Alarm Bahaya, Indonesia Bisa Jadi Sarang Judol Internasional
Proses pemeriksaan dan penggeledahan kantor operasional situs judol oleh Bareskrim Polri, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, Kamis (7/5/2026).(Dokumentasi Humas Polri)()
05:38
12 Mei 2026

Alarm Bahaya, Indonesia Bisa Jadi Sarang Judol Internasional

- Penggerebekan markas judi online (judol) jaringan internasional di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, menjadi alarm baru bagi Indonesia.

Bukan sekadar menjadi pasar empuk perjudian daring, Indonesia kini dinilai berpotensi berubah menjadi basis operasi atau “hub” kejahatan siber lintas negara.

Pengungkapan kasus yang dilakukan Bareskrim Polri pada Sabtu (9/5/2026) itu menunjukkan bagaimana sindikat internasional mulai memanfaatkan berbagai celah di Indonesia, mulai dari infrastruktur internet yang semakin baik, kemudahan visa, hingga karakter masyarakat yang terbuka terhadap orang asing.

Sebanyak 321 orang diamankan dalam penggerebekan tersebut.

Mayoritas merupakan warga negara asing (WNA), terdiri dari 228 warga Vietnam, 57 warga China, 13 warga Myanmar, 11 warga Laos, lima warga Thailand, serta masing-masing tiga warga Malaysia dan Kamboja.

Baca juga: Pengamat: Perlu Kerja Sama Lintas Instansi Tuntaskan Kasus Markas Judol di Hayam Wuruk

Keberadaan ratusan WNA yang menjalankan operasional judol di tengah ibu kota pun memunculkan pertanyaan besar: apakah Indonesia mulai dilirik sebagai tempat aman bagi jaringan kriminal internasional?

Infrastruktur membaik jadi daya tarik

Pakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, menilai kemudahan infrastruktur menjadi salah satu alasan utama sindikat judol internasional beroperasi di Indonesia.

Menurut dia, kualitas koneksi internet di kota-kota besar seperti Jakarta kini semakin memadai untuk mendukung operasional kejahatan digital berskala besar.

“Artinya infrastruktur di Jakarta khususnya di gedung (Hayam Wuruk) yang bersangkutan sudah membaik,” kata Alfons dalam Obrolan Newsroom Kompas.com, Senin (11/5/2026).

Selain faktor teknologi, Alfons menyoroti budaya masyarakat Indonesia yang cenderung ramah terhadap orang asing.

Baca juga: Pengamat Singgung Harta Karun yang Tak Boleh Hilang dalam Kasus Judol di Hayam Wuruk

Kondisi itu membuat aktivitas para pekerja judol asing relatif mudah menyatu dengan lingkungan sekitar tanpa memicu kecurigaan besar.

Hali tersebut terlihat dari aktivitas markas judol Hayam Wuruk yang sudah berjalan sekitar dua bulan sebelum akhirnya digerebek aparat.

“Jadi kita belajar lagi, enggak perlu saling menyalahkan apa yang sudah terjadi,” ujarnya.

Ia juga menyinggung kebijakan visa on arrival yang dinilai mempermudah masuknya WNA ke Indonesia.

Karena itu, Alfons berharap aparat kepolisian dan pihak imigrasi dapat memperkuat koordinasi agar kasus serupa tidak terus berulang.

Warga sudah curiga

Suasana di dalam gedung perkantoran Hayam Wuruk yang diduga menjadi markas judi online (judol) internasional terlihat sepi dan masih dijaga ketat oleh Brimob usai penggerebekan, Minggu (10/5/2026).KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Suasana di dalam gedung perkantoran Hayam Wuruk yang diduga menjadi markas judi online (judol) internasional terlihat sepi dan masih dijaga ketat oleh Brimob usai penggerebekan, Minggu (10/5/2026).

Meski aparat baru mengungkap kasus tersebut pada akhir pekan lalu, sejumlah warga mengaku sebenarnya sudah lama merasa ada aktivitas yang tidak biasa di gedung tersebut.

Baca juga: Hayam Wuruk Jadi Markas Judol, Pengamat Soroti Kemudahan Infrastruktur

Ananda (bukan nama sebenarnya), warga sekitar lokasi, mengatakan dirinya kerap melihat banyak orang asing keluar masuk gedung dalam beberapa bulan terakhir.

“Biasanya suka banyak orang asing kayak Vietnam gitu di sini. Aku dari awal sudah curiga sih,” kata Ananda kepada Kompas.com, Senin.

Namun ia mengaku baru mengetahui aktivitas tersebut terkait judi online setelah polisi berjaga di lokasi sejak Sabtu lalu.

“Tapi baru tahu kalau mereka bikin tempat judol di sini. Mana enggak bisa bahasa Inggris,” ujarnya.

Kecurigaan serupa disampaikan Sulaiman (bukan nama sebenarnya), petugas keamanan gedung lain di sekitar lokasi.

Ia menilai aktivitas di gedung tersebut terlihat tidak lazim karena mayoritas diisi warga asing dengan bahasa yang tidak dikenali.

Baca juga: Mengapa Markas Judol di Hayam Wuruk Targetkan Korban Luar Negeri? Ini Penjelasan Pengamat

“Aneh bahasanya (asing). Saya sudah mencirikan lah, cuma ya enggak kelihatan gara-gara (kerjanya) online. Cuma ya curiga saja,” tutur Sulaiman.

Ia juga menyoroti gaya berpakaian para pekerja yang dinilai tidak seperti pegawai kantoran pada umumnya.

“Katanya ada yang kayak WNA pakai celana pendek, sedangkan biasanya orang kantoran kan pasti celana panjang,” katanya.

Indonesia dianggap pasar empuk

Chairman CISSReC, Pratama Persada, mengatakan Indonesia sangat menarik bagi jaringan judol internasional karena memiliki jumlah pengguna internet dan layanan keuangan digital yang sangat besar.

“Indonesia dinilai sangat menarik bagi jaringan seperti ini karena memiliki jumlah pengguna internet dan mobile banking yang sangat besar,” kata Pratama kepada Kompas.com, Senin.

Baca juga: Blokir Situs Tak Efektif Berantas Judol: Sejuta Diblokir, Dua Juta Muncul Lagi

Selain itu, penetrasi dompet digital yang masif membuat transaksi ilegal lebih mudah disamarkan di tengah jutaan aktivitas digital masyarakat setiap hari.

“Ketika jutaan transaksi digital terjadi setiap hari, maka penyamaran aktivitas ilegal menjadi jauh lebih mudah dilakukan,” ujarnya.

Pratama menilai kasus Hayam Wuruk menunjukkan indikasi bahwa Indonesia tidak lagi hanya dijadikan target pasar, tetapi mulai diposisikan sebagai pusat operasional kejahatan siber lintas negara.

“Tetapi juga sebagai operasional hub," ucapnya.

Menurut dia, kondisi tersebut sangat berbahaya karena ancamannya bukan sekadar kerugian ekonomi, melainkan juga menyangkut keamanan nasional.

Mulai dari penyalahgunaan identitas digital hingga infiltrasi jaringan kriminal internasional ke dalam ekosistem lokal.

Baca juga: Pengamat Sebut Markas Judol di Hayam Wuruk Targetkan Korban Luar Indonesia

Operasi judol bergeser dari Vietnam

Ratusan warga negara asing (WNA) yang diduga terlibat operasional judi online jaringan internasional keluar dari kawasan perkantoran Hayam Wuruk Plaza Tower, Jakarta Barat, saat akan dititipkan ke sejumlah kantor dan rumah detensi imigrasi. Minggu (10/5/2026).KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Ratusan warga negara asing (WNA) yang diduga terlibat operasional judi online jaringan internasional keluar dari kawasan perkantoran Hayam Wuruk Plaza Tower, Jakarta Barat, saat akan dititipkan ke sejumlah kantor dan rumah detensi imigrasi. Minggu (10/5/2026).

Kriminolog sekaligus Guru Besar FISIP Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala, menilai keberadaan markas judol internasional di Hayam Wuruk menunjukkan adanya pergeseran operasi sindikat lintas negara ke Indonesia.

Menurut Adrianus, perpindahan itu diduga terjadi setelah Pemerintah Vietnam melakukan operasi besar-besaran terhadap jaringan judol di negaranya.

“Saat kemarin Pemerintah Vietnam mengadakan operasi besar-besaran, maka kegiatan pindah kantor ke Indonesia,” kata Adrianus kepada Kompas.com, Senin.

Ia menjelaskan, fenomena tersebut merupakan pola umum kejahatan trans-national yang akan berpindah ketika mendapat tekanan dari aparat di suatu negara.

“Kejahatan trans-national mirip dengan balon yang jika dipencet bagian kiri maka akan membesar bagian kanan. Dan sebaliknya,” ujarnya.

Baca juga: Di Balik Gedung Hayam Wuruk, Mesin Judol Internasional Tumbuh Diam-diam

Adrianus menilai penggerebekan yang dilakukan Bareskrim Polri menunjukkan aparat sebenarnya telah mengantisipasi kemungkinan perpindahan basis operasi jaringan internasional tersebut.

“Polri sudah melihat gelagat bahwa mereka akan pindah kantor ke tempat target pasar mereka yakni Indonesia,” katanya.

DPR desak bongkar aktor besar

Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni meminta Polri bersama PPATK memburu pemodal dan pihak yang membekingi operasi judol internasional tersebut.

Menurut Sahroni, mustahil ratusan WNA dapat menjalankan operasi besar di Indonesia tanpa dukungan aktor kuat di belakang layar.

“Siapa yang menggaji mereka? Siapa yang memfasilitasi? Pasti ada pemodalnya. Tidak mungkin 300 lebih WNA bisa beroperasi tanpa ada aktor kuat di belakangnya,” kata Sahroni.

Baca juga: WNI Ikut Jadi Pekerja Judol di Hayam Wuruk, Rekam Jejak di Kamboja Jadi Sorotan

Ia menduga terdapat keterlibatan jaringan lokal dalam operasional sindikat internasional tersebut.

“Pokoknya mau itu WNA atau WNI, semuanya harus ditangkap, tidak boleh ada pandang bulu,” tegasnya.

Sementara itu, anggota DPR Azis Subekti menyebut judi online sebagai “narkotika digital”.

Menurut Azis, dampak judol tidak hanya menghancurkan ekonomi masyarakat, tetapi juga merusak kesadaran, kesehatan mental, hingga hubungan sosial.

“Menyebut judi online hanya sebagai permainan adalah kekeliruan besar. Ia telah berubah menjadi semacam narkotika digital,” kata Azis.

Ia menilai kejahatan siber transnasional kini berkembang jauh lebih kompleks karena memanfaatkan data dan teknologi digital.

“Awalnya dimulai dari rasa penasaran kecil. Kemenangan kecil. Bonus kecil. Lalu tumbuh menjadi ketergantungan,” ujarnya.

Azis juga mendorong penguatan cyber intelligence agar aparat mampu mendeteksi pola domain baru, iklan terselubung, hingga aktivitas digital mencurigakan sejak dini.

Baca juga: Anggota DPR: Semua Jaringan Judol Harus Ditangkap!

Negara tak boleh kalah

Anggota Komisi III DPR Abdullah meminta aparat terus membongkar jaringan judol lain yang masih beroperasi di Indonesia.

Menurut dia, pemberantasan judi online tidak boleh berhenti hanya pada satu kasus.

“Tidak boleh ada lagi jaringan judi online, baik internasional maupun nasional, yang beroperasi di Indonesia,” kata Abdullah.

Ia mengingatkan bahwa kejahatan judol kini didukung teknologi yang semakin canggih sehingga aparat penegak hukum juga harus meningkatkan kemampuan digital dan penguasaan teknologi.

“Negara tidak boleh kalah dari pelaku kejahatan digital. Judi online telah merusak banyak keluarga, menimbulkan persoalan sosial, dan mengancam masa depan generasi muda,” pungkasnya.

Tag:  #alarm #bahaya #indonesia #bisa #jadi #sarang #judol #internasional

KOMENTAR