Pertamina Akselerasi Transisi Energi lewat Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono memberikan pemaparan pada sesi diskusi panel bertema Decarbonization: Global Technology Trends and Best Practices di Bali, Rabu (3/6/2026).(Dok. Pertamina)
17:54
5 Juni 2026

Pertamina Akselerasi Transisi Energi lewat Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon

- PT Pertamina (Persero) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih melalui strategi pertumbuhan ganda (dual growth strategy).

Strategi tersebut dijalankan melalui dua pendekatan. Pertama, mengoptimalkan bisnis inti dengan memaksimalkan potensi nilai di sektor hulu, membangun fleksibilitas kilang, mentransformasi bisnis retail fuel, serta memperluas infrastruktur dan layanan.

Kedua, mengembangkan bisnis rendah karbon sebagai pilar pertumbuhan masa depan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono pada sesi diskusi panel bertajuk Decarbonization: Global Technology Trends and Best Practices di Bali, Rabu (3/6/2026).

Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific, forum regional yang membahas transisi energi berkelanjutan di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diinisiasi oleh World Bank Group.

Baca juga: Tanpa Reformasi Struktural, World Bank Nilai Indonesia Bakal Tertahan di Middle Income Trap

Dalam pemaparannya yang berjudul Accelerating Energy Transition Through Industrial Decarbonization and Low Carbon Business, Agung menjelaskan langkah-langkah Pertamina dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Ia mengungkapkan bahwa Pertamina memiliki visi menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendorong transisi energi melalui program dekarbonisasi terintegrasi dan pengembangan bisnis rendah karbon.

Langkah tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Agung menjelaskan, transisi energi di Indonesia perlu dijalankan dengan tetap mempertimbangkan tantangan energy trilemma, yakni energy security, affordability, dan sustainability.

"Dan di situ saya yakin Pertamina menjadi contoh di saat dunia (tengah) menghadapi banyak ketidakpastian secara geopolitik dengan adanya konflik di berbagai belahan dunia, juga ketidakpastian mengenai bagaimana penanganan climate change," ujar Agung dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (5/6/2026).

Baca juga: Imbas Rupiah Melemah, Harga Pelumas Pertamina Naik

Fokus pada Dekarbonisasi dan Energi Bersih

Agung mengatakan, berbagai inisiatif dekarbonisasi yang dijalankan Pertamina dapat menjadi pembelajaran bagi peserta forum dari berbagai negara.

“Pertamina mendorong pemanfaatan geothermal (panas bumi) sebagai energi bersih serta pengurangan flaring. Pertamina juga mengembangkan energi baru dan terbarukan melalui bisnis rendah karbon, seperti biodiesel, bioetanol, serta rencana pengembangan carbon capture and storage/carbon capture utilization and storage (CCS/CCUS),” jelasnya.

Dalam upaya dekarbonisasi, Pertamina juga mengganti sejumlah peralatan berbahan bakar fosil menjadi bertenaga listrik.

Langkah tersebut menghasilkan efisiensi energi sebesar 1,52 juta metrik ton setara karbon dioksida (million metric tons of carbon dioxide equivalent/MMtCO2e), atau berkontribusi sebesar 66,86 persen terhadap total pengurangan emisi perusahaan.

Baca juga: Total Denda Emisi Karbon Selama 2025 Capai Rp1.897 Triliun

Kembangkan Panas Bumi dan Biofuel

Di sisi bisnis rendah karbon, Pertamina terus mengembangkan bahan bakar nabati (biofuel) yang diproyeksikan memiliki potensi penjualan hingga 60 juta kiloliter pada 2029 melalui proyek utama Bio Refinery Cilacap.

Selain itu, Pertamina juga mengoptimalkan potensi pembangkit listrik panas bumi dengan kapasitas 1,4 gigawatt (GW) melalui proyek Hululais dan Lahendong.

Salah satu proyek strategis yang saat ini dikembangkan Pertamina adalah Geothermal Lahendong Unit 7 dan 8 yang telah masuk dalam Green Book Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).

Masuknya proyek tersebut ke dalam Green Book membuka peluang dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan internasional, termasuk World Bank, sehingga dapat mempercepat pengembangan kapasitas panas bumi nasional sekaligus memperkuat bauran energi bersih Indonesia.

Baca juga: Isu Sosial Jadi Kendala Investasi Panas Bumi di Indonesia

Komitmen Kurangi Emisi Metana

Pertamina juga berkomitmen menurunkan emisi metana (CH4) sebesar 40 persen dibandingkan emisi dasar pada 2021.

Di sektor hulu, komitmen tersebut diwujudkan melalui program zero flaring yang didukung kampanye Leak Detection and Repair (LDAR). Program ini berhasil menekan emisi metana tidak terkontrol sekitar 30 hingga 39,7 persen.

Salah satu implementasinya dilakukan di lapangan PEP Donggi Matindok yang mampu mengurangi kebocoran hingga 68,4 persen pada 2025.

Program zero flaring juga diterapkan di JOB Pertamina-Medco E&P Tomori dan berhasil menurunkan emisi CH4 sekitar 30 persen pada 2025.

Sementara itu, PT Badak NGL mampu mengurangi emisi CH4 hingga 38,7 persen pada tahun yang sama.

Baca juga: Spesifikasi ANKA-S, Drone Asal Türkiye yang Siap Gantikan CH4 di Natuna

Tag:  #pertamina #akselerasi #transisi #energi #lewat #program #dekarbonisasi #bisnis #rendah #karbon

KOMENTAR