Makin Panas, Xi Jinping Siapkan China Hadapi AS lewat AI dan Militer
Presiden AS Donald Trump memulai lawatan lima hari ke Asia dengan agenda padat, termasuk pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan(AFP/NICOLAS ASFOURI)
09:01
5 April 2026

Makin Panas, Xi Jinping Siapkan China Hadapi AS lewat AI dan Militer

 - Konflik geopolitik kian memanas belakangan. Amerika Serikat (AS) mengerahkan kekuatan militernya ke beberapa negara, seperti ke Venezuela dan Iran.

Negeri Paman Sam juga menggunakan ancaman ekonomi lewat tarif impor ke sejumlah negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia. Hal ini membuat China siaga.

Presiden China Xi Jinping dilaporkan telah menyusun rencana jangka panjang untuk menghadapi rivalitas AS.

Xi disebut mengalihkan sumber daya ke kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), komputasi kuantum, dan teknologi strategis lain, sekaligus memperluas kekuatan militer Negeri Tirai Bambu.

Rincian rencana ambisius Xi untuk lima tahun ke depan, disampaikan dalam rapat parlemen nasional di Beijing beberapa waktu lalu, sebagaimana dilaporkan New York Times.

Rencana ini mencerminkan bahwa menurut Xi, persaingan dengan AS pada akhirnya akan ditentukan oleh inovasi teknologi, yang mendorong kekuatan ekonomi, militer, dan budaya.

Baca juga: “Matahari Buatan” China Tembus Batas yang Selama Ini Dianggap Mustahil

China pun semakin getol mengembangkan inovasi teknologi, termasuk dalam bio-manufaktur, energi hidrogen dan fusi, antarmuka otak-komputer, kecerdasan terwujud (embodied intelligence), serta jaringan seluler 6G.

"Di tengah persaingan internasional yang sengit, kita harus memenangkan inisiatif strategis," demikian bunyi rencana tersebut.

Pemblokiran jadi titik balik

Seperti diketahui, dalam beberapa tahun terakhir, AS kerap memblokir teknologi China. Semua sektor, termasuk swasta, mendapat pembatasan ketat untuk menggunakan teknologi China.

Misalnya saja ketika pemerintahan Presiden Joe Biden, yang pada tahun 2023 lalu membatasi Nvidia untuk menjual chip canggihnya ke China.

Chip yang dimaksud seperti kartu grafis (GPU) H200 yang digunakan untuk pengembangan AI.
Biden beralasan bahwa menjual teknologi AS ke China, akan mengancam keamanan nasional AS dan membuat China unggul dalam kompetisi AI.

Ilustrasi GPU AI Nvidia H200.Nvidia Ilustrasi GPU AI Nvidia H200.

Tahun 2025, pembatasan itu dianulir Trump, yang mengizinkan Nvidia menjual chip AI canggihnya lagi ke China.

Baca juga: Mengapa China Tak Terobsesi Bikin AI Paling Pintar?

Terbaru, Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) juga melarang router terbaru buatan asing mulai Januari 2026.

Meski tidak disebut negara mana yang dimaksud, banyak analis menduga bahwa target utamanya adalah membendung perangkat keras asal China.

Perusahaan teknologi China, seperti Huawei dan ZTE juga pernah jadi sasaran. Keduanya masuk ke daftar hitam (entity list), yang artinya, keduanya dilarang menjual produk maupun mendapatkan komponen dari perusahaan asal AS.

Hingga kini, Huawei masih diblokir. Hal itu membuat sejumlah produk Huawei tidak bisa menggunakan teknologi AS.

Di smartphone misalnya. Seluruh HP Huawei, termasuk yang dijual di Indonesia, tidak dibekali sistem operasi (OS) Android buatan Google. Huawei pun membangun OS-nya sendiri, yakni HarmonyOS.

Dengan rentetan pemblokiran dari tahun ke tahun, pemerintah China memandang kemandirian negara sebagai hal mendesak.

Oktober lalu, Xi mengatakan bahwa China harus memanfaatkan peluang ini untuk memaksimalkan keunggulan mereka.

Xi mencoba memperkuat strategi agar ekonomi dan militer China tidak rentan terhadap pemutusan semikonduktor canggih dan teknologi penting lain dari Barat.

"Para pemimpin China berpandangan bahwa Washington akan terus berupaya membatasi perkembangan teknologi China," kata Gerard DiPippo, analis senior sekaligus Associate Director lembaga riset RAND China Research Center.

Xi juga akan meningkatkan keunggulannya dalam logam tanah jarang, yang ekspornya sempat dibatasi Beijing sebagai respons terhadap tarif AS. Pembatasan ini urung dilakukan karena keduanya menghentikan langkah balasan tarif impor.

Baca juga: Ketika Teknologi Zuchongzhi-3 China Ubah Persaingan Chip Kuantum Global...

Menurut Daniel R. Russel, Mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik, serangan AS-Israel ke Iran akhir Februari lalu, serta intervensi AS di Venezuela yang berujung penangkapan Presiden Nicolas Maduro demi mengambilalih minyak, menjadi alarm bagi Beijing.

Para pemimpin disebut meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap Trump.

"Trump mungkin mengira ia sedang menunjukkan kekuatan militer untuk mengintimidasi Beijing. Namun, tindakannya di Venezuela dan Iran, justru kemungkinan besar akan mendorong Beijing memperkuat kemampuan untuk melawan AS, dan mempererat hubungan dengan Rusia," kata Russel.

Meningkatkan anggaran militer

Tentara Pembebasan Rakyat China membawa bendera negara saat peringatan 75 tahun kemenangan Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II, di Moskwa pada 24 Juni 2020.
AFP/PAVEL GOLOVKIN Tentara Pembebasan Rakyat China membawa bendera negara saat peringatan 75 tahun kemenangan Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II, di Moskwa pada 24 Juni 2020.

Xi juga berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan angkatan bersenjata Tentara Pembebasan Rakyat (TKR).

China juga akan meningkatkan anggaran militer sebesar 7 persen tahun ini, dibanding tahun sebelumnya, menjadi sekitar 277 miliar dollar AS (sekitar Rp 4.710 triliun).

Kendati demikian, Xi menekankan bahwa kemenangan jangka panjang bukan soal besarnya anggaran, melainkan kemampuan China mendominasi industri di masa depan.

Rencana ini menargetkan terobosan teknologi, termasuk pengembangan obat-obatan, penambangan laut dalam, serta riset energi fusi.

Menurut Kyle Chan dari Brookings Institution, pemerintah China juga yakin mereka bisa melampaui AS di bidang AI, robotika, komputasi kuantum, dan 6G.

Baca juga: China Uji Coba Internet Ultra-Fast dengan Kecepatan 300 Gbps, Disiapkan untuk 6G?

Meski Xi menetapkan visinya secara nasional, biasanya implementasinya sering dilakukan di tingkat daerah. Walhasil, akan muncul lonjakan produksi yang berpotensi meluber ke luar negeri.

"Jika kebijakan industri dijalankan dengan koordinasi yang minim di tingkat lokal, kelebihan kapasitas akan terus terjadi," kata Zongyuan Zoe Liu dari Council on Foreign Relations.

"Ini berarti produsen China akan terus mencari pembeli di seluruh dunia, dengan taktik kombinasi ekspor dan pemindahan kapasitas produksi ke luar negeri," imbuh Liu dikutip KompasTekno dari New York Times.

Tag:  #makin #panas #jinping #siapkan #china #hadapi #lewat #militer

KOMENTAR