AI Picu PHK, tapi Bos Nvidia Yakin Jadi Peluang buat Generasi Muda
- Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dipicu Artificial Intelligence (AI) tengah menjadi tren di industri teknologi.
Beberapa perusahaan seperti King, pengembang game Candy Crush, terang-terangan mengaku mengganti pekerja manusia dengan AI. Kemudian, Meta (perusahaan induk Facebook) memangkas ribuan karyawan dan meningkatkan belanja infrastruktur AI.
Di tengah tren ini, optimisme terhadap AI datang dari CEO Nvidia, Jensen Huang. Di depan lulusan baru perguruan tinggi, dia menyampaikan dengan yakin bahwa AI bisa menjadi peluang bagi generasi muda.
Baca juga: Nvidia Dulu Kuasai China 90 Persen Kini Jadi Nol, Ini Penyebabnya
Optimis AI buka peluang bagi generasi muda
Saat memberikan pidato wisuda di Carnegie Mellon University pada pekan lalu, miliarder teknologi itu secara lantang menyatakan bahwa saat ini adalah waktu terbaik sepanjang sejarah bagi para lulusan baru (fresh graduate) untuk memulai karier mereka.
"Sekarang adalah waktunya bagi Anda untuk mewujudkan impian Anda, dan momentumnya tidak mungkin lebih sempurna dari ini," ujar Huang di hadapan para wisudawan.
Menurut Huang, kehadiran AI justru bertindak sebagai jembatan yang menutup "kesenjangan teknologi".
Kini, siapa pun memiliki akses dan kemampuan untuk membangun sesuatu yang bermanfaat, yang pada akhirnya akan membuka peluang baru bagi generasi muda di tahun-tahun mendatang.
Pernyataan optimis ini seakan merefleksikan perjalanan hidupnya sendiri. Pria berusia 61 tahun yang kini mengantongi kekayaan bersih sekitar 186 miliar dollar AS (sekitar Rp 3,1 triliun) itu dulunya juga memulai segalanya dari nol.
Ia lulus dari Oregon State University dengan gelar sarjana teknik elektro pada tahun 1984, lalu meraih gelar master di bidang yang sama dari Stanford University.
Huang kemudian mendirikan Nvidia pada tahun 1993, tepat ketika revolusi internet baru saja dimulai. Ia seolah melihat bahwa lulusan saat ini sedang berada di ambang revolusi besar yang sama.
Realitas yang bertolak belakang
Kendati demikian, optimisme bos Nvidia ini memang sangat bertolak belakang dengan kecemasan publik yang kian memuncak terhadap AI.
Kecemasan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan studi Pew Research Center, sekitar separuh dari masyarakat Amerika Serikat merasa "lebih khawatir daripada bersemangat" melihat makin maraknya penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Banyak warga AS bahkan kini secara aktif menolak pembangunan data center baru di lingkungan mereka, padahal fasilitas tersebut adalah urat nadi penyokong produk AI seperti chatbot.
Baca juga: Keponakan CEO Nvidia Bilang Harga GPU Terancam Naik Lagi
Di dunia kerja, dampaknya jauh lebih terasa. Setidaknya belasan perusahaan besar, termasuk Cloudflare dan Snap, secara terang-terangan menyebut peningkatan efisiensi berkat AI sebagai salah satu alasan utama mereka melakukan PHK terhadap ribuan karyawan tahun ini.
Bagi para lulusan baru, AI juga membuat proses mencari kerja menjadi semakin sulit. Proses wawancara menjadi lebih panjang dan rumit.
Puncaknya, tingkat pengangguran untuk lulusan baru tercatat telah menyentuh rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir pada awal tahun 2026 ini.
Sentil para CEO
Yang menarik, ketakutan publik terhadap AI justru sering kali dipicu oleh para pencipta teknologi itu sendiri. Tahun lalu, CEO Anthropic, Dario Amodei, memperingatkan bahwa AI bisa memusnahkan 50 persen pekerjaan tingkat pemula bagi para pekerja kerah putih.
Lebih ekstrem lagi, Elon Musk pada bulan Februari lalu mengeklaim bahwa umat manusia menghadapi "20 persen kemungkinan pemusnahan" akibat AI.
Sentimen negatif dari publik yang terus dipupuk ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi pemilihan umum paruh waktu di AS mendatang, di mana wacana regulasi terhadap AI kemungkinan akan menjadi topik perdebatan panas.
Merespons prediksi-prediksi suram tersebut, Huang secara terbuka menyentil rekan-rekan sesama CEO-nya.
Dalam podcast Memos to the President awal bulan ini, ia menekankan bahwa para pemimpin perusahaan AI harus lebih "berhati-hati" dalam berbicara mengenai teknologi tersebut.
"Komentar-komentar semacam itu (prediksi kiamat AI) sama sekali tidak membantu," tegas Huang dalam podcast tersebut. "Komentar itu dilontarkan oleh orang-orang yang sama seperti saya, para CEO. Entah bagaimana, karena mereka menjadi CEO, Anda lantas mengadopsi God complex (merasa seperti Tuhan) dan, sebelum Anda menyadarinya, Anda merasa tahu segalanya."
"Saya pikir kita harus lebih berhati-hati dan benar-benar membumikan diri kita untuk hanya berbicara berdasarkan fakta," tambahnya.
Baca juga: Amerika Melunak, 10 Perusahaan China Boleh Pakai Chip AI Nvidia H200
Menutup pidatonya di Carnegie Mellon, Huang meninggalkan sebuah pesan yang sederhana tapi menohok bagi para lulusan baru yang sedang cemas menatap kerasnya pasar tenaga kerja.
"AI kemungkinan besar tidak akan menggantikan (pekerjaan) Anda. Tetapi seseorang yang menggunakan AI lebih baik dari Anda, bisa jadi akan menggantikan Anda," pungkas Huang, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Business Insider.
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.
Tag: #picu #tapi #nvidia #yakin #jadi #peluang #buat #generasi #muda