Studi Cambridge: Mainan AI untuk Anak Justru Bisa Ganggu Perkembangan
Mya (3) bermain dengan mainan AI, Gabbo buatan Curio Interactive(Cambridge University)
10:36
23 Maret 2026

Studi Cambridge: Mainan AI untuk Anak Justru Bisa Ganggu Perkembangan

- Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tak hanya diadopsi untuk layanan digital maupun aplikasi. AI khususnya chatbot berbasis AI, turut melengkapi sejumlah mainan yang ditujukan untuk anak-anak, termasuk anak usia dini (0-6 tahun).

Sayangnya mainan tersebut justru dinilai menghambat pertumbuhan anak, ketimbang membantu pertumbuhannya. Klaim ini didasarkan pada studi yang dilakukan oleh Cambridge University.

Menurut studi itu, mainan anak usia dini yang dilengkapi AI bisa salah menafsirkan isyarat emosional. Selain itu, mainan ini juga dinilai tidak efektif dalam mendukung perkembangan penting anak.

Baca juga: ChatGPT Bakal Hidupkan Barbie dan Hot Wheels Jadi Mainan AI

Lebih spesifik, para peneliti menyebutkan bahwa mainan AI tidak secara efektif mengidentifikasi emosi anak-anak, sehingga menimbulkan kekhawatiran terkait bagaimana interaksi anak dengan mainan tersebut.

Untuk itu, peneliti merekomendasikan orang tua untuk menyimpan mainan AI di ruangan yang mudah dipantau. Selain itu, mereka juga menyarankan agar mainan ini disertai dengan pelabelan yang jelas terkait kemampuan dan kebijakan privasinya.

Studi ini juga menunjukkan adanya dampak positif dari mainan AI, yaitu mendukung pembelajaran, khususnya dalam hal keterampilan bahasa dan komunikasi. Namun, mainan itu juga keliru memahami maksud anak, hingga terkadang memberikan respons yang kurang tepat terkait pemintaan yang emosional.

Contohnya, ketika anak berkata "Aku menyayangimu," mainan AI hanya menjawab "Sebagai pengingat, mohon pastikan interaksi sesuai dengan pedoman yang diberikan. Beri tahu saya bagaimana Anda ingin melanjutkannya."

Jenny Gibson, profesor neurodiversity dan psikologi perkembangan di fakultas Pendidikan Cambridge University yang terlibat dalam studi ini berkata bahwa walaupun orang tua kemungkinan senang dengan manfaat dari segi pendidikan atas mainan AI, dampak yang mengkhawatirkan justru lebih banyak.

Gibson bahkan meragukan tujuan perusahaan pembuat mainan AI bagi anak, selain hanya untuk keuntungan. Di samping itu, dia juga cukup terkejut dengan antusias orang tua terhadap mainan AI, padahal penelitian tentang efek mainan tersebut masih minim.

Ilustrasi boneka Barbie dijual di toko. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa harga mainan seperti Barbie dan Hot Wheels berpotensi mengalami kenaikan akibat kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS). SHUTTERSTOCK/TY LIM Ilustrasi boneka Barbie dijual di toko. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa harga mainan seperti Barbie dan Hot Wheels berpotensi mengalami kenaikan akibat kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS).

Karena itu, walaupun peneliti masih mengeksplorasi potensi manfaat dari maianan berbasis AI, Gibson tetap menegaskan bahwa risikonya tetap ada.

Baca juga: OpenAI Gandeng Produsen Barbie dan Hot Wheels, Siapkan Mainan Berbasis AI

"Saya akan menyarankan orang tua untuk memperhatikan risikonya dengan serius," ujar Gibson.

Profesor di kampus kenamaan Inggris itu juga menyarankan produsen mainan AI seperti Curio Interactive (perusahaan di balik mainan Gabbo) untuk melibatkan anak, orang tua, serta pakar perkembangan anak dalam mengembangkan produknya.

Adapun studi ini melibatkan sejumlah peserta yang terbatas, tetapi dilakukan dalam beberapa bagian, seperti berikut:

  • Survei online terhadap 39 peserta anak usia dini
  • Diskusi dengan sembilan orang yang bekerja bersama anak usia dini
  • Lokakarya dengan 19 orang dan perwakilan dari badan amal yang terkait dengan anak usia dini

Selanjutnya, peneliti juga melakukan sesi bermain yang dipantau, bersama 14 anak dan 11 orang tua atau wali, dengan mainan AI Gabbo dari Curio Interactive, dihimpun KompasTekno dari Cnet.

Tag:  #studi #cambridge #mainan #untuk #anak #justru #bisa #ganggu #perkembangan

KOMENTAR