Luis de la Fuente: Lamine Yamal Harus Terbuka Terima Nasihat dan Jangan Cedera
Tim pelatih berkomitmen untuk terus membimbing Yamal agar memiliki kedewasaan mental yang seimbang dengan kemampuan teknisnya di lapangan hijau.
"Dia sangat muda. Dia melakukan debut bersama kami di usia 16 tahun. Dia sekarang 18 tahun dan kami menanamkan prinsip-prinsip dasar sepak bola dalam dirinya. Ini tentang mengajarinya nilai-nilai yang harus dia miliki dalam sepak bola dan kehidupan. Keduanya harus berjalan beriringan. Dia lapar untuk tumbuh dan berkembang dan dia menetapkan standar tinggi, terutama untuk dirinya sendiri. Kesediaan untuk belajar itu berarti dia sangat terbuka untuk menerima nasihat. Itu adalah resep sukses selama Anda bebas dari cedera," jelas pelatih berusia 64 tahun itu.
Mengenai peta persaingan di Piala Dunia nanti, De la Fuente menilai peta kekuatan kali ini jauh lebih merata. Namun, ia meminta anak asuhnya untuk tidak menjadikan status unggulan sebagai beban moral yang merusak permainan.
"Saya suka Anda mengatakan “salah satu kandidat unggulan”. Ada persaingan yang sangat kuat dari para kontestan, tidak seperti apa pun yang saya ingat dari Piala Dunia baru-baru ini. Ada beberapa tim top yang semuanya memiliki pola pikir untuk menjadi juara. Itu tidak boleh membebani kami. Kerja keras kami dan performa tim yang hebat telah membawa kami sejauh ini. Semuanya berakar dari pendekatan yang telah kami lakukan," tambahnya.
Dalam taktiknya, De la Fuente selalu menekankan pentingnya respek terhadap lawan serta manajemen stres saat menghadapi hasil buruk. Baginya, esensi sepak bola adalah memberikan segalanya tanpa perlu meratapi hasil akhir secara berlebihan.
"Saya mencoba melepaskan tekanan dan menjaga kekalahan dalam perspektif. Anda dapat melakukan hampir semua hal dengan benar dan tetap kalah di level ini. Para pemain harus tetap tenang, bertanggung jawab, profesional, mendorong diri mereka sendiri dan penuh hormat, menunjukkan semangat tim dan kemurahan hati. Kami semua tentang nilai-nilai yang menjadi pusat kerja sama tim – bermain untuk diri mereka sendiri dan untuk satu sama lain," paparnya.
Lebih dari sekadar trofi, De la Fuente memiliki misi besar untuk mengembalikan rasa bangga masyarakat Spanyol terhadap tim nasional. Ia ingin skuadnya menginspirasi generasi baru lewat pendekatan yang humanis.
"Saya pikir kami telah memenangkan hati generasi muda yang selama bertahun-tahun kehilangan rasa bangga terhadap tim nasional. Mengamankan gelar pertama kami sejak 2012 telah memungkinkan kami untuk terhubung kembali dengan para penggemar tersebut; hasil positif tentu membantu. Saya ingin kami diingat dengan cara yang sama seperti tim yang dilatih oleh idola saya Vicente del Bosque: sebagai generasi pesepak bola yang memahami tidak hanya apa artinya memainkan permainan, tetapi juga apa artinya menjadi manusia," tegasnya.
Target Spanyol di turnamen akbar ini sangat sederhana namun menuntut komitmen penuh dari seluruh elemen tim.
"Bermain di setiap pertandingan seolah-olah itu adalah pertandingan terakhir kami, menghormati lawan kami dan siap bersaing untuk kehormatan tertinggi. Satu-satunya hal yang kami minta adalah usaha, kerja keras, dan dedikasi. Hasil akan datang dengan sendirinya," pungkas De la Fuente.
Timnas Spanyol menatap Piala Dunia 2026 dengan modal kepercayaan diri tinggi setelah sukses merengkuh trofi Euro 2024. Keberhasilan tersebut mengakhiri puasa gelar panjang mereka di turnamen mayor sejak era keemasan tahun 2012 silam.
Di bawah kendali Luis de la Fuente, La Roja bertransformasi dari tim yang dominan penguasaan bola monoton menjadi unit penyerang yang sangat dinamis dan mematikan. Spanyol dijadwalkan akan memulai perjuangan mereka di babak grup Piala Dunia 2026 melawan Cabo Verde di Atlanta.
Tag: #luis #fuente #lamine #yamal #harus #terbuka #terima #nasihat #jangan #cedera