Legislator Minta RI Waspadai Hantavirus: Jangan Anggap Ancaman Jauh dan Penyakit Langka
- Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto meminta pemerintah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus, termasuk di Indonesia.
Ia meminta penyakit ini jangan dianggap remeh dengan menganggap penyakit ini merupakan ancaman jauh dan penyakit langka, karena kasusnya banyak di Amerika Selatan.
"Kita tidak boleh menganggap hantavirus sebagai ancaman jauh atau penyakit langka yang tidak relevan bagi Indonesia,” kata Edy, dalam siaran pers, Minggu (10/5/2026).
Pernyataan ini disampaikannya ketika kasus menyebar di kapal pesiar mewah, MV Hondius yang kini meningkatkan perhatian dunia.
Baca juga: Hantavirus Mengintai: 23 Kasus Terdeteksi di Indonesia, Tingkat Kematian 13 Persen
Menurut dia, peristiwa tersebut menjadi pengingat penting bahwa ancaman penyakit zoonosis masih nyata dan dapat muncul kapan saja.
“Peristiwa di kapal MV Hondius harus menjadi alarm bagi seluruh negara, termasuk Indonesia," tutur dia.
Menurut Edy, Indonesia justru memiliki faktor risiko yang cukup besar karena kepadatan penduduk, urbanisasi cepat, persoalan sanitasi lingkungan, dan tingginya populasi tikus di kawasan permukiman.
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, dalam tiga tahun terakhir Indonesia mencatat sedikitnya 23 kasus hantavirus jenis Seoul Virus dengan manifestasi Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia dengan riwayat penyakit penyerta seperti kanker hati dan kegagalan multi organ.
Baca juga: Dokter Myta Tak Dapat Libur Selama Magang di RS Jambi, Anggota DPR: Ini Perbudakan!
"Ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan sekadar ancaman teoretis. Virusnya sudah ada di Indonesia dan kasusnya nyata. Persoalannya, penyakit ini sering tidak terdeteksi karena gejalanya mirip demam berdarah, tifus, atau leptospirosis,” ujar Edy.
Ia mengakui memang ada perbedaan antara Andes dengan Seoul Virus yang ditemukan di Indonesia.
Andes virus diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi berat yang menyerang paru-paru dan memicu sesak napas akut hingga gagal napas.
Virus ini memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi dan menjadi satu-satunya jenis hantavirus yang sejauh ini diketahui dapat menular antarmanusia.
Secara umum, hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis), terutama melalui tikus sebagai agen infeksius utama virus.
Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup udara yang terkontaminasi partikel urine, feses, atau air liur tikus.
Namun, sejauh ini, masih banyak masyarakat yang secara tidak langsung harus berhubungan dengan tempat tinggal tikus.
"Masih banyak masyarakat yang membersihkan gudang, rumah kosong, atau area yang penuh kotoran tikus tanpa perlindungan dapat menjadi jalur penularan. Ini yang harus diedukasi secara serius,” beber Edy.
Baca juga: Pemerintah Diminta Siapkan SOP Penanganan Hantavirus di Faskes
Oleh karenanya, Edy mendorong pemerintah memperkuat sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit zoonosis, termasukhantavirus.
Caranya, melalui pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Ia juga menilai ada sejumlah langkah penting yang harus segera diperkuat.
Pertama, memperluas surveilans penyakit demam akut yang belum terdiagnosis agar kasus hantavirus tidak luput dari pemantauan.
Kedua, meningkatkan kapasitas diagnosis laboratorium, termasuk pemeriksaan PCR dan serologi di rumah sakit rujukan.
Ketiga, memperkuat pengendalian rodensia dan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat.
Menurut dia, pengelolaan sampah, kebersihan permukiman, dan pengendalian populasi tikus harus menjadi bagian penting dalam kebijakan kesehatan publik.
"Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Ini menyangkut lingkungan hidup sehari-hari masyarakat,” ujar dia.
Selain itu, Edy meminta edukasi publik diperluas agar masyarakat memahami cara sederhana mencegah penularan.
Hal-hal seperti menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang terindikasi banyak tikus, menjaga ventilasi ruangan, serta menghindari kontak langsung dengan tikus.
Baca juga: Menkes Minta Petunjuk WHO untuk Skrining Kasus Hantavirus
Dia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor mengingat ancaman zoonosis berkaitan erat dengan perubahan lingkungan, urbanisasi, hingga perubahan iklim.
"Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus besar baru kemudian bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih penting dibandingkan penanganan ketika situasi sudah memburuk,” ujar Edy.
Sebagai informasi, wabah Hantavirus menjadi perhatian dunia setelah kasus penyebaran Andes virus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina.
Tiga orang meninggal dan ada pula kasus suspect. Dua warga Singapura yang sempat berada di kapal tersebut dinyatakan negatif hantavirus setelah menjalani pemeriksaan dan karantina ketat.
Namun, WHO tetap melakukan pelacakan lintas negara karena Andes virus merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia.
Tag: #legislator #minta #waspadai #hantavirus #jangan #anggap #ancaman #jauh #penyakit #langka