Alih-alih Makin Produktif, Kebanyakan Pakai AI Malah Bikin Stres
Ilustrasi penggunaan AI berlebihan bikin stres.(Ilustrasi dibuat menggunakan AI. KOMPAS.com/Zulfikar Hardiansyah)
12:36
29 Maret 2026

Alih-alih Makin Produktif, Kebanyakan Pakai AI Malah Bikin Stres

- Berbagai alat Artificial Intelligence (AI) hampir selalu diklaim dapat menyelesaikan pekerjaan secara cepat sehingga meningkatkan produktivitas manusia. Namun, hasil studi terbaru justru menunjukkan kebanyakan menggunakan AI malah bikin stress.

Hasil studi yang dipublikasikan di Harvard Business Review (HBR) itu menyebutkan penggunaan AI berlebihan bakal menimbulkan “AI brain fry”, yaitu kondisi kelelahan mental akibat terlalu sering menggunakan AI hingga melebihi kapasitas kognitif manusia.

Baca juga: Pakar Matematika Kesulitan Pecahkan Soal, Akhirnya Selesai Dibantu AI Claude

Sebelumnya, riset HBR sempat memperkenalkan istilah "AI slop" atau "workslop", campuran antara work (pekerjaan) dan slop (sampah). Istilah yang muncul untuk menggambarkan ledakan konten dangkal yang membebani alur kerja.

Penggunaan AI secara intens bikin stres

Dalam riset terbaru yang bertajuk When Using AI Leads to “Brain Fry”, HBR melakukan survei terhadap sekitar 1.500 pekerja penuh waktu (full time) di Amerika Serikat.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian pekerja yang menggunakan AI secara intens justru mengalami kelelahan mental, kesulitan fokus, hingga pengambilan keputusan yang lebih lambat.

Riset merinci, dari hampir 1.500 pekerja yang disurvei, sekitar 14 persen responden mengaku pernah mengalami kondisi yang disebut “brain fry”. Persentase tertinggi ditemukan di bidang pemasaran/marketing, pengembangan software, SDM (Human Resources), keuangan, dan TI.

Julie Bedard, Managing Director dan Partner di Boston Consulting Group sekaligus penulis studi tersebut, mengatakan temuan ini menjadi peringatan awal bagi perusahaan yang terlalu optimistis terhadap peningkatan produktivitas dari AI.

“AI bisa berkembang sangat cepat, tetapi kita masih memiliki otak yang sama seperti kemarin,” kata Bedard.

Menurut Bedard, temuan ini merupakan "tanda peringatan dini" bahwa ekspektasi seputar produktivitas AI mungkin perlu diatur ulang.

Perusahaan AI menjanjikan bahwa AI dapat meningkatkan produktivitas secara drastis. Terlepas dari benar atau tidaknya hal itu, teknologi ini memungkinkan para pekerja untuk melakukan banyak tugas sekaligus dengan kecepatan dan beban kerja yang jauh melampaui batas kemampuan normal mereka.

Inilah yang tampaknya menjadi bagian dari masalah terkait dampak kognitif pekerja.

Paradoks produktivitas AI

Yang menarik, studi tersebut juga menemukan paradoks bagi pegawai. Di mana AI bisa mengurangi stres sekaligus menambah stress bagi pekerja.

Ketika AI digunakan untuk mengambil alih pekerjaan rutin dan repetitif, tingkat stres pekerja justru menurun. Namun ketika pekerja harus mengawasi banyak tools AI (tiga atau lebih) sekaligus atau berpindah-pindah antar alat AI, tekanan mental meningkat tajam.

Hal ini disebabkan oleh informasi yang terlalu banyak, perpindahan tugas yang cepat, serta kebutuhan untuk terus memeriksa hasil kerja AI.

Banyak pekerja menggambarkan pengalaman brain fry sebagai perasaan seperti “kabut mental” (mental fog) atau kepala terasa penuh seperti banyak tab browser yang terbuka sekaligus.

Baca juga: Saat ChatGPT Menumbangkan Bimbel Online Berusia 20 Tahun…

Dalam beberapa kasus, pekerja bahkan merasa lebih sibuk mengelola alat AI dibanding benar-benar menyelesaikan pekerjaan utama.

Jack Downey, Head of Strategy, Operations and Product di Webster Pass Consulting, mengatakan dari pengalamannya, penggunaan AI sehari-hari juga membawa tekanan mental tambahan.

Ia menjelaskan bahwa bekerja dengan AI sering membuat seseorang harus terus menunggu hasil, berpindah tugas, lalu memeriksa kembali hasil kerja mesin.

“Kadang satu tugas selesai dalam lima detik, yang lain butuh 50 detik, dan yang lain lagi lima menit. Jadi kita terus berganti fokus,” kata Downey.

Menurut dia, penggunaan beberapa AI sekaligus juga membuat banyak orang bekerja dengan beberapa jendela atau alat dalam waktu bersamaan. Inilah yang pada akhirnya memicu kelelahan mental.

Picu kesalahan dan niat resign

Peneliti juga menemukan bahwa pekerja yang mengalami brain fry lebih sering melakukan kesalahan dan mengalami decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan.

Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan berkaitan dengan meningkatnya niat karyawan untuk keluar dari pekerjaan. Studi tersebut mencatat bahwa niat untuk resign meningkat hampir 10 persen pada pekerja yang melaporkan mengalami brain fry.

Selain itu, kelelahan mental akibat penggunaan AI juga meningkatkan decision fatigue hingga 33 persen.

Jika terjadi dalam skala besar di perusahaan, kondisi ini berpotensi berdampak pada produktivitas dan bahkan kerugian finansial perusahaan.

Meski demikian, peneliti menekankan bahwa solusi dari masalah ini bukanlah meninggalkan atau menghentikan penggunaan AI. Sebaliknya, perusahaan perlu mendesain ulang cara kerja dengan AI, bukan sekadar menambahkan AI ke dalam sistem kerja lama.

Potensi AI mungkin tidak terbatas. Pertanyaannya adalah seberapa jauh otak manusia dapat beradaptasi untuk mengimbanginya.

Jadi, menurut Bedard, pelatihan penggunaan AI yang tepat serta strategi manajemen yang jelas dapat membantu mengurangi risiko brain fry, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari CBS News dan Axios.

Riset Harvard Business Review soal When Using AI Leads to “Brain Fry” bisa dibaca selengkapnya lewat link ini.

Baca juga: AI Bikin China Mustahil Bikin HP Murah Lagi

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

Tag:  #alih #alih #makin #produktif #kebanyakan #pakai #malah #bikin #stres

KOMENTAR