Ini 5 Port Charger HP Paling Aneh yang Pernah Ada
- Sekarang, meminjam charger HP terasa sederhana jika dibandingkan zaman dulu. Soalnya, selama sama-sama memakai USB Type-C, kabel apa pun biasanya langsung cocok dipakai di berbagai merek HP.
Namun situasinya jauh berbeda pada era awal 2000-an hingga awal Android ada. Dua dekade yang lalu, hampir setiap merek HP punya port charging sendiri-sendiri, lengkap dengan bentuk aneh dan kabel khususnya (proprietary).
Ini dikarenakan belum adanya standar universal seperti USB-C sekarang. Alhasil, produsen berlomba-lomba membuat konektor versinya sendiri, kadang unik, kadang malah
"nyeleneh".
Baca juga: Jangan Malas Cabut Charger dari Stop Kontak, Ini Risikonya
Ada yang gampang rusak, ada yang harus diikat karet supaya tetap ngecas, sampai ada yang terlihat seperti gabungan dua port jadi satu.
Ini dia 5 port charging HP jadul paling aneh yang pernah dipakai sebelum era USB-C, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari SlashGear.
1. Siemens Slim-Lumberg
Port Siemens Slim-Lumberg.
Kalau Gen Milenial atau yang lebih tua pernah memakai HP Siemens awal 2000-an (atau Gen Z yang pernah melihat HP Siemens orang tua kalian), kemungkinan besar pernah melihat port bernama Slim-Lumberg ini.
Port 12-pin ini dipakai untuk charging, transfer data, sekaligus audio stereo dalam satu konektor tipis memanjang. Desainnya disebut terlalu tipis dan melebar keluar dari bodi HP.
Problem utamanya ada pada desain port yang memakai sistem Surface-Mount Device (SMD). Berbeda dari konektor yang memakai pin logam tertanam dalam motherboard, port SMD hanya disolder di permukaan papan sirkuit.
Akibatnya, colokan Slim-Lumberg yang lebar tadi bekerja seperti tuas. Saat terkena tekanan, gaya dorongnya bisa mengangkat jalur solder kecil dari motherboard dan membuat koneksi rusak total.
2. Sony Ericsson FastPort
Tmapilan Sony Ericsson FastPort.
Vendor HP Sony Ericsson pernah mencoba membuat satu port untuk semuanya lewat FastPort.
Port yang dikenalkan sekitar tahun 2005 ini dipakai untuk ngecas, transfer file, sekaligus headset. Secara konsep sebenarnya menarik, tetapi implementasinya bikin frustasi.
Berbeda dari kabel modern yang masuk cukup dalam ke port, FastPort justru hanya menempel rata di sisi bawah HP. Koneksinya mengandalkan dua kait plastik kecil di colokan kabel yang mengunci ke lubang kecil di bodi perangkat agar koneksi 12-pin tetap terpasang.
Baca juga: Setelah 11 Tahun, Colokan iPhone Lightning Akhirnya Pensiun
Sayangnya, kait plastik ini terkenal rapuh. Banyak pengguna zaman dulu mengaku kait tersebut sering patah hanya dalam beberapa bulan pemakaian.
Begitu kait rusak, kabel jadi longgar dan gampang copot sendiri karena tidak ada lagi tekanan yang menjaga koneksi tetap stabil.
Alhasil, banyak pengguna yang memutar otak demi tetap bisa ngecas. Di berbagai forum internet lama, ada pengguna yang mengaku harus mengikat HP dan charger memakai karet gelang atau ikat rambut supaya pin konektornya tetap menempel dan charging tidak putus-putus.
3. Samsung USB 3.0 Micro-B
Tampilan Samsung Galaxy Note 3 dengan port USB 3.0 Micro-B.
Samsung ternyata juga sempat bikin lubang casan yang aneh lewat Galaxy Note 3 dan Galaxy S5. Kedua HP ini hadir dengan USB 3.0 Micro-B.
Bentuknya terkenal aneh karena terlihat seperti dua port Micro-USB yang digabung jadi satu. Desain ini sebenarnya dibuat untuk mendukung kecepatan transfer data USB 3.0 yang lebih tinggi. Namun tampilannya dianggap terlalu besar dan kurang cocok di smartphone.
Lucunya, port ini sebenarnya masih kompatibel dengan kabel Micro-USB biasa. Pengguna cukup mencolokkan kabel ke sisi kanan port. Namun, banyak pengguna tidak sadar soal kompatibilitas itu karena desain port-nya terlihat membingungkan.
Samsung akhirnya meninggalkan eksperimen ini dan kembali memakai port standar di generasi berikutnya.
4. HTC ExtUSB
Port HTC ExtUSB (Extender USB) bisa mengirim audio, file, sekaligus daya dalam satu konektor.
Port aneh lainnya ada ExtUSB (Extended USB) yang dipakai di salah satu HP Android pertama di dunia, HTC Dream atau HTC G1.
Port ExtUSB ini sebenarnya bisa mengirim audio, file, sekaligus daya dalam satu konektor. HTC melakukannya dengan menyembunyikan pin tambahan khusus di sudut port yang desainnya sedikit dimodifikasi dari Mini-USB biasa.
Di sisi lain, HTC Dream tidak memiliki jack audio 3,5 mm standar. Artinya, satu-satunya cara mendengarkan musik atau memakai headset kabel adalah lewat pin audio tersembunyi tadi.
Akibatnya, meski pengguna masih bisa memakai charger Mini-USB biasa, mereka tetap dipaksa membeli adaptor ExtUSB khusus HTC kalau ingin mencolokkan earphone normal.
5. Nokia Pop-Port
Tampilan Nokia Pop-Port.
Pada era 2000-an, Nokia memang menjadi raja HP dunia. Perusahaan yang membuat HP legendaris Nokia 3310 dkk ini juga sempat punya port charging yang cukup merepotkan bernama Pop-Port.
Diperkenalkan sekitar 2002, konektor khusus buatan Nokia ini dipakai untuk banyak hal sekaligus, mulai dari charging, sinkronisasi data USB, antena radio FM, hingga headset stereo.
Masalahnya ada pada desain fisiknya yang tergolong rapuh. Berbeda dari port modern yang masuk cukup dalam ke bodi perangkat, Pop-Port hanya menempel dangkal di bagian bawah HP.
Baca juga: Apa Beda Konektor Micro USB dan USB Type C?
Konektornya memakai tab plastik panjang dengan 14 pin yang bersentuhan langsung dengan kontak terbuka di bodi perangkat. Koneksi ini cuma ditahan klip plastik kecil dan mekanisme pengait sederhana yang lama-lama gampang longgar.
Karena posisi pin sangat terbuka dan koneksinya dangkal, Pop-Port jadi sangat sensitif terhadap debu atau gangguan kecil lainnya. Sedikit serat kain dari saku celana atau debu kecil saja bisa langsung memutus koneksi.
Bahkan saat pengguna mendengarkan musik sambil memasukkan HP ke saku, gerakan kaki saat berjalan kadang cukup untuk membuat koneksi headset terputus-putus dan musik otomatis pause sendiri.
Kini, era port charging aneh seperti ini perlahan hilang setelah USB-C menjadi standar global. Hampir semua Android, bahkan iPhone terbaru, kini sudah kompak memakai konektor yang sama.