Gelap Bergilir di Negeri Terang: Riwayat ''Blackout'' Indonesia 6 Tahun Terakhir
Ilustrasi Pemadaman Listrik(Syah Antoni)
13:34
26 Mei 2026

Gelap Bergilir di Negeri Terang: Riwayat ''Blackout'' Indonesia 6 Tahun Terakhir

- Indonesia beberapa kali mendadak gelap dalam enam tahun terakhir.

Bukan hanya lampu rumah yang padam, tetapi juga jaringan internet terganggu, transportasi publik berhenti, sinyal telekomunikasi melemah, hingga aktivitas ekonomi tersendat.

Terbaru, gangguan kelistrikan kembali terjadi di Sumatera dan menyebabkan pemadaman di sejumlah wilayah.

Baca juga: Temuan Polri dan PLN soal Penyebab Blackout Sumatera

Peristiwa ini menambah daftar blackout besar yang terjadi dalam enam tahun terakhir, sekaligus mengingatkan bahwa persoalan stabilitas jaringan listrik masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Lantas, kapan saja blackout terjadi?

Blackout Jawa Barat 2019

Mengulas ke belakang, blackout pernah terjadi di wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat pada 4 Agustus 2019 lalu setelah 22 tahun sejak 1997.

Namun bila dilihat dari wilayah RI keseluruhan, blackout parsial pernah terjadi di Jawa Timur pada 2018.

Kompas.com mencatat, pemadaman listrik secara serentak tanggal 4 Agustus 2019 itu terjadi karena turun drastisnya aliran listrik di SUTET Ungaran-Pemalang 500 kV.

Kemudian meluas dan memengaruhi sirkuit Depok-Tasikmalaya sehingga terjadi gangguan listrik pada 3 SUTET secara bersamaan yang dikenal dengan istilah N minus 3. Hal inilah yang menyebabkan pemadaman serentak di sebagian wilayah barat Indonesia terjadi.

Pemadaman massal hingga belasan jam secara serentak itu membuat sistem lumpuh seketika.

Sistem yang mengandalkan tegangan listrik sebagai penggerak utama seperti KRL, MRT, dan lift di gedung-gedung tidak bisa beroperasi.

Pemadaman turut melumpuhkan ekonomi dalam sehari.

Minimarket, UKM yang mengandalkan listrik dan pembayaran digital, restoran, ojek online, tidak bisa mencari pundi-pundi uang.

Hal ini terjadi karena mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) perbankan yang sepenuhnya mengandalkan listrik tidak dapat beroperasi.

Pom bensin juga terlihat gelap di beberapa wilayah.

Setelah blackout terjadi, PLN segera melakukan penstabilan sesaat.

Penstabilan itu dilakukan dengan memasok aliran listrik dari wilayah Jawa Timur yang tidak terdampak ke PLTA Saguling dan PLTA Cirata.

Kemudian, 2 PLTA itu mengalirkan pasokan listrik dari Timur ke Barat menuju PLTU Suralaya melalui GITET Cibinong, Depok, Gandul, Lengkong, Balaraja, dan Suralaya.

Selain itu, GITET Gandul menyalurkan listrik ke PLTGU Muara Karang untuk memasok aliran listrik ke DKI Jakarta.

Melalui konferensi pers pada malam di hari yang sama, Plt Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani yang kala itu baru menjabat menyebut bahwa listrik akan kembali normal secara keseluruhan di malam harinya, yakni pukul 19.27 WIB.

Setidaknya, pemadaman tidak akan berlangsung hingga sehari setelahnya.

Baca juga: Berulang Kali Mati Listrik Massal, Bagaimana agar Sumatera Zero Blackout?

Namun, sebagian daerah masih mengeluhkan mati listrik hingga Senin (5/8/2019) pagi.

Menurut PLN, listrik kembali normal sekitar pukul 16.00 WIB di hari yang sama.

Listrik kemudian dinyatakan kembali normal kembali 100 persen pada Selasa (6/8/2019).

Di sela-sela kejadian itu, Presiden ke-7 RI Joko Widodo menyambangi Kantor Pusat PLN pada Senin (5/8/2019) pukul 08.45 WIB.

Ia mempertanyakan mengapa blackout bisa terjadi dan meminta PLN segera membenahinya.

"Pertanyaan saya, Bapak, Ibu, semuanya kan orang pintar-pintar, apalagi urusan listrik dan sudah bertahun-tahun. Apakah tidak dihitung, apakah tidak dikalkulasi kalau akan ada kejadian-kejadian sehingga kita tahu sebelumnya. Kok tahu-tahu drop," kata dia.

Blackout Sumatera 2024

Lima tahun berselang, blackout kembali terjadi di Sumatera.

Pada Selasa (4/6/2024) sekitar pukul 11.00 WIB, pemadaman listrik total melanda sejumlah wilayah Sumatera bagian selatan.

Kompas.com mencatat, ada jutaan warga yang terdampak di sekitar Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Lampung, Jambi, Bengkulu Bangka Belitung, dan Riau.

PLN menyebut blackout dipicu gangguan pada gardu induk SUTT 275 kV Linggau-Lahat.

Executive General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Barat saat itu, Eric Rossi Priyo Nugroho menyebut, pemadaman terjadi karena setidaknya, terdapat gangguan transmisi terhadap 300 unit SUTT di lahan seluas 90 km.

Dikutip dari pemberitaan Kompas.com pada 2024, gangguan itu memengaruhi jutaan pelanggan PLN di berbagai daerah.

Setidaknya, 4,3 juta pelanggan PLN di wilayah Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Bangka Belitung terdampak pemadaman listrik.

Baca juga: Wamen ESDM: Blackout Sumatera Tak Disengaja, Murni Masalah Alam

Selain itu, 600.000 pelanggan di wilayah Sumatera Barat ikut terganggu.

Sama seperti kejadian pada 2019, pemadaman listrik membuat aktivitas warga terhenti.

Warga Kabupaten Kampar, Riau, kesulitan memasak nasi dan hampir kehabisan air karena listrik mati sejak sore hingga keesokan harinya.

Listrik yang mati ini juga membuat warga sulit berbelanja di toko sehingga menimbulkan antrean panjang.

Sejumlah pelaku usaha kecil ikut terdampak, terutama yang mengandalkan pendingin, mesin listrik, dan pembayaran digital untuk operasional harian.

Peristiwa itu menjadi salah satu blackout besar di Sumatera dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, alih-alih menjadi yang terakhir, pola gangguan serupa justru kembali muncul pada tahun-tahun berikutnya.

Blackout Sumatera 2026

Dua tahun setelah blackout 2024, gangguan listrik massal kembali terjadi di Sumatera.

Pemadaman listrik terjadi di sejumlah wilayah Sumatera mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, hingga Jambi.

Pemadaman terjadi sejak Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 18.44 WIB, dan kondisi dinyatakan pulih sepenuhnya pada Minggu (24/5/2026) pagi sekitar pukul 05.00 WIB.

Berdasarkan penjelasan PT PLN (Persero) pada Senin (25/5/2026), kejadian blackout pada Jumat (22/5/2026) ini dipicu fenomena power swing atau osilasi pada sistem transmisi kelistrikan.

Gangguan bermula pada pukul 18.44 WIB ketika transmisi 275 kV New Aur Duri menuju Sumsel 5 mengalami gangguan akibat cuaca buruk berupa hujan dan angin kencang.

Transmisi ini merupakan input menuju jalur 500 kV di bagian timur.

Direktur Transmisi PLN Edwin Nugraha Putra mengatakan, sistem kelistrikan Sumatera memiliki dua jalur utama yang menyalurkan daya listrik dari wilayah selatan ke utara, yakni koridor timur 500 kV dan koridor barat 275 kV.

Saat gangguan terjadi, dua sirkuit pada jalur timur trip (turun) sehingga jalur 500 kV keluar dari sistem.

Kondisi itu membuat aliran listrik yang semula mengalir dari selatan ke utara berbalik arah dan berpindah ke jalur barat 275 kV.

Perpindahan arus secara mendadak tersebut kemudian memicu fenomena power swing atau osilasi tegangan dan frekuensi yang sangat tinggi.

“Nah, perpindahan arus tadi tersebut menyebabkan fenomena yang kami sebut power swing, atau biasanya kita kenal dengan osilasi,” beber Edwin.

Ketika osilasi mencapai batas teknis tertentu, jalur barat 275 kV juga harus mengisolasi diri untuk mencegah gangguan yang lebih luas.

Akibatnya, jalur Muara Bungo-Sungai Rumbai ikut trip dan membuat sistem kelistrikan Sumatera terpisah menjadi dua bagian.

Di wilayah selatan Sumatera, pasokan pembangkit justru berlebih sehingga frekuensi listrik meningkat.

Sebaliknya, wilayah utara mengalami kekurangan daya yang menyebabkan frekuensi turun drastis.

Setelah sistem terpisah, petugas PLN terlebih dahulu memastikan tidak ada kerusakan fisik pada jaringan transmisi sebelum memulihkan pembangkit secara bertahap.

PLN kemudian mengaktifkan pembangkit diesel dan gas yang memiliki kemampuan black start untuk menyalakan sistem secara mandiri.

Pembangkit tersebut berada di Banda Aceh, Medan, dan Riau.

Dalam waktu sekitar lima jam, pasokan listrik mulai pulih sekitar 20 hingga 30 persen.

Baca juga: Membaca Blackout Sumatera Melalui Lensa Keadilan Energi dan Hak Asasi

Selanjutnya, pembangkit PLTGU mulai masuk sistem dalam waktu 10 hingga 15 jam.

Sementara itu, pembangkit PLTU membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali beroperasi, yakni sekitar 20 hingga 30 jam.

“Terakhir menyala seluruhnya pada hari Minggu jam 06.15 atau jam 06.17,” kata Edwin.

Menindaklanjuti hal itu, Danantara Indonesia bakal melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses operasional PT PLN (Persero).

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, Dony Oskaria, mengatakan, evaluasi meliputi proses bisnis, penyebab terjadinya blackout, hingga langkah mitigasi agar tidak berulang.

"Tentu, PLN kita akan melakukan review keseluruhan daripada prosesnya. Nanti akan kita review prosesnya, termasuk juga penyebabnya, kemudian antisipasi ke depan," jelasnya di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Tag:  #gelap #bergilir #negeri #terang #riwayat #blackout #indonesia #tahun #terakhir

KOMENTAR