Induk Facebook ''Sedot'' Energi Matahari Langsung dari Antariksa ke Bumi
Ilustrasi Bumi dan satelit yang terpapar energi matahari.(TechCrunch)
09:12
29 April 2026

Induk Facebook ''Sedot'' Energi Matahari Langsung dari Antariksa ke Bumi

- Kebutuhan listrik untuk menjalankan kecerdasan buatan (AI) mendorong banyak perusahaan teknologi mencari sumber energi baru yang tak biasa.

Salah satunya adalah Meta, induk Facebook, WhatsApp, dan Instagram, yang kini menjajaki cara lain untuk memenuhi kebutuhan energi AI.

Salah satu cara yang sedang digodok adalah dengan "menyedot" energi matahari langsung dari antariksa untuk mendukung operasional AI.

Meta akan menggunakan listrik yang berasal dari energi matahari yang dikirim dari satelit khusus di luar angkasa ke Bumi.

Langkah ini dilakukan melalui kerja sama dengan startup asal Amerika Serikat (AS), Overview Energy.

Baca juga: “Matahari Buatan” China Tembus Batas yang Selama Ini Dianggap Mustahil

Perusahaan ini mengembangkan sistem satelit yang dapat menangkap energi matahari di luar angkasa, lalu mengubahnya dan memancarkannya ke Bumi.

Konsep ini bukan sekadar memantulkan cahaya seperti cermin, melainkan mengonversi energi matahari menjadi bentuk lain agar bisa ditransmisikan dari jarak jauh.

Pemakaian satelit ini menjadi solusi atas keterbatasan panel surya atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Bumi.

Sebab, panel surya umumnya hanya memiliki efisiensi sekitar 15–22 persen dan kapasitas produksi nyata (capacity factor) di kisaran 10–25 persen.

Hal ini karena listrik hanya dihasilkan optimal saat siang hari, menurun saat cuaca mendung, dan berhenti total di malam hari.

Untuk menjaga pasokan listrik, operator biasanya harus menambahkan baterai atau mengandalkan sumber energi lain, termasuk pembangkit berbasis fosil.

Dengan sistem satelit dari Overview Energy, pasokan energi matahari bisa tetap tersedia meski malam hari.

Baca juga: Meta Dijegal China, Akuisisi Manus AI Diminta Batal

Pakai sinar inframerah

Nah, supaya dapat mengirimkan energi matahari tersebut, Overview Energy menggunakan pendekatan cahaya inframerah berintensitas rendah.

Energi matahari yang ditangkap satelit nantinya akan diubah menjadi sinar inframerah, lalu diarahkan ke PLTS di Bumi.

Panel surya kemudian menangkap cahaya tersebut dan mengubahnya menjadi listrik kapan pun, termasuk di malam hari, mirip seperti menerima sinar matahari pada pagi, siang, atau sore hari.

Satelit Overview Energy sendiri dirancang untuk menangkap energi matahari secara hampir kontinu, karena di luar angkasa tidak terpengaruh siklus siang dan malam seperti di Bumi.

Energi ini kemudian dikirim ke Bumi saat dibutuhkan, sehingga pusat data AI yang beroperasi tanpa henti tetap mendapatkan pasokan listrik stabil, seolah-olah berada dalam kondisi siang hari.

Konsep ini bisa dibilang cukup menarik. Sebab, jika berhasil diterapkan dalam skala besar, pendekatan ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada baterai dan energi fosil.

Baca juga: Meta PHK 8.000 Karyawan, Imbas Belanja AI Naik Drastis

Meta butuh listrik besar

Ilustrasi Meta, induk dari Facebook, Instagram, Threads, dan WhatsAppNOYB Ilustrasi Meta, induk dari Facebook, Instagram, Threads, dan WhatsApp

Meta sendiri tampaknya butuh teknologi seperti ini lantaran kebutuhan listrik mereka dinilai cukup besar. 

Pada 2024 saja, pusat data Meta disebut mengonsumsi lebih dari 18.000 gigawatt-jam listrik, setara kebutuhan sekitar 1,7 juta rumah di AS selama setahun.

Angka ini diperkirakan terus meningkat seiring pengembangan model AI yang semakin kompleks.

Supaya dapat pasokan listrik cukup di masa depan, Meta telah berkomitmen membangun hingga 30 gigawatt kapasitas energi terbarukan, terutama dari pembangkit surya skala industri.

Salah satu komitmennya adalah memesan kapasitas hingga 1 gigawatt listrik dari Overview Energy tadi, meski detail kerja sama belum diungkap secara rinci.

Baca juga: Uang Iklan 25.000 Triliun Disedot Meta, YouTube, dan TikTok

Adapun Overview Energy sendiri menargetkan peluncuran satelit uji coba pada 2028 untuk mendemonstrasikan transmisi energi dari orbit rendah Bumi.

Selanjutnya, perusahaan asal Virginia, AS itu berencana membangun konstelasi hingga sekitar 1.000 satelit di orbit geostasioner mulai 2030 mendatang.

Satelit-satelit ini diproyeksikan mampu menjangkau sekitar sepertiga wilayah Bumi, dari Pantai Barat Amerika Serikat hingga Eropa Barat pada tahap awal, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari TechCrunch.

Meski masih dalam tahap rencana dan belum terbukti dalam skala besar, teknologi ini agaknya akan mulai dilirik sebagai solusi energi masa depan, terutama di tengah lonjakan kebutuhan listrik untuk AI.

Tag:  #induk #facebook #sedot #energi #matahari #langsung #dari #antariksa #bumi

KOMENTAR