CEO Nvidia Peringatkan AS soal Ancaman AI China
Ilustrasi perang chip AS-China.(Reuters)
14:06
21 April 2026

CEO Nvidia Peringatkan AS soal Ancaman AI China

- CEO Nvidia Jensen Huang memperingatkan potensi ancaman serius terhadap dominasi Amerika Serikat (AS) di bidang teknologi kecerdasan buatan (AI). 

Peringatan ini muncul seiring perkembangan teknologi AI dari perusahaan China yang dinilai semakin mandiri, bahkan kemungkinan tidak lagi bergantung pada teknologi buatan AS. 

Dalam sebuah wawancara di siniar Dwarkesh Podcast baru-baru ini, Huang menyoroti perkembangan model AI terbaru dari perusahaan China, DeepSeek, yang dinilai berpotensi mengubah arah persaingan industri AI global. 

Model AI bernama DeepSeek V4 tersebut digadang-gadang akan berjalan mengunakan chip Ascend buatan Huawei, bukan lagi chip Nvidia yang selama ini banyak digunakan dalam pengembangan AI.

Baca juga: 10 Layanan AI Generatif Terpopuler di Dunia, dari ChatGPT hingga DeepSeek

Meski terdapat indikasi bahwa model ini masih akan menggunakan arsitektur Blackwell terbaru dari Nvidia, Huang menyebut dampaknya tetap bisa menjadi "hasil yang buruk" bagi Amerika. 

"Hari ketika DeepSeek pertama kali berjalan di atas teknologi Huawei, itu akan menjadi hasil yang buruk bagi negara kami (AS)," ujar Huang. 

Logo aplikasi AI asal China, DeepSeek.Dok. DeepSeek Logo aplikasi AI asal China, DeepSeek.

Ia menambahkan, jika model AI global mulai dikembangkan dan berjalan optimal di atas teknologi non-AS, hal ini berpotensi melemahkan dominasi Amerika dalam ekosistem AI. 

"Bayangkan jika model tersebut dioptimalkan untuk Huawei dan arsitektur mereka. Itu akan menempatkan kita (Amerika) pada posisi yang tidak menguntungkan," imbuhnya. 

Di sisi lain, Huang juga menekankan bahwa kemajuan AI tidak hanya ditentukan oleh kekuatan perangkat keras, tetapi juga inovasi pada aspek perangkat lunak dan algoritma.  

Baca juga: Cisco dan Nvidia Hadirkan Solusi AI Siap Pakai yang Aman dan Mudah

Ancaman terhadap dominasi teknologi AS

Selama ini, banyak sistem AI di dunia bergantung pada chip buatan perusahaan AS, terutama Nvidia. Artinya, AS memiliki posisi penting dalam mendominasi perkembangan teknologi AI global. 

Namun, jika perusahaan China mulai bisa mengembangkan AI canggih dengan teknologi buatan mereka sendiri seperti yang disebutkan Huang, ketergantungan tersebut bisa berkurang.

Apabila ketergantungan berkurang, posisi AS sebagai pemimpin di bidang AI juga berpotensi melemah. Hal ini sekaligus membuka peluang bagi negara lain, termasuk China, untuk mengambil peran lebih besar dan menggeser dominasi AS. 

Huang sendiri menilai bahwa pemerintah AS sebaiknya menerapkan kebijakan yang lebih seimbang terkait pembatasan ekspor teknologi ke China. 

Menurut dia, kebijakan yang terlalu ketat justru berisiko mendorong perusahaan China mengembangkan alternatif sendiri, yang pada akhirnya dapat merugikan industri AI di AS. 

"Kenapa AS tidak membuat regulasi yang lebih seimbang agar Nvidia bisa menang secara global, bukannya justru menyerahkan pasar dunia? Kenapa AS ingin melepaskan sebagian besar pasar global?" tutur Huang.

Baca juga: Xi Jinping Susun Strategi Hadapi AS dengan AI dan Militer

China pakai cara berbeda

Meski saat ini chip buatan Huawei masih dianggap sedikit tertinggal dan belum sekuat produk AS, China menggunakan pendekatan yang berbeda. 

Alih-alih mengandalkan satu chip paling canggih, perusahaan di sana menggabungkan banyak chip sekaligus serta meningkatkan efisiensi perangkat lunak. 

Teknik seperti Mixture-of-Experts juga digunakan untuk mengoptimalkan performa tanpa harus bergantung pada perangkat keras terbaik. 

Selain itu, perusahaan di China juga didukung oleh jumlah tenaga ahli AI yang besar dan biaya energi yang relatif lebih murah.

Kondisi ini memungkinkan perusahaan menjalankan sistem komputasi dalam skala besar. Dengan kata lain, meski menggunakan chip yang tidak sekuat buatan AS, hasil yang dicapai tetap kompetitif. 

Baca juga: Bos Chip AI AS Ketahuan Selundupkan Nvidia ke China, Nilainya Rp 40 Triliun

Persaingan China-AS makin memanas

Ilustrasi perang dagang AS-China.SHUTTERSTOCK Ilustrasi perang dagang AS-China.

Di sisi lain, persaingan teknologi antara AS dan China juga semakin memanas, terutama setelah para pembuat kebijakan di AS mendorong pembatasan yang lebih ketat terhadap perusahaan AI asal China.

Namun, di saat yang sama, sejumlah kebijakan terkait pasokan chip juga menunjukkan adanya pelonggaran di beberapa aspek.

Situasi ini dinilai menciptakan sinyal kebijakan yang tidak sepenuhnya konsisten dalam mengatur hubungan teknologi antar kedua negara.

Adapun situasi tersebut juga membuat persaingan di bidang AI tidak lagi hanya soal kekuatan perangkat keras, tetapi bergeser ke perangkat lunak, efisiensi, serta kontrol ekosistem.

Jika nantinya DeepSeek berhasil mengembangkan model AI yang sepenuhnya berjalan di atas  chip Huawei, hal ini diyakini bisa menjadi titik balik dalam industri AI global, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Gizmo China. 

Tag:  #nvidia #peringatkan #soal #ancaman #china

KOMENTAR