesak Perketat Pengawasan Daycare Usai Kasus Kekerasan Anak di Yogyakarta

Ia berpandangan, kehadiran daycare di lingkungan kerja dapat menjadi solusi agar orang tua tetap produktif tanpa harus dihantui kekhawatiran soal pengasuhan anak selama jam kerja. Fasilitas daycare di kantor perlu diperbanyak dan didorong menjadi bagian dari kebijakan ketenagakerjaan yang ramah keluarga.

Di sisi lain, ia menekankan perlunya regulasi pemerintah yang ketat terkait pendirian dan operasional daycare.

Izin usaha daycare sebaiknya diberikan secara bersyarat, dengan standar minimum yang jelas. Misalnya, setiap penyelenggara wajib memiliki dukungan tenaga profesional seperti dokter, perawat, serta ahli gizi yang mengawasi kualitas makanan dan kesehatan anak.

Ia mengingatkan, tanpa pengawasan memadai, daycare berisiko hanya menjadi tempat penitipan semata, padahal anak-anak berada dalam fase penting pertumbuhan.

"Harus ada dokter, ada bidan, ada ada perawat gitu, loh. Yang juga kalau dia makan di situ ada yang ahli gizi gitu. Jadi bukan sembarangan," tegas dia.

Tadjuddin lalu menyinggung fasilitas daycare yang disediakan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai praktik baik. Layanan itu membantu para dosen dan pegawai perempuan yang memiliki anak, sehingga mereka dapat bekerja dengan lebih tenang karena anak dititipkan di lingkungan kampus yang terpantau.

"Dan itu sangat dikontrol. ada dokternya, ada yang mengawasi mengenai makanannya dan seterusnya itu. Di UGM ada itu," tandasnya.

Tag:  #soal #titip #anak #daycare #dilema #keluarga #urban #mahalnya #rasa #aman

KOMENTAR