Anies Baswedan Skakmat Seskab Teddy yang Sebut Dino Patti Djalal 'Pejabat Cuma 3 Bulan'
Kolase foto Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Dino Patti Djalal, dan Anies Baswedan.
14:44
2 Juni 2026

Anies Baswedan Skakmat Seskab Teddy yang Sebut Dino Patti Djalal 'Pejabat Cuma 3 Bulan'

Hubungan antara tokoh politik dan pejabat negara kembali memanas di ruang publik. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, secara terbuka pasang badan membela mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal.

Pembelaan ini muncul sebagai respons atas 'sentilan' yang dilayangkan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya terhadap Dino, terkait kritik atas lawatan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.

Anies Baswedan tidak hanya sekadar membela, namun ia membeberkan argumentasi kuat mengenai kapasitas dan integritas Dino di dunia diplomasi internasional.

Menurut Anies, kualitas seorang tokoh tidak bisa hanya diukur dari durasi jabatan formal yang singkat, melainkan dari konsistensi dan kontribusi panjangnya bagi bangsa.

"Pak Dino Patti Djalal menguasai substansi. Rekam jejaknya juga teruji. Pun pengalaman memimpinnya luas," kata Anies.

Tak hanya itu, Anies juga menegaskan karier diplomatik Dino terbilang panjang dan ajeg. Itu ditunjang oleh kecintaannya terhadap politik luar negeri Indonesia.

"Dino Patti Djalal, dia bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat."

Rekam Jejak Sejak Mahasiswa UGM: Berani Lawan Ramos Horta

Ketegangan ini bermula ketika Seskab Teddy Indra Wijaya menyinggung masa jabatan Dino Patti Djalal sebagai Wamenlu, yang hanya berlangsung selama tiga bulan.

Namun bagi Anies, angka tersebut tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan dedikasi Dino sejak usia muda.

Anies mengenang momen saat dirinya masih berstatus mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Kala itu, Dino Patti Djalal yang masih menjadi diplomat muda di London, sudah berani tampil di panggung internasional yang sangat kompetitif dan penuh tekanan politik.

"Waktu itu saya mendengar ada diplomat muda Indonesia di London tampil di BBC World Debate. Berhadap-hadapan dengan Ramos Horta, diplomat senior. Tentu saat itu Indonesia tengah tersudut dalam atmosfer internasional. Diplomat muda itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia. Di situ saya pertama kali mendengar namanya: Dino Patti Djalal," kenang Anies.

Kala itu, posisi Indonesia memang sedang berada di bawah tekanan dunia internasional terkait isu Timor Timur.

Keberanian Dino menghadapi tokoh sekaliber Ramos Horta di media global seperti BBC menjadi bukti bahwa kapasitas diplomatiknya sudah terbentuk sejak lama melalui proses yang matang, bukan instan.

Pertemuan di Chicago dan Diplomasi Pasca-9/11

Persahabatan dan kekaguman Anies terhadap Dino terus berlanjut hingga ke Amerika Serikat. Saat Anies menempuh studi PhD di Illinois, keduanya bertemu di Chicago tak lama setelah tragedi 11 September 2001 (9/11).

Saat itu, suasana bagi komunitas Muslim dan diaspora Indonesia di AS sedang sangat menantang.

Anies melihat langsung bagaimana Dino menangani situasi krisis tersebut dengan kepala dingin.

Ia menilai Dino memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa dalam menjembatani kepentingan Indonesia di tengah gejolak global.

"Dia adalah diplomat muda yang cerdas. Dia artikulatif, dan mampu menangangi persoalan rumit secara tenang. Itu adalah ketenangan diplomatik yang sulit ditiru."

Kekaguman tersebut semakin menguat saat Dino menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat pada tahun 2012.

Dino dikenal sebagai inisiator Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, sebuah gerakan masif yang menyatukan potensi warga negara Indonesia di seluruh dunia.

"Saya termasuk yang diundang olehnya saat itu," kata Anies, menunjukkan kedekatan historis mereka.

FPCI: Warisan Dino untuk Diplomasi Indonesia

Lebih jauh, Anies menyoroti bahwa kontribusi Dino Patti Djalal tidak berhenti meskipun ia sudah berada di luar struktur pemerintahan.

Melalui pendirian Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino dinilai berhasil mendemokratisasi isu kebijakan luar negeri agar bisa dipahami oleh kalangan anak muda dan masyarakat luas.

FPCI kini telah menjelma menjadi komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan paling berpengaruh di tanah air.

Organisasi ini dinilai sukses melahirkan generasi diplomat baru yang kini menjadi ujung tombak Indonesia di panggung global.

Anies memandang langkah Dino membangun FPCI adalah bukti bahwa kecintaannya pada negara bersifat substansial, bukan sekadar mengejar kursi jabatan.

Editor: Bernadette Sariyem

Tag:  #anies #baswedan #skakmat #seskab #teddy #yang #sebut #dino #patti #djalal #pejabat #cuma #bulan

KOMENTAR