Kilas Balik Bandara Husein dan Adisutjipto: Ketika Bandara Andalan Dipensiunkan, Kini Dihidupkan Lagi
Bandara Husein Sastranegara. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, kembali memperjuangkan adanya penerbangan rute baru di Bandara Husein Sastranegara untuk meningkatkan konektivitas transportasi udara.(KOMPAS.COM/PUTRA PRIMA PERDANA)
15:34
28 Mei 2026

Kilas Balik Bandara Husein dan Adisutjipto: Ketika Bandara Andalan Dipensiunkan, Kini Dihidupkan Lagi

Pemerintah berencana membuka kembali dua bandara untuk melayani penerbangan sipil komersial setelah beberapa tahun terakhir dioperasikan terbatas.

Dua bandara tersebut adalah Bandara Husein Sastranegara di Bandung dan Bandara Adisutjipto di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pengumuman ini disampaikan oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menyusul arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Kami menyambut baik rencana pembukaan kembali penerbangan komersial," kata Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Wamenhan RI) Donny Ermawan, pekan ini.

Mengulas ke belakang, dua bandara ini memiliki rekam jejak panjang pengabdian dengan beberapa kali perubahan status.

Baca juga: Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara Disambut Pelaku Usaha, Sektor Wisata hingga Kuliner Diprediksi Bergairah

Bandara Husein Sastranegara, misalnya, awalnya merupakan lapangan terbang era Belanda, lalu sempat menjadi pangkalan AURI/TNI AU.

Bandara kemudian baru dibuka untuk penerbangan komersial sipil sekitar tahun 1970-an.

Sementara Bandara Adisutjipto di Yogyakarta sejak awal dibangun sebagai pangkalan udara militer Maguwo, tetapi berkembang menjadi bandara gabungan sipil-militer (enclave sipil).

Dulu jadi andalan

Selama bertahun-tahun, Bandara Husein Sastranegara menjadi salah satu simpul transportasi udara utama di Jawa Barat.

Lokasinya yang berada di tengah Kota Bandung membuat bandara ini menjadi pilihan favorit warga Bandung dan sekitarnya untuk bepergian ke berbagai daerah di Indonesia.

Baca juga: Presiden Prabowo Intruksikan Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara, Farhan : Kita Sangat Tunggu

Bandara ini bahkan dikenal sebagai salah satu bandara dengan akses tercepat dari pusat kota.

Penumpang hanya membutuhkan waktu singkat untuk mencapai terminal keberangkatan dibandingkan harus menuju bandara di luar kota.

Mengacu pemberitaan Kompas.com pada 2019, Bandara Husein sempat melayani puluhan penerbangan domestik setiap hari, sebelum akhirnya dialihkan secara bertahap ke Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat.

Perpindahan operasional ini berlangsung paling lambat pada 1 Juli 2019.

Secara total, ada 56 penerbangan yang pindah ke Kertajati, terdiri dari 28 take-off dan 28 landing.

Di tahap awal, setidaknya enam maskapai lebih dulu mengoperasikan penerbangan sipil di Kertajati.

Keenam maskapai itu meliputi Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, Air Asia, Xpress Air, dan NAM Air.

Perpindahan itu sekaligus membuat operasional Bandara Kertajati berlangsung hingga pukul 21.00 WIB.

Baca juga: Bandara Husein Bandung dan Adi Sutjipto Yogya Bakal Buka untuk Penerbangan Sipil

Sama dengan Bandara Husein Sastranegara, Bandara Adisutjipto di Yogyakarta juga memiliki posisi serupa.

Sebelum beroperasinya Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo, Jawa Tengah, Adisutjipto merupakan bandara utama Yogyakarta dan menjadi gerbang masuk wisatawan maupun pelaku perjalanan bisnis ke kota tersebut.

Bandara ini dikenal sangat dekat dengan pusat Kota Yogyakarta dan menjadi andalan mobilitas masyarakat DIY dan Jawa Tengah bagian selatan.

Banyak warga mengingat Adisutjipto sebagai bandara yang padat hampir sepanjang hari, terutama pada musim liburan dan akhir pekan.

Karena tingginya trafik keluar masuk penumpang, Bandara Adisutjipto bahkan sempat mengalami overcapacity.

Kapasitas terminal dan landasan pacu bahkan sempat tidak lagi mampu menampung lonjakan penerbangan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Baca juga: Bertemu Menhub, Dedi Mulyadi Bahas Reaktivasi Bandara Husein, KA, hingga Kertajati

Dinonaktifkan

Status dua bandara ini mulai berubah ketika pemerintah di era Presiden ke-7 Joko Widodo memutuskan memindahkan sebagian besar penerbangan komersial ke bandara baru yang dinilai memiliki kapasitas lebih besar.

Untuk Bandara Husein Sastranegara, pemerintah secara bertahap memindahkan penerbangan domestik pesawat jet ke Bandara Kertajati di Majalengka.

Proses pengalihan dilakukan sejak 2019 dan berlangsung penuh pada Oktober 2023.

Pada 29 Oktober 2023, Bandara Kertajati resmi beroperasi penuh menggantikan Bandara Husein Sastranegara untuk penerbangan berjadwal pesawat jet.

Sejak saat itu, aktivitas penerbangan sipil di Bandara Husein menurun drastis.

Bandara ini hanya melayani penerbangan terjadwal antarkota di Pulau Jawa, penerbangan militer, serta tamu VIP.

Hal serupa terjadi di Bandara Adisutjipto.

Baca juga: Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara Dinilai Tak Langsung Pulihkan Penumpang, Ini Alasannya

Pemerintah memindahkan penerbangan komersial reguler ke Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo yang mulai beroperasi penuh pada 2020.

Pemindahan seluruh penerbangan domestik dengan rute ke luar Jawa meliputi Medan, Bali, Pontianak, hingga Makassar pun mulai diberlakukan pada Oktober 2019.

Setidaknya saat itu, terdapat 66 penerbangan domestik yang akan dipindahkan ke YIA di Kabupaten Kulon Progo, DIY.

Bandara YIA kemudian mulai membuka operasi sejak akhir April 2019.

Maskapai Citilink menjadi maskapai perintis pada 6 Mei 2019, disusul oleh Batik Air dari grup Lion Air yang membuka 4 rute, dan 1 rute dari Lion Air.

Setelah perpindahan itu, Adisutjipto lebih banyak difungsikan untuk penerbangan militer, sekolah penerbangan, serta sejumlah penerbangan terbatas.

Baca juga: Pemkot Bandung Buka Bandara Husein, Malaysia Yakin Kerja Sama Ekonomi Meningkat

Alasan pemindahan

Menteri Perhubungan saat itu, Budi Karya Sumadi menjelaskan, pemindahan penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati dilakukan karena faktor keselamatan dan kebutuhan runway yang lebih panjang.

Sementara, landasan pacu (runway) yang lebih memadai diperlukan agar mampu menampung pesawat berbadan besar seperti Boeing 777 sehingga mampu mendorong penerbangan langsung dari luar negeri.

Bandara Husein Sastranegara diketahui hanya memiliki landasan pacu sepanjang 2.200 meter.

Sedangkan Bandara Kertajati dibangun dengan panjang landasan pacu mencapai Bandara 3.000 meter.

“Husein itu landasannya pendek dan dia berada di cekungan sehingga dari segi safety memang Husein punya masalah,” kata Budi Karya, 10 Oktober 2023.

Untuk Bandara Adisutjipto, Juru Bicara Pembangunan YIA dari AP I Agus Pandu Purnama menjelaskan, pemindahan bandara turut didasari karena Bandara Adisutjipto telah mengalami kelebihan kapasitas (over capacity).

Baca juga: Presiden Prabowo dan Ujian Negara Kuat

Kelebihan kapasitas ini berpengaruh pada kenyamanan penumpang, selain juga pesawat yang hendak mendarat di Adisutjipto mengalami holding (menunggu antrean).

Waktu tunggu antrean pesawat mendarat makin hari semakin lama, bahkan mencapai 40-50 menit.

Kapasitas apron atau parkir hanya untuk 11 pesawat.

Sementara itu kerap terjadi 5 pesawat mengalami holding. Akibatnya, ada saja pesawat yang terpaksa mendarat di bandara lain, bahkan return to base (kembali ke bandara asal keberangkatan).

Pandu lantas mencontohkan, penerbangan dari Singapura pernah mengalami holding 59 menit.

Pesawat ini memutuskan mendarat di Surabaya.

"Holding berarti pelayanan kurang bagus. Karena itu, kami ingin bandara baru segera dioperasionalkan. Holding tidak akan ada lagi di bandara baru yang bisa 309 slot penerbangan, sedangkan Adisutjipto hanya 188 slot," kata Pandu pada 15 April 2019.

Bakal Layani Penerbangan Sipil Lagi

Kini, setelah beberapa tahun mengalami penurunan aktivitas sipil, dua bandara ini kembali masuk dalam pembahasan pemerintah untuk melayani penerbangan komersial.

Baca juga: Menag Tanggapi soal Kurban Prabowo: Tidak Boleh Ada yang Kelaparan

Seiring dengan itu, Kemenhan menyatakan akan berkomitmen penuh dan mendukung regulasi, selama tidak mengganggu jadwal dan operasional latihan maupun tugas pertahanan TNI AU.

Hal yang menjadi perhatian utama, kata Donny, adalah pengaturan teknis terkait penggunaan apron dan pengelolaan waktu penerbangan agar tidak terjadi kepadatan.

"Sehingga aktivitas militer dan sipil dapat berlangsung secara harmonis, selaras, dan tanpa saling mengganggu,” ucap Donny.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, mengaku sangat menanti reaktivasi Bandara Husein, yang beberapa tahun terakhir hanya melayani penerbangan komersial berjadwal dengan tujuan antarkota di Pulau Jawa.

Menurutnya, spesifikasi Bandara Husein saat ini masih sangat memadai untuk memfasilitasi jenis pesawat berbadan sedang seperti Boeing 737 maupun Airbus A320.

Salah satu hasil kajian awal menunjukkan adanya potensi besar bagi pertumbuhan kembali arus penerbangan di Kota Bandung.

"Kita ingin mengembalikan kejayaan Bandara Husein yang di tahun 2019 traffic-nya itu sekitar 3,8 juta orang, tiga juta penerbangan domestik, 800 ribu penerbangan internasional," tandasnya.

Tag:  #kilas #balik #bandara #husein #adisutjipto #ketika #bandara #andalan #dipensiunkan #kini #dihidupkan #lagi

KOMENTAR