Rahasia di Balik Kekalahan Arsenal di Liga Champions
Marquinhos mengangkat trofi juara usai memenangkan pertandingan sepak bola final Liga Champions UEFA antara Paris Saint-Germain (PSG) vs Arsenal FC di Puskas Arena di Budapest pada 30 Mei 2026. (Foto oleh FRANCK FIFE / AFP)(AFP/FRANCK FIFE)
12:57
1 Juni 2026

Rahasia di Balik Kekalahan Arsenal di Liga Champions

KALAU di antara kita masih ada yang tidak menerima kekalahan Arsenal atas Paris Saint-Germain, sebaiknya tengok sekali lagi bagaimana duel itu berjalan.

Tim racikan Luis Enrique itu menguasai bola hingga 72 persen, melakukan 19 tembakan, empat di antaranya on target.

Sementara Arsenal cuma memegang bola 28 persen dan melakukan lima tembakan. Satu kans berbuah gol Kai Havertz di menit keenam.

Tim yang dominan dengan bola di kaki, tak selalu menang. Tergantung bagaimana ia mengonversi peluang jadi gol.

Skuad dengan kualitas nomor satu dan sedang panas-panasnya main bola tidak selalu juara. Begitu juga tim dengan pertahanan terkuat tidak selalu menang duel.

Arsenal adalah tim dengan pertahanan terkuat. Di final ia menunjukkan itu dengan pertahanan rapi, pressing ketat dan kalau bukan sedikit "parkir bus".

Untuk melindung kwartet pertahanan, Arteta memasang dua gelandang bertahan: Declan Rice dan Myles Lewis Skelly.

Nama terakhir ini adalah temuan mutakhir Arteta di babak-babak akhir Liga Premier Inggris. Skelly terbilang kokoh, pintar merebut bola dan jago menggiring bola. Aslinya ia bek sayap di sebelah kiri dan tentu punya gocekan kaki kiri yang aduhai.

Dengan enam pemain bertahan, gawang David Raya tidak kebobolan hingga menit ke-63. Namun, aksi Khvicha Kvaratskhelia yang melakukan penetrasi ke area kotak penalti di kanan pertahanan Arsenal gagal dinetralisasi Cristhian Mosquera. Kvara terjatuh dan PSG mendapat penalti.

Ousmane Dembele tak menyia-nyiakan peluang itu. Skor berubah jadi 1-1. Skenario Havertz menjadi pahlawan kemenangan Arsenal batal.

Bayangan ini berkelebat sebab pemain jangkung asal Jerman itu juga mencetak gol (satu-satunya) untuk memberi kemenangan kepada Chelsea atas Manchester City di final Liga Champions musim 2020/2021.

Sebaliknya, gol balasan Dembele membawa ingatan ke musim 2005/2006. Di final musim itu Arsenal bertemu Barcelona.

Ketika itu Thierry Henry dkk sempat unggul satu bola. Namun, keunggulan itu berantakan karena Barca melesakkan dua gol di babak kedua. Skuad emas racikan Arsene Wenger menyia-nyiakan peluang untuk mengukir nama sebagai raja Eropa.

Sebelum laga final di Puskas Arena Budapest, sekurang-kurangnya ada lima rekor yang secara bercanda saya sebut akan 'menentukan' siapa juara Liga Champions Eropa musim 2025/2026.

Pertama, Luis Enrique datang ke Hungaria dengan modal dua kali masuk final Liga Champions (Barcelona 2014/2015 dan PSG 2024/2025). Keduanya berujung trofi.

Sedangkan Arteta, baru untuk kali pertama mencicipi final Liga Champions sebagai pelatih.

Kedua, selain Real Madrud, tidak ada klub yang bisa juara back to back (beruntun) sejak kompetisi tertinggi sepak bola Eropa ini berganti format menjadi Liga Champions.

Real Madrid melakukan dengan gaya di masa Zinedine Zidane sebagai pelatih dengan jawara Eropa tiga musim beruntun (2015/2016-2017/2018).

Ketiga, Thomas Tuchel dan Josep Guardiola (di masa melatih City) perlu dua kali final untuk menggapai trofi Liga Champions.

Tuchel sudah membawa PSG ke final musim 2019/2020 dengan trio menakutkan Kylian Mbappe, Neymar Jr, dan Lionel Messi. Namun, PSG keok di tangan Bayern Munchen 0-1.

Di musim 2020/2021 Tuchel mengantarkan Chelsea ke final dan berhadapan dengan City racikan Guardiola yang sulit ditaklukkan dengan permainan tiktak yang mengundang decak kagum. Di kesempatan kedua itulah Tuchel meraih trofi Liga Champions.

Adapun Guardiola baru sukses mempersembahkan trofi Champions untuk City juga di kesempatan kedua, musim 2022/2023. Kala itu dengan mengandaskan Inter Milan 1-0. Itulah trofi ketiga Guardiola setelah menghimpun dua trofi bersama Barcelona.

Sebaliknya musim 2025/2026 adalah final pertama buat Mikel Arteta.

Keempat, final di Budapest adalah yang kedua buat Arsenal setelah musim 2005/2006. Arsenal perlu 20 tahun untuk menjejakkan kaki ke final sekali lagi.

Di bagian ini, kita boleh percaya atau tidak, Chelsea membutuhkan dua final untuk juara Eropa. Begitu juga Manchester City. Rekor ini mengabarkan bahwa Arsenal memiliki kemungkinan untuk juara di Budapest.

Kelima, kita harus memasukkan 'rekor' lain. Valencia di pergantian abad sedang mencuri perhatian lewat sentuhan Hector Cuper. Klub ini masuk final musim 1999/2000 dan 2000/2001.

Ingin tahu kisah Valencia? Klub Spanyol itu selalu mentok di final, bertekuk lutut di tangan raksasa Eropa: Madrid dan Munchen.

Hal serupa terjadi pada Atletico Madrid yang merampas perhatian di bawah Diego Simeone. Dua kali masuk final dan mimpinya dikandaskan rival sekota, Real Madrid.

Inter Milan di tangan Simone Inzaghi dua kali masuk final, tapi disikat City dan PSG. Inter berjaya di musim 2009/2020 ketika ditukangi pelatih yang memiliki DNA Champions, Jose Mourinho.

Dengan memasukkan Arsenal dan Arteta ke dalam 'rekor' Liga Champions itu dapat dibilang bahwa Arsenal telah memiliki pengalaman mengarungi babak puncak.

Adapun Arteta sedang debut, jadi tidak punya pengalaman. Inilah sulitnya dan hal itu yang dilawan oleh pelatih asal Spanyol itu.

Bayer Leverkusen pernah masuk final Liga Champions musim 2001/2002. Namun, ia melawan sang gajah, Real Madrid, di partai puncak.

Di final itu Zidane melesakkan gol indah, tendangan voli akrobatik meneruskan umpan lambung Roberto Carlos. Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Madrid.

Sejak itu sejarah mencatat bahwa klub yang baru debut di final Liga Champions sulit untuk jawara.

Valencia, Monaco, Atletico, Chelsea hingga City telah merasakan ganasnya final saat pertama kali bertarung di laga puncak itu.

Ketika Arsenal sanggup meredam PSG hingga 90 menit, sebagian di antara kita bergumam, "agaknya pasukan Arteta bakal mengikuti jejak Chelsea dan City".

Hasutan itu bertambah ketika menyaksikan PSG dipaksa duel adu penalti. Kipernya, David Raya, sedang bagus-bagusnya. Sementara kiper PSG, Matvey Safonov, tak memperlihatkan penyelamatan penting karena cuma ada satu tendangan on target dari Meriam London.

Di musim 2011/2012, Chelsea melawan kemustahilan. Didier Drogba telah frustrasi berat setelah tidak kunjung juara Liga Champions. Ia pernah mencicipi satu final yang berujung getir.

Musim 2007/2008, Chelsea hampir saja juara jika John Terry tidak terjatuh saat mengambil tendangan kelima dalam adu penalti kontra Manchester United.

Final Liga Champions serupa misteri. Kapten Chelse itu malah jatuh, terpeleset sehingga tendangannya gagal berbuah gol. Ujung cerita MU merampas trofi Champions yang telah berjarak satu inchi dengan Chelsea.

Bayang-bayang kegagalan itu lengket di mata Drogba. Ia merasa kesempatan di Munchen 2012 adalah peluang terakhirnya. Secara tak terduga, kalau bukan konyol, ia meminta Juan Mata (pemain anyar Chelsea) untuk membantunya meraih trofi Champions.

Sepak bola kadang lurus, kadang bengkok. Cerita yang ini lurus. Mata pula yang memberi assist kepada Drogba untuk membuat gol penyama ke gawang Munchen.

Gol itu memaksa Munchen yang melakoni final di kandang, masuk babak tambahan 2 x 15 menit. Laga berakhir 1-1 sehingga harus dilanjutkan dengan adu penalti.

Juan Mata gagal bikin gol di babak tos-tosan. Empat penendang lain, termasuk Drogba, membuat empat gol untuk Chelsea.

Petr Cech membuat dua penyelamatan gemilang. Skor akhir via adu penalti, 4-3 untuk Chelsea. Klub London beridentitas biru ini meletakkan namanya sebagai raja Eropa.

Skor adu penalti yang sama terjadi dalam laga PSG vs Arsenal di Puskas Arena. Namun, pecundangnya adalah Arsenal.

Dua tendangan, yakni dari Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes, tidak digagalkan kiper PSG, melainkan melenceng dan melambung dari gawang. Penyelamatan David Raya terhadap tendangan Nuno Mendes menjadi percuma.

Kegagalan Gabriel sebagai penendang kelima mungkin tidak lebih pahit dari adegan John Terry kepeleset di final musim 2007/2008, tapi sama sakitnya.

Klub yang mereka dukung gagal juara. Di final pertamanya itu, Chelsea dapat dibilang 'kalah tua' dan kalah pengalaman dibandingkan MU.

Chelsea sudah mengubur cerita kelam itu dengan kisah sukses musim 2011/2012 dan 2020/2021. Sebaliknya Arsenal terbenam dalam cerita getir, tak serupa dengan final 2005/2006, namun sama-sama melukainya.

Di final 2025/2026, Mikel Arteta dan Arsenal harus mengakui satu hal: Luis Enrique dan PSG lebih 'tua' dan lebih berpengalaman mengelola laga final.

Mereka lebih tenang, matang dan dingin---sejak kecolongan oleh gol Kai Havertz di menit ke enam hingga melakoni adu penalti dengan tekanan mental yang besar.

Lupakan final di Budapest, Hungaria. Terimalah kenyataan pahit itu untuk menjadi pengalaman berharga.

Oh ya, Arteta sudah mengalami tidak enaknya menjadi runner up Liga Premier Inggris selama tiga musim beruntun.

Di kesempatan keempat, Arteta dapat mengelola skuadnya sehingga juara liga Inggris musim 2025/2026. Salah satunya karena tuah sihir kalimat Declan Rice seusai Arsenal keok di tangan City di stadion Etihad, "It's not done".

It's done Mr. Arteta. Namun, esok selalu ada untuk orang sepertimu yang senantiasa menantang hidup.

Tag:  #rahasia #balik #kekalahan #arsenal #liga #champions

KOMENTAR