Cerita Menhan soal Prasyarat dari RI Sebelum Masuk BoP: Soal Hamas dan Gaza
Presiden Prabowo Subianto (tiga dari kiri) dan sejumlah pemimpin negara yang hadir dalam KTT perdana Dewan Perdamaian atau Board of Peace, berfoto bersama Presiden Amerika Serikat Donald J Trump (tengah), di Donald J. Trump US Institute of Peace di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026) waktu setempat.(ISTANA PRESIDEN RI/CAHYO)
07:44
20 Mei 2026

Cerita Menhan soal Prasyarat dari RI Sebelum Masuk BoP: Soal Hamas dan Gaza

- Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan, Indonesia sempat mengajukan prasyarat sebelum dimasukkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke dalam Board of Peace (BoP) yakni penjagaan eksistensi Hamas dan warga Gaza.

Sjafrie mengklaim prasyarat yang diminta Indonesia disetujui oleh beberapa negara Arab kala itu.

"Nah, inilah yang membuat Indonesia juga mendapat suatu apresiasi dari Presiden AS, bahwa Presiden Indonesia yang mayoritas jumlah penduduknya itu Islam, tapi dia sangat memperhatikan masalah kemanusiaan di Gaza, sehingga dia dimasukkan ke dalam BoP," ujar Sjafrie dalam rapat Komisi I DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Baca juga: 5 WNI Ditangkap Israel, Muncul Desakan Indonesia Keluar dari BoP

Prasyarat yang diajukan Indonesia adalah jaminan penjagaan keberadaan Hamas di Palestina.

Prasyarat lainnya adalah penghentian aktivitas yang menimbulkan korban di Gaza.

"Dan bersama-sama dengan beberapa negara Arab, Indonesia berkonsultasi dengan prasyarat bahwa Hamas tetap kita jaga eksistensinya, kemudian juga jangan sampai terjadi kegiatan-kegiatan yang sifat kekuatan fisik yang bisa menimbulkan korban di Gaza. Ini yang jadi catatan kita, dan ini disetujui beberapa negara Arab, termasuk Saudi Arabia," sambungnya.

Baca juga: Menhan Cerita Trump Masukkan RI ke BoP, tetapi Kini “Left Behind” imbas Perang AS-Iran

Sjafrie menyebut, Indonesia mulai terkait dengan BoP ketika Israel meningkatkan tekanan internasional yang berkaitan dengan Gaza.

Menurut Sjafrie, BoP itu merupakan suatu inisiatif dari Trump untuk membantu Palestina di Gaza.

"Dan kita tahu korban yang timbul mungkin sudah hampir 80 ribu jiwa yang korban di Gaza. Nah inilah upaya yang dilakukan oleh Presiden AS untuk melakukan bagaimana kita melakukan upaya penyelamatan terhadap kemanusiaan dan politik di Gaza," ucap Sjafrie.

ISF kini left behind

Sementara itu, Sjafrie menyebut Trump juga membentuk International Stabilization Force (ISF), di mana Indonesia kembali termasuk di dalamnya.

Hanya saja, ISF dan BoP kini terabaikan atau left behind imbas dinamika perang tinggi antara AS dan Iran.

"Nah, karena BoP left behind, ISF juga left behind, walaupun kita di Indonesia, Panglima TNI sudah menyiapkan brigade komposit untuk geostrategi dan geopolitik dan inisiatif Presiden AS belum mendapatkan suatu arahan implementasi, maka sampai saat ini ISF kita masih standby. Tapi di dalam negeri Panglima sudah melakukan kegiatan-kegiatan," imbuhnya.

Tag:  #cerita #menhan #soal #prasyarat #dari #sebelum #masuk #soal #hamas #gaza

KOMENTAR