Sistem Navigasi Penerbangan Jakarta Ditargetkan Modern Mulai Juni 2026
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan bersama AirNav Indonesia menerima kunjungan kerja Komisi V DPR RI di kantor pusat AirNav Indonesia, Tangerang, Jumat (22/5/2026).
Agenda tersebut dilakukan untuk meninjau kesiapan operasional sistem navigasi penerbangan nasional.
Kunjungan juga digunakan untuk mengevaluasi implementasi modernisasi Air Traffic Management Automation System (ATMAS) di fasilitas New Jakarta Air Traffic Services Centre (JATSC).
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, memimpin kunjungan tersebut.
Baca juga: Trafik Penerbangan Lebaran Naik, AirNav Ingatkan Bahaya Balon Udara Liar
Agenda diisi dengan rapat koordinasi serta peninjauan langsung ke Indonesia Network Management Centre (INMC) dan New JATSC.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F Laisa, mengatakan modernisasi sistem navigasi penerbangan nasional menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas layanan.
Modernisasi tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan keselamatan penerbangan, efisiensi operasional, serta ketahanan pengelolaan lalu lintas udara nasional.
Lukman menjelaskan, implementasi modernisasi ATMAS di wilayah Jakarta ditargetkan beroperasi penuh pada Juni 2026.
Sistem serupa sebelumnya telah diterapkan di Medan, Pontianak, dan Balikpapan.
Penerapan tersebut menjadi bagian dari pengembangan bertahap sistem navigasi penerbangan nasional.
“Seluruh tahapan implementasi dilakukan secara hati-hati dengan mitigasi risiko dan contingency plan yang komprehensif guna memastikan pelayanan navigasi penerbangan tetap aman dan andal,” ujar Lukman dalam keterangan resmi, Jumat (22/5/2026).
Baca juga: 10 Maskapai Penerbangan Bintang Lima Versi Skytrax, Semuanya dari Asia
Lukman juga menjelaskan langkah mitigasi terhadap gangguan Global Navigation Satellite System Radio Frequency Interference (GNSS RFI) di sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada April 2026.
Operasional penerbangan tetap berjalan aman melalui optimalisasi sistem navigasi cadangan berbasis terrestrial.
Sistem tersebut meliputi Instrument Landing System (ILS), Distance Measuring Equipment (DME), dan VHF Omnidirectional Range (VOR).
Operasional juga didukung radar vector oleh petugas Air Traffic Controller (ATC).
Ditjen Perhubungan Udara bersama AirNav Indonesia kemudian meningkatkan koordinasi lintas instansi.
Keduanya juga menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM), melaporkan kejadian kepada International Civil Aviation Organization (ICAO) Asia Pacific Regional Office, serta menerbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SE-DJPU 11 Tahun 2026.
Surat edaran tersebut mengatur pelaporan dan penanganan GNSS RFI.
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, mengapresiasi langkah cepat Ditjen Perhubungan Udara bersama AirNav Indonesia dalam menangani gangguan tersebut.
“Berbagai langkah mitigasi yang dilakukan menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga keselamatan, keamanan, dan kelancaran operasional penerbangan nasional,” ujar Ridwan.
Lukman memastikan pelayanan navigasi penerbangan terus dijaga agar berjalan optimal.
“Kami terus memperkuat pengawasan, pengendalian, dan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan pelayanan navigasi penerbangan nasional berjalan aman, selamat, tertib, efisien, dan berkelanjutan,” tegas Lukman.
Tag: #sistem #navigasi #penerbangan #jakarta #ditargetkan #modern #mulai #juni #2026