PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulhijjah, Idul Adha Berpotensi Sama dengan Muhammadiyah
Ilustrasi pemantauan hilal di Aceh.(Zuhri Noviandi/kompas.com )
15:54
15 Mei 2026

PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulhijjah, Idul Adha Berpotensi Sama dengan Muhammadiyah

- Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data hilal jelang Dzulhijjah 1447 H melalui Informasi Ringkas Hilal Dzulhijjah 1447 H pada 17 Mei 2026.

Data hisab ini merupakan hasil perhitungan LF PBNU yang dilakukan untuk hari 17 Mei 2026 M, yang dilakukan di Gedung PBNU, Jakarta. Perhitungan ini dilakukan dengan metode falak (hisab) tahqiqi tadqiki ashri kontemporer.

Baca juga: Muhammadiyah Idul Adha pada 27 Mei 2026, Pemerintah Gelar Sidang Isbat 17 Mei 2026

Dilansir dari laman NU, data hisab menunjukkan bahwa hilal akhir Dzulqadah 1447 H atau bertepatan dengan 17 Mei 2026 adalah 4 derajat 42 menit 15 detik dengan elongasi 10 derajat 06 menit 51 detik dan lama hilal di atas ufuk 22 menit 53 detik.

Sementara ijtimak (konjungsi) terjadi pada 17 Mei 2026 pukul 03:03:02 WIB. Adapun letak matahari terbenam pada posisi 19 derajat 24 menit 31 detik utara titik barat.

Sedangkan letak hilal berada pada posisi 27 derajat 04 menit 56 detik utara titik barat dengan kedudukan hilal pada 07 derajat 40 menit 25 detik utara Matahari. Adapun parameter hilal terkecil itu terdapat di Kota Merauke, Provinsi Papua Selatan.

Ketinggian hilal di sana mencapai 3 derajat 15 menit dan elongasi hilal hakiki 8 derajat 57 menit, serta lama hilal di atas ufuk 16 menit 10 detik.

Baca juga: Waspadai Penyakit Zoonosis Antraks Jelang Idul Adha 2026

Sementara tinggi hilal terbesar terjadi di Kota Sabang, Provinsi Aceh. Ketinggian hilal di sana mencapai 6 derajat 47 menit, elongasi hilal hakiki 10 derajat 40 menit, dan lama hilal di atas ufuk 30 menit 56 detik.

Data di atas menunjukkan bahwa hilal sudah berada di atas ufuk dan memenuhi kriteria imkanurrukyah. Pasalnya, tinggi hilal sudah di atas 3 derajat dan elongasi lebih dari 6,4 derajat.

Bahkan di Aceh, elongasinya sudah memenuhi kriteria qath'iyu rukyah Nahdlatul Ulama (QRNU), di atas 9,9 derajat. Artinya, hampir dipastikan masuk bulan baru di hari berikutnya.

Data-data di atas menunjukkan potensi besar bulan Dzulhijjah jatuh esoknya, mengingat sudah terpenuhinya kriteria imkanur rukyah, bahkan qath'iy rukyah.

Oleh karena itu, besar kemungkinan tanggal 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada 18 Mei 2026. Sementara untuk Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1447 H diprediksi akan jatuh pada 27 Mei 2026.

Baca juga: Jelang Idul Adha, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman dan Terkendali

Ilustrasi Idul Adha 2026.Freepik Ilustrasi Idul Adha 2026.

Muhammadiyah Tetapkan Idul Adha pada 27 Mei 2026

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sendiri telah menetapkan bahwa hari raya Idul Adha 2026 jatuh pada 10 Zulhijah 1447 Hijriah atau tepatnya 27 Mei 2026.

Awal bulan atau tanggal 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada 18 Mei 2026 Masehi. Dengan begitu, Hari Arafah atau 9 Zulhijah 1447 H jatuh pada 26 Mei 2026.

Dilansir dari laman Muhammadiyah, penetapan Idul Adha berdasarkan hasil hisab astronomis global dengan menggunakan Parameter Kalender Global (PKG).

Sistem ini dirancang untuk menciptakan keseragaman penentuan awal bulan Hijriah bagi umat Islam di seluruh dunia.

Melalui metode tersebut, penentuan awal bulan kamariah, termasuk Zulhijah, tidak lagi mengacu pada batas wilayah suatu negara, melainkan berdasarkan prinsip visibilitas hilal secara global.

Baca juga: Kapan Sidang Isbat Idul Adha 2026? Ini Jadwal dan Tahapan Penentuannya

Sidang Isbat Pemerintah

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menyelenggarakan sidang isbat penetapan 1 Zulhijah 1447 H pada 17 Mei 2026 mendatang.

“Sidang isbat awal Zulhijah 1447 Hijriah digelar pada 17 Mei 2026 bertepatan 29 Zulkaidah 1447 Hijriah di Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama,” kata Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat, dilansir dari Antara, Rabu (13/5/2026).

Ia menyampaikan, sidang isbat melibatkan berbagai unsur, mulai dari duta besar negara sahabat, Wakil Menteri Agama, Komisi VIII DPR RI, jajaran Eselon I dan II Kemenag, serta BMKG.

Lalu, ada juga Badan Informasi Geospasial (BIG), BRIN, Majelis Ulama Indonesia (MUI), ormas Islam, pakar falak, Tim Hisab Rukyat Kemenag, akademisi, hingga pimpinan pondok pesantren.

Baca juga: Daftar Harga Sapi Kurban Idul Adha 2026, Bisa Patungan Mulai Rp 1,4 Juta

Dia menyebut, Kemenag bersama kantor wilayah, kantor tingkat kabupaten/kota, peradilan agama, ormas Islam, dan instansi terkait akan melakukan rukyatul hilal di 88 titik.

Titik pengamatan mencakup observatorium, pantai, rooftop gedung, menara pemantauan, hingga masjid strategis yang tersebar dari Aceh hingga Papua Barat.

“Pemantauan hilal dilakukan secara luas di berbagai wilayah Indonesia agar hasil rukyat yang diperoleh semakin akurat dan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dalam sidang isbat,” ujar Arsad.

Tag:  #pbnu #rilis #data #hilal #awal #dzulhijjah #idul #adha #berpotensi #sama #dengan #muhammadiyah

KOMENTAR