Ketika ''Kritik'' Tersenyum di Ruang Kekuasaan
Aktivis Rocky Gerung usai menghadiri pelantikan pejabat di Istana, Jakarta, Senin (27/4/2026). (KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA)
14:06
28 April 2026

Ketika ''Kritik'' Tersenyum di Ruang Kekuasaan

DUA hari terakhir, publik menyaksikan pemandangan yang segera menjadi perbincangan: Rocky Gerung, yang selama ini dikenal sebagai aktor wacana yang aktif menguji kekuasaan melalui kritik, hadir di Istana dalam sebuah acara pelantikan pejabat negara.

Ia berbincang santai, berjabat tangan, bahkan melempar senyum di tengah lingkar kekuasaan.

Suasana tampak cair dan akrab. Namun justru di situlah persoalannya.

Pertanyaannya bukan siapa yang hadir, melainkan apa yang sedang terjadi ketika kritik berada di ruang yang selama ini ia soroti.

Yang tampak di permukaan adalah gestur: senyum, keakraban, percakapan ringan. Namun yang bekerja di dalamnya adalah makna.

Kritik yang sebelumnya berdiri di luar kini berada di dalam. Ia tidak lagi berhadap-hadapan, melainkan berbagi ruang. Ini bisa dibaca sebagai tanda keterbukaan kekuasaan. Namun sekaligus menuntut pembacaan yang lebih cermat.

Baca juga: Salah Kaprah Pajak Mobil-Motor Listrik

Pertanyaan pentingnya bukan sekadar tentang kehadiran itu sendiri, melainkan pertimbangan di baliknya.

Apakah ini bentuk keterbukaan terhadap kritik? Upaya merangkul suara yang selama ini berada di luar?

Atau cara yang lebih halus dalam mengelola kritik? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab tergesa, tetapi penting diajukan agar pembacaan tidak berhenti pada kesan permukaan.

Makna itu semakin jelas ketika relasi yang sebelumnya berjarak mulai didefinisikan ulang dalam bahasa personal.

Ungkapan bahwa ia adalah “teman” dari sosok di pusat kekuasaan bukan sekadar pernyataan ringan.

Ia menandai pergeseran: dari kritik yang menjaga jarak menuju kedekatan yang membuka kemungkinan lain. Dalam posisi ini, kritik tidak lagi hanya berbicara kepada kekuasaan, tetapi juga berada di dalam orbitnya.

Padahal kritik lahir dari jarak. Ia membutuhkan posisi yang cukup jauh untuk melihat dengan jernih dan menilai tanpa tekanan langsung dari kekuasaan.

Jarak ini bukan sekadar fisik, tetapi sikap intelektual: kemampuan untuk tidak larut dalam logika kekuasaan.

Dari sinilah kritik memperoleh daya ganggunya—kemampuannya untuk mengusik dan mempertanyakan.

Ketika kritik masuk ke ruang kekuasaan, relasinya berubah. Ia tidak hanya mengamati, tetapi juga mengalami.

Kedekatan ini bisa memperkaya perspektif, membuat kritik lebih kontekstual dan realistis.

Namun di titik yang sama, ia juga membawa konsekuensi: kritik kehilangan jarak yang membuatnya tajam.

Di sinilah ambiguitas muncul. Kritik yang terlalu jauh bisa tidak relevan, tetapi yang terlalu dekat berisiko menjadi lunak.

Baca juga: Dari Washington ke Jakarta: Peringatan Keras Purbaya tentang Biaya Logistik 23 Persen

Di antara keduanya, kritik berada dalam posisi yang serba tidak sederhana. Ia harus menjaga keseimbangan antara memahami dan tetap mempertanyakan.

Ini tidak mudah, karena ruang kekuasaan memiliki daya tarik: ia menyerap, merangkul, dan kerap menormalisasi.

Karena itu, momen ini tidak cukup dibaca sebagai tanda kedewasaan politik. Ia juga bisa menandai pergeseran fungsi.

Kritik mungkin tidak dibungkam, bahkan tampak diterima. Namun yang berubah bisa jadi cara kerjanya: dari yang mengganggu menjadi lebih dapat diterima, dari yang menantang menjadi lebih menjelaskan. Perubahan ini halus, tetapi signifikan.

Senyum, dalam konteks ini, bukan sekadar ekspresi personal. Ia adalah bahasa politik. Ia bisa menandakan keterbukaan, tetapi juga mekanisme meredakan ketegangan.

Ia bisa menjadi jembatan, tetapi juga penanda bahwa jarak mulai menipis. Karena itu, yang perlu dijaga bukan sekadar kehadiran kritik di ruang kekuasaan, melainkan bagaimana ia tetap bekerja di dalamnya.

Momen seperti ini hampir pasti memancing spekulasi. Namun yang lebih penting adalah membaca pesan yang terpancar darinya.

Apakah ini ruang dialog yang sehat? Atau bentuk pengelolaan kritik yang lebih halus? Pertanyaan ini penting agar publik tidak berhenti pada kesan permukaan.

Baca juga: Lampu Kuning Fiskal Indonesia

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan siapa yang dekat atau berubah, tetapi apakah kritik masih mampu menjalankan perannya sebagai penyeimbang.

Apakah ia tetap cukup berjarak untuk melihat dengan jernih, sekaligus cukup berani untuk bertanya.

Kritik boleh saja tersenyum. Namun ia tidak boleh kehilangan keberaniannya untuk terus bertanya. 

Tag:  #ketika #kritik #tersenyum #ruang #kekuasaan

KOMENTAR