Paus Leo XIV Khawatir AI Bisa Bikin Manusia Kehilangan Pekerjaan
Paus Leo XIV melambaikan tangan kepada para jemaat saat audiensi mingguan di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, 18 Februari 2026.(AFP/FILIPPO MONTEFORTE)
08:03
26 Mei 2026

Paus Leo XIV Khawatir AI Bisa Bikin Manusia Kehilangan Pekerjaan

- Paus Pope Leo XIV memperingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi mengorbankan pekerjaan manusia apabila teknologi digunakan semata-mata demi mengejar keuntungan perusahaan.

Peringatan tersebut disampaikan Paus Leo XIV dalam ensiklik terbaru Vatikan bertajuk Magnifica Humanitas yang dirilis Senin (25/5/2026).

Dokumen sepanjang lebih dari 42.000 kata itu membahas dampak AI terhadap manusia, pekerjaan, hingga stabilitas sosial global.

Teknologi jangan menggantikan manusia

Dalam surat terbuka tersebut, Paus menegaskan bahwa teknologi seharusnya membantu manusia, bukan justru menggantikan atau menghapus peran manusia dalam masyarakat.

“Pengejaran keuntungan yang lebih besar tidak dapat membenarkan keputusan yang secara sistematis mengorbankan pekerjaan,” tulis Paus Leo XIV.

Ia juga memperingatkan bahwa masyarakat modern berisiko mengalami “kemunduran kemanusiaan” apabila perkembangan teknologi tidak dibarengi perlindungan terhadap manusia.

Baca juga: Paus Leo XIV Khawatir Dampak AI pada Kehidupan Manusia

“Sebuah masyarakat yang hanya menjamin pekerjaan bagi sebagian kecil populasi, meski memiliki tingkat perkembangan teknologi yang tinggi, berisiko membuat banyak orang terjebak dalam ketidakaktifan secara paksa,” tulis Paus.

Menurut Paus Leo XIV, kondisi tersebut dapat memicu paradoks antara kemajuan teknologi dan kemunduran sosial.

“Ini menciptakan paradoks kemajuan material dan kemunduran antropologis yang merusak fondasi perdamaian sosial yang adil dan stabil,” lanjutnya.

Minta pemerintah atur perusahaan AI

Selain menyoroti ancaman terhadap pekerjaan, Paus Leo XIV juga meminta pemerintah lebih aktif mengatur perusahaan teknologi pengembang AI.

Ia menyerukan perlindungan bagi pekerja yang terdampak otomatisasi, program pelatihan ulang tenaga kerja, hingga pendidikan yang membantu masyarakat berpikir kritis terhadap AI.

Vatikan juga menyoroti bahaya konten AI terhadap anak-anak, termasuk penyebaran informasi palsu, konten kekerasan, dan materi hiperseksual yang dihasilkan AI.

Dalam dokumen tersebut, Paus turut meminta agar penggunaan senjata berbasis AI tetap berada di bawah kendali manusia.

Robot humanoid F.03 milik Figure AI mengikuti kompetisi ?Man vs. Machine? melawan manusia dalam tantangan sortir paket selama 10 jam nonstop.X @CernBasher Robot humanoid F.03 milik Figure AI mengikuti kompetisi ?Man vs. Machine? melawan manusia dalam tantangan sortir paket selama 10 jam nonstop.

Menurutnya, meningkatnya penggunaan sistem senjata otonom dapat membuat perang menjadi lebih mudah dilakukan dan semakin sulit dikendalikan manusia.

Didukung bos Anthropic

Peluncuran ensiklik tersebut juga dihadiri Christopher Olah, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic.

Olah mengatakan perusahaan AI memang membutuhkan panduan moral agar tidak hanya mengikuti tekanan bisnis dan keuntungan semata.

“Kami membutuhkan suara moral yang tidak bisa dibelokkan oleh insentif bisnis,” kata Olah.

Menurut dia, dialog antara pengembang teknologi dan pemimpin moral menjadi penting di tengah perkembangan AI yang sangat cepat.

Baca juga: Bos Meta Bilang AI Tak Gantikan Manusia, Sekarang Pecat 8.000 Karyawan

“Ini baru permulaan, awal dari kolaborasi panjang antara mereka yang membangun teknologi ini dan mereka yang bisa melihat hal-hal yang tidak kami lihat dari dalam,” ujar Olah.

Industri AI perlu tekanan moral

Direktur Etika Teknologi di Santa Clara University, Brian Patrick Green, menilai dokumen Vatikan tersebut bisa memberi tekanan moral bagi industri AI global.

Menurut Green, perusahaan teknologi kemungkinan tidak bisa sepenuhnya mengabaikan pesan Paus karena AI kini telah memengaruhi masyarakat secara luas.

“Dokumen ini memberi semacam keharusan moral bagi perusahaan teknologi,” kata Green dikutip KompasTekno dari The New York Times.

Sementara itu, profesor teknologi dan etika dari St. John's School of Theology and Seminary, Noreen Herzfeld, mengatakan ensiklik tersebut kemungkinan besar akan menjadi rujukan penting di lingkungan gereja dan pendidikan.

Menurut Herzfeld, para pastor dan pengajar nantinya dapat menggunakan dokumen itu untuk membantu masyarakat memahami tekanan sosial akibat perkembangan teknologi modern, termasuk AI.

Tag:  #paus #khawatir #bisa #bikin #manusia #kehilangan #pekerjaan

KOMENTAR