TNI AL Buka-bukaan Soal Visum Ghofirul Kasyfi: Nihil Kekerasan
Ilustrasi jenazah. TNI AL sebut kematian Prajurit TNI AL, Kelasi Dua Ghofirul Kasyfi tidak ada tanda-tanda kekerasan.(KOMPAS.COM/SHUTTERSTOCK/Skyward Kick Productions)
06:31
5 Mei 2026

TNI AL Buka-bukaan Soal Visum Ghofirul Kasyfi: Nihil Kekerasan

- Komando Armada (Koarmada) I buka suara soal prajurit TNI AL, Kelasi Dua Ghofirul Kasyfi (22), yang ditemukan tewas di salah satu kamar Kapal Republik Indonesia (KRI) dr. Radjiman Widyodiningrat-992.

Pernyataan ini disampaikan usai keluarga Ghofirul merasa ada kejanggalan pada tubuh mendiang.

Pihak keluarga juga mengaitkan keluhan Ghofirul sebelum almarhum ditemukan tak bernyawa.

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada I Kolonel (P) Ary Mahayasa mengatakan bahwa korban meninggal dunia karena bunuh diri, bukan akibat kekerasan.

“Hasil pemeriksaan medis menyimpulkan bahwa penyebab kematian almarhum adalah murni akibat gantung diri, bukan karena tindakan kekerasan,” kata Ary dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

Baca juga: Anggota TNI AL Asal Bangkalan Tewas di KRI Radjiman, Keluarga Ungkap Sejumlah Kejanggalan

Ia juga meluruskan kabar mengenai dugaan kejanggalan fisik pada jenazah.

Berdasarkan hasil visum et repertum resmi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) dr. Mintohardjo, Jakarta, tertanggal 26 April 2026, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan benda tumpul pada tubuh korban.

“Tidak ditemukan pendarahan pada area selangkangan sebagaimana informasi yang beredar. Pemeriksaan visum tersebut, juga dihadiri oleh pihak keluarga almarhum,” tegas dia.

Baca juga: Keluarga Anggota TNI AL Ghofirul Kasyfi Ungkap Keanehan, Disebut Bunuh Diri, Tubuh Penuh Lebam

Selain itu, luka pada bagian leher disebut sebagai luka tekan melingkar yang disertai pengelupasan kulit ari.

Secara medis, pola dan karakteristik luka tersebut identik dengan kasus gantung diri.

Adapun luka lebam yang terlihat sebelum pemakaman merupakan livor mortis, yakni tanda pasti kematian akibat berhentinya sirkulasi darah sehingga sel darah merah mengendap di bagian tubuh terendah karena gravitasi.

Kedatangan ke Rumah Orangtua

Sementara itu, kedatangan pihak TNI AL ke rumah almarhum dilakukan karena yang bersangkutan beberapa kali tidak hadir saat pengecekan personel di kapal.

“Sehingga pihak KRI meminta bantuan kepada Lanal Batuporon untuk mengunjungi kediaman serta menanyakan keberadaan almarhum,” ungkap dia.

Terkait langkah hukum, Ary mengungkapkan, pada 30 April 2026 pihak keluarga yang diwakili oleh ibu kandung almarhum menyatakan menolak otopsi dan telah dituangkan dalam dokumen resmi.

Kini, korban telah diamankan secara militer pada 27 April 2026 di TPU Kemayoran, Bangkalan, Jawa Timur.

Baca juga: Sosok Ghofirul Kasyfi, Prajurit TNI AL yang Meninggal di Kapal, Sempat Curhat Disiksa Puluhan Senior

Koarmada I menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Ghofirul Kasyfi dan mendoakan yang terbaik bagi almarhum serta keluarga yang ditinggalkan.

TNI AL juga mengimbau media dan masyarakat merujuk pada keterangan resmi agar terhindar dari spekulasi yang dapat melukai perasaan keluarga maupun mencederai nama baik institusi.

“TNI AL, dalam hal ini Koarmada I, tetap berkomitmen pada transparansi dan kebenaran fakta,” tegas dia.

Pernyataan Keluarga

Saat jenazah dipulangkan ke rumah duka di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, keluarga menemukan sejumlah kejanggalan.

Ayah korban, Mahbub Madani, mengatakan kejanggalan mulai dirasakan sejak Februari 2026, ketika Ghofirul ditugaskan di kapal tersebut.

Di kapal bantu rumah sakit itu, Ghofirul menjalani masa orientasi selama tiga bulan.

Sejak penempatan itu, Ghofirul atau akrab disapa Ovy sering mengirim pesan kepada ibunya. Sekitar sebulan setelah bertugas, ia mengaku ingin pindah kapal.

"Anak saya mengaku dipukul seniornya. Bukan hanya satu tapi sampai puluhan orang," kata Mahbub, Senin (4/5/2026).

“Bahkan dia bilang tidak kuat dan ingin pindah ke kapal di Surabaya. Saat itu kapalnya dia di Jakarta," ujarnya lagi.

Baca juga: TNI AL Bantah Kematian KLD Ghofirul karena Kekerasan, Sebut Karena Bunuh Diri

Menurut Mahbub, Ovy juga kerap mengeluhkan waktu istirahat yang sangat terbatas.

Ia mengaku hanya tidur sekitar satu jam setiap hari dan mengalami penganiayaan pada malam hari.

"Ovy itu bilang kalau siang dia kerja dan malamnya di bantai. Dia selalu tidur jam 2 dan jam 3 sudah dibangunkan lagi. Anak saya juga kerap mengirim pesan minta tolong pada kami," ungkapnya.

Kejanggalan lain muncul pada akhir Maret 2026, saat dua orang yang mengaku senior Ovy mendatangi rumah keluarga.

Mereka menyebut Ghofirul dicari karena diduga kabur dari kapal.

"Dua orang itu mengaku komandan di kapalnya mencari anak saya. Katanya anak saya kabur dari kapal," ujarnya.

Namun, sehari setelah itu, keluarga mendapat kabar bahwa Ghofirul telah meninggal dunia.

"Anehnya, sehari setelahnya anak saya ditemukan meninggal dunia di dalam kamar di kapal tersebut. Padahal, kata mereka sebelumnya sudah digeledah di kamar dan anak saya tidak ada," katanya.

Baca juga: TNI AL Ungkap Hasil Visum Ghofirul Kasyfi: Tidak Ada Lebam akibat Kekerasan Benda Tumpul

Keluarga juga menerima informasi bahwa pihak TNI AL menyatakan kematian Ghofirul akibat bunuh diri. Mahbub meragukan hal tersebut.

"Bagi kami itu hal yang mustahil dilakukan anak saya. Dia itu orangnya tegar dan dia juga ikut bela diri jadi mentalnya cukup kuat. Pilihan bunuh diri bagi dia rasanya tidak mungkin," ungkapnya.

Jenazah Ghofirul tiba di rumah duka pada 27 April sekitar pukul 01.30 WIB. Saat peti dibuka sebagian, keluarga melihat wajah korban dalam kondisi lebam.

"Di situ saya melihat wajah anak saya lebam-lebam. Itu sudah sangat aneh bagi saya," ujarnya.

Baca juga: Kronologi Oknum TNI AL Halangi dan Gebrak Ambulans di Surabaya, Berujung Minta Maaf

Peti kemudian dibuka sepenuhnya sebelum pemakaman. Keluarga menemukan banyak lebam di tubuh korban, bahkan di bagian selangkangan mengeluarkan darah.

"Lebih aneh lagi, luka di leher anak saya itu di sini (leher bawah). Seharusnya, kalau memang bunuh diri, tali ke atas karena tubuhnya merosot ke bawah," kata Mahbub.

"Dan salah satu seniornya juga bilang lebam di tubuh anak saya itu bukan lebam tapi tanda lahir. Saya kenal anak saya dan tahu tubuh anak saya, dia tidak punya tanda lahir," ujarnya lagi.

Mahbub mengaku sempat emosi melihat kondisi jenazah anaknya.

“Di situ saya bertekad ingin anak saya diotopsi," pungkasnya.

Tag:  #buka #bukaan #soal #visum #ghofirul #kasyfi #nihil #kekerasan

KOMENTAR