Skandal Riset Palsu Demi Traveling ke Denmark, Ini Temuan Terbaru Pemerintah
Mendiktisaintek Brian Yuliarto.()
09:06
3 Juni 2026

Skandal Riset Palsu Demi Traveling ke Denmark, Ini Temuan Terbaru Pemerintah

- Kementerian Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Kemendiktiristek) membentuk tim untuk mengusut skandal pemalsuan riset di konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD).

Skandal yang sempat viral ini disebabkan karena para terduga pelaku mengincar dana bantuan perjalanan (travel grant) agar bisa jalan-jalan ke luar negeri.

Baca juga: Mendikti Ungkap Ada 4 Pelaku Skandal Riset Palsu di Denmark, Lulusan UNY dan Tidak Ada Dosen

Menteri Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi Brian Yuliarto mengungkap tim yang dibentuknya dipimpin oleh Pelaksana tugas (Plt) Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek) Nur Syarifah.

"Begitu mendapatkan informasi ini, kami langsung membentuk tim dipimpin oleh Ibu Irjen," kata Brian di rapat Komisi X DPR, Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Selama proses investigasi, Kemendkti Saintek juga melakukan koordinasi dengan pihak kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) karena terduga pelaku merupakan alumni di sana.

Pelaku 4 Orang

Dari hasil pendalaman, para terduga pelaku berjumlah empat orang.

Mereka disebut alumni UNY namun tidak berprofesi sebagai dosen ataupun peneliti aktif di kampus.

Hanya saja, Brian tidak mau mengungkap empat nama terduga pelaku tersebut.

"Kami pertama mengecek, apakah ada di antara para pelaku itu yang terafiliasi atau sebagai dosen maupun peneliti, ternyata tidak ada yang dosen dan peneliti. Sehingga kami, selanjutnya kami telusuri," ucap Brian.

Berdasarkan laporan pihak UNY yang telah melakukan pemeriksaan, keempat pelaku itu memiliki motif untuk memanfaatkan travel grant ke luar negeri.

"Jadi, memang cukup kuat saat ini dugaan bahwa mereka ingin memanfaatkan travel grant ke luar negeri," ungkap Brian.

Coreng Nama Indonesia

Brian berpandangan skandal ini telah mencoreng kredibilitas penelitian Indonesia di mata dunia.

Menurutnya, kasus ini sangat bermasalah dari sisi etik dan integritas.

"Yang sangat disayangkan juga adalah dengan kasus ini, maka kredibilitas penelitian di Indonesia juga kemudian akan disangsikan," imbuh dia.

Brian tidak ingin para peneliti Indonesia yang betul-betul berkualitas justru terdampak hanya gara-gara tindakan oknum-oknum tersebut.

"Apalagi ini kan juga merugikan kredibilitas bangsa, peneliti-peneliti yang sudah benar-benar melakukan penelitian secara kerja keras dan seterusnya," ucap Brian.

Baca juga: Mendikti Ungkap Motif Pelaku Riset Palsu: Manfaatkan Travel Grant untuk ke Luar Negeri

Lebih lanjut, Brian juga berencana memproses kasus ini lewat jalur hukum.

Sebab, pihak kementerian tidak punya kewenangan untuk memberi sanksi apabila para pelaku bukan dosen atau bagian dari civitas akademika.

Para terduka pelaku juga diduga melakukan penipuan karena menggunakan afiliasi atau mencatut nama kampus tanpa izin.

Terkait dugaan ini juga terus didalami oleh Tim Investigasi.

"Artinya kan mereka menggunakan, mencatut nama perguruan tinggi tanpa izin dan juga berarti melakukan penipuan, begitu. Ini yang kami akan terus berkoordinasi," ujar Brian.

Brian ingin ada efek jera kepada para pelaku agar ke depannya kasus serupa tidak lagi terulang.

"Nah, kita akan mencari delik yang nanti sesuai. Kita tentu akan berkoordinasi barangkali juga kita mengundang aparat hukum begitu ya, penegak hukum, untuk kemudian kita lihat mana hal-hal yang bisa ditindaklanjuti untuk ditegakkan secara hukum," jelasnya.

Awal Mula Kasus Viral

Kasus ini awalnya dibongkar oleh Dosen Universitas Udayana Ida Bagus Mandhara Brasika pada Selasa (26/5/2026) lewat akun Instagramnya, @mandharabrasika.

Dosen di Univeristas Udayana itu curiga ketika seorang peserta mempresentasikan risetnya di forum ISPPD, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.

Kecurigaan itu muncul setelah perempuan tersebut mengubah-ubah tampilan busananya.

Wanita tersebut juga diduga melakukan penipuan identitas saat melakukan presentasi.

"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir... salah seorang peserta diduga berganti identitas saat presentasi, termasuk mengganti nama, jilbab, dan nametag," tulisnya pada Selasa (26/5/2026).

Pelaku juga diduga menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memalsukan data, gambar, hingga isi tulisan ilmiahnya.

Baca juga: Mendikti Bentuk Tim Investigasi Riset Palsu Akademisi RI di Denmark

Selain itu, kejanggalan juga muncul dari lokasi penelitian yang dicantumkan dalam riset tersebut.

Disebutkan bahwa lokasi riset tersebar di berbagai belahan dunia, di antaranya Pegunungan Andes (Peru), Etiopia dan Sudan Selatan, Guatemala, Lebanon, dan Yordania, Bangladesh, Filipina, Nepal, India Utara, Kenya, hingga Malawi.

Masalahnya, seluruh tim peneliti diketahui hanya berasal dari Indonesia tanpa melibatkan kolaborator lokal dari negara-negara tersebut.

Kejanggalan lainnya adalah riset itu tidak memiliki keterangan persetujuan etik (ethical clearance).

Unggahan tersebut kemudian viral di Instagram hingga Threads.

Tag:  #skandal #riset #palsu #demi #traveling #denmark #temuan #terbaru #pemerintah

KOMENTAR