Rahasia Wajah Awet Muda Tanpa Perubahan Drastis, Biostimulator Kolagen Jadi Tren Kecantikan Baru
Ilustrasi kulit wajah sehat (Freepik)
15:38
3 Juni 2026

Rahasia Wajah Awet Muda Tanpa Perubahan Drastis, Biostimulator Kolagen Jadi Tren Kecantikan Baru

Dunia estetika terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk merawat kesehatan dan penampilan kulit. Jika dahulu perawatan anti-aging identik dengan prosedur yang memberikan efek instan atau penggunaan berbagai teknologi berbasis alat untuk mengencangkan wajah, kini tren mulai bergeser. 

Semakin banyak orang mencari solusi yang tidak hanya memperbaiki tampilan kulit dari luar, tetapi juga mampu mengatasi penyebab utama penuaan dari dalam sehingga hasil yang diperoleh terlihat lebih alami dan bertahan lebih lama.

Pergeseran tren tersebut tidak terlepas dari pemahaman bahwa proses penuaan kulit sebenarnya berawal dari berkurangnya kolagen dan elastin yang berfungsi sebagai penopang struktur kulit. 

Seiring bertambahnya usia, produksi kedua komponen penting ini terus menurun sehingga kulit menjadi lebih tipis, kurang kenyal, dan mulai kehilangan kekencangannya.

Aesthetic doctor dr. Catherine Soebroto, Dipl. CIBTAC dari dr. Belle Aesthetic Clinic Pondok Indah, Jakarta, menjelaskan bahwa penuaan merupakan proses alami yang dialami setiap orang. Namun berbagai faktor lingkungan dapat mempercepat terjadinya aging pada kulit.

“Paparan UV tinggi adalah faktor penyebab aging nomor satu,” ungkap dr. Catherine dalam konferensi pers yang diselenggarakan dr. Belle Aesthetic Clinic dan Galderma di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

dr. Catherine Soebroto, Dipl. CIBTAC dari dr. Belle Aesthetic Clinic Pondok Indah, Jakarta (Suara.com/Dinda)dr. Catherine Soebroto, Dipl. CIBTAC dari dr. Belle Aesthetic Clinic Pondok Indah, Jakarta (Suara.com/Dinda)

Menurutnya, kulit yang mengalami penuaan umumnya tampak kendur (sagging), berkerut, dan kehilangan elastisitas. Kondisi ini terjadi karena berkurangnya kolagen dan elastin yang selama ini menjaga kekuatan serta ketebalan kulit.

“Ini karena kulit mulai kehilangan kolagen dan elastin, yang merupakan penopang struktur kulit. Dengan berkurangnya kolagen, kulit menjadi tipis sehingga kendor dan tampak turun,” paparnya.

Secara teori, jumlah kolagen dalam kulit berkurang sekitar 10 persen setiap 10 tahun. Akibatnya, wajah mulai kehilangan volume alami, kontur wajah berubah, dan tanda-tanda penuaan semakin terlihat jelas. Bahkan menurut dr. Catherine, kondisi tersebut dapat dikenali melalui tes sederhana dengan mencubit pipi.

“Kalau kulit bisa ditarik sampai panjang, tandanya kulit sudah sangat tipis,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kulit yang sehat dan muda memiliki lapisan yang tebal, kencang, kenyal, serta tekstur yang halus. Menariknya, tanda penuaan pada orang Asia berbeda dengan orang Kaukasia. 

Karena memiliki lapisan kulit yang lebih tebal, orang Asia cenderung mengalami pengenduran jaringan wajah dibanding munculnya kerutan yang dalam.

“Jadi tidak terlalu keriput, tapi lebih ke arah kendur sehingga tampak heavy jaw saat terjadi penuaan. Berbeda dengan orang Kaukasian yang cenderung berkerut dan keriput, karena kulitnya lebih tipis,” jelasnya.

Pemahaman mengenai hilangnya kolagen sebagai akar masalah penuaan inilah yang kemudian membuat collagen stimulator semakin diminati sebagai pilihan perawatan anti-aging modern. 

Berbeda dengan berbagai teknologi berbasis alat yang umumnya bekerja dengan memberikan energi tertentu untuk merangsang pengencangan jaringan, collagen stimulator bekerja langsung pada sumber permasalahan dengan memicu pembentukan kolagen baru.

Salah satu yang saat ini banyak digunakan adalah PLLA-SCA (Poly-L-Lactic Acid Skin Collagen Activator). Perawatan ini termasuk biostimulator yang bekerja merangsang sel fibroblast untuk menghasilkan kolagen alami tubuh.

“Ini adalah collagen stimulator, yang bekerja menstimulasi kolagen tipe I dan III, sehingga lapisan kulit kembali tebal dan naik. Secara internasional, orang-orang di luar negeri sangat suka dengan biostimulator karena hasilnya alami,” terang dr. Catherine.

Keunggulan utama collagen stimulator dibandingkan berbagai perawatan anti-aging lainnya adalah kemampuannya memperbaiki kualitas kulit dari dalam. 

Jika teknologi berbasis alat umumnya memberikan efek pengencangan melalui stimulasi jaringan yang sudah ada, collagen stimulator membantu membangun kembali fondasi kulit yang telah melemah akibat hilangnya kolagen. 

Dengan kata lain, bukan hanya mengencangkan, tetapi juga memperbaiki ketebalan, kekuatan, dan kualitas jaringan kulit secara menyeluruh.

PLLA-SCA juga memiliki mekanisme yang berbeda dibandingkan dermal filler. Jika filler bekerja dengan memberikan volume instan melalui bahan yang disuntikkan, collagen stimulator tidak langsung mengubah bentuk wajah setelah tindakan. 

Perubahan terjadi secara bertahap karena tubuh memproduksi kolagen baru secara alami.

Tidak seperti dermal filler biasa yang memberikan volume instan secara buatan, PLLA-SCA bekerja dari dalam dengan memicu produksi kolagen baru. 

Hasilnya adalah perbaikan struktur kulit, penambahan volume yang hilang akibat penuaan, penyamaran kerutan, hingga pengencangan wajah yang berlangsung secara bertahap dan natural.

“Setelah tiga bulan, kulit akan naik, pigmentasi berkurang, smile line lebih tersamar, kulit di sekitar mata lebih naik, dan dagu pun naik sehingga jaw line lebih terlihat,” papar dr. Catherine.

Karena hasilnya berkembang secara perlahan, wajah tidak tampak berubah drastis atau berlebihan. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa tren global saat ini mulai mengarah pada penggunaan biostimulator. Banyak pasien menginginkan wajah yang tampak lebih segar dan muda tanpa terlihat seperti baru menjalani prosedur estetika.

PLLA-SCA dari Galderma sendiri telah digunakan oleh dokter estetika di berbagai negara selama lebih dari 25 tahun dan dikenal sebagai salah satu collagen stimulator terkemuka di dunia. Produk ini mulai tersedia di Indonesia sejak Oktober tahun lalu.

“Obat yang usianya sudah lebih dari 10 tahun, keamanan dan efektivitasnya sudah teruji, karena kalau tidak, pasti sudah tidak produksi lagi,” tutur dr. Catherine.

Meski memerlukan beberapa sesi penyuntikan dan tidak memberikan hasil instan, collagen stimulator menawarkan keunggulan lain berupa daya tahan yang lebih panjang. Setelah disuntikkan, PLLA-SCA akan terurai secara alami karena bersifat biodegradable dan hilang sepenuhnya dari tubuh. 

Namun kolagen baru yang terbentuk tetap bertahan sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka waktu lama.

“Dia merangsang produksi kolagen, lalu hilang, jadi tidak perlu takut sama sekali,” tegas dr. Catherine.

Kolagen yang terbentuk dari proses stimulasi tersebut bahkan dapat bertahan hingga sekitar 25 bulan atau lebih dari dua tahun. Hal ini menjadikan collagen stimulator sebagai pilihan yang menarik bagi mereka yang menginginkan hasil anti-aging jangka panjang tanpa harus terlalu sering melakukan tindakan berulang.

Meski demikian, keberhasilan perawatan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk yang digunakan. Kompetensi dokter yang melakukan tindakan juga menjadi faktor yang sangat penting untuk menjamin keamanan dan hasil yang optimal.

“Obatnya sudah bagus dan aman, tapi kalau yang menyuntik bukan ahli, berisiko terjadi berbagai efek samping. Penting sekali untuk memilih dokter dan klinik yang tepat,” tutup dr. Catherine.

Editor: Dinda Rachmawati

Tag:  #rahasia #wajah #awet #muda #tanpa #perubahan #drastis #biostimulator #kolagen #jadi #tren #kecantikan #baru

KOMENTAR